Minggu, 09 Agustus 2015

MENGENAL SUMBA

PULAU SUMBA
Sebelumnya ijinkan saya mengawali tulisan ini dengan pekik an Sumba!
"Huyeeee! Ghuuuuuu!" ‪#‎diteriakan‬ dengan nada semangat kawan smile emoticon
Sebelum datang ke pulau ini, seperti yang lain saya berfikir ini adalah Sumbawa atau setidak2 nya Flores dengan alat musik Sasando terkenalnya itu. Ternyata bukan kawan dan ini adalah pulau Sumba, sekalipun masih dalam jajaran kepulauan NTT, disini sangat berbeda. Yang sangat menonjol disini adalah Budaya Marapu, terhitung sebagai budaya Megalitikum setua dengan budaya batu2 kuno Salisbury Plain, Propinsi Wilshire, Inggris, bahkan mungkin usianya lebih tua. Kawan2 akan menjumpai rumah2 dengan atap menara yang menjulang tinggi, kuburan2 batu berton-ton, pahatan2 batu dalam ukuran besar, parang dipakai dimana2, kain adat tenun yang motifnya berbeda2 di tiap daerah, dan jangan lupakan Kerbau atau Kuda disini.. hewan2 ini akan menjadi pemandangan wajib di setiap jalan.
Orang Sumba identik dengan karakter kommunal, seperti bentuk masyarakat yang sering kita jumpai pada budaya Batak, Dayak, Toraja, Maluku, dan sebagian masyarakat Sulawesi. Masyarakat Sumba mengagungkan kebersamaan, pesta dan berkumpul. Pesta adalah segalanya buat Orang Sumba karena disana tercipta suasana berkumpul dan komunal. Tidak seperti budaya bangsa lain yang lebih individual dan menyepi, disini keramaian adalah wajib. Beberapa Orang Sumba menyadari bahwa budaya disini memiskinkan, karena penilaian berdasarkan materi begitu kental. Di beberapa daerah di Indonesia, kematian adalah kedukaan yang menyedihkan dan semua orang dengan sukarela berkunjung bersedih dan menangis. Disini, kematian merupakan suasana dimana saudara harus datang membawa kuda atau kerbau untuk berbela sungkawa, dan pihak yang kedukaan harus membalas atau mengganti pemberian itu dengan barang yang setimpal. Kerbau dan kuda yang semakin bagus nilainya menggambarkan betapa tinggi strata si pemberi. Bahkan di bulan2 "Pamali" dilarang keras orang melakukan aktifitas yang dalam budaya Bali kita kenal "Nyepi". Di saat kedukaan yang jatuh di bulan tersebut pun keluarga dilarang menangis dan pernikahan yang jatuh di bulan tersebut mempelainya dilarang keras untuk tertawa terbahak. Namun, menurut saya terlepas dari persoalan materi, Orang Sumba adalah jiwa yang loyal, royal, tulus, berharga diri tinggi, mereka mengukur diri dengan keagungan dan demi orang yang mereka kenal, mereka mengorbankan apa pun untuk persaudaraan.
Adakalanya jika kawan adalah orang baru kemudian berkunjung sebagai orang yang dihormati, siap2 aja setiap pulang bisa2 kawan2 membawa pulang ayam, jagung, kelapa dan smua harta mereka yang diberikan buat bekal pulang, dan ingat! tanpa "Mbendol Mburi" kayak orang Jawa (maaf) inilah karakter Orang Sumba yang sangat royal. Kalau kawan2 beruntung, memiliki penggalan nama yang sama dengan nama seseorang yang meninggal, hanya karena nama yang sama dengan seseorang yang meninggal dan sedang dilakukan upacara pemakaman, kalian bisa menjadi tamu agung saat itu juga di keluarga tersebut. Mereka meyakini bahwa org yang datang dan kebetulan memiliki nama yang sama dengan keluarga mereka yang saat itu meninggal, adalah saudara dekat dari keluarga itu sekalipun kalian orang dari antah berantah. Mayoritas Orang Sumba memiliki nama yang panjang, karena selain nama pemberian orang tua dan marga atau klan yang disandangkan, mereka harus menyandang lagi beberapa nama pemberian dari kerabat. Kerabat dari bapa atau mama bisa berebut menyumbangkan nama untuk anak yang baru lahir.
Dua minggu saya tinggal di pulau ini dan berusaha keras mempelajari sosio antropologi mereka. Masyarakat Sumba memang sangat unik, terpendam banyak budaya yang berasal dari akar dan bukan saduran, begitu original dan kuat berakar dalam diri setiap orang. Pengurbanan yang tidak setengah2 mereka persembahkan buat leluhur, saudara, pendatang, adalah tanda bahwa Orang Sumba adalah masyarakat yang terbuka, namun! mereka memiliki batas ketat untuk beberapa hal yang menjadi keyakinan mereka dan itu tidak dapat diganggu gugat. Hal ini terbukti dalam jarak yang tidak terlalu jauh terdapat kelompok2 kampung adat yang karakter umumnya sama namun ada nilai2 berbeda di tiap kampung dan itu tetap kuat terjaga, tidak mudah terbaur namun saling menghargai.
Senang bisa memahami berbagai budaya. Dari budaya Jawa yang menjadi suku saya sendiri, budaya Dayak Lung Melah yang awesome itu, dan sekarang saya disuguhkan kembali budaya Sumba yang menyumbangkan makna dalam saat ini. Trimakasih Nona Josinta Fridelince Jacoba Waangdan Bapa Ardi Sumba mohon dikoreksi jika pemahaman saya ada kesalahan hehe. Dan saya mengundang Bapak Ibu Dosen Haluoleo Kendari Rio Raymond, Laxmi Mami, Pungki Ahimsa Setiawan, Rety Reka Merlins, untuk melakukan penelitian disini... bapak ibu tidak akan menyesal menggunakan kajian Antropologi Marapu untuk Disertasi anda2 semua, saya Jamin!!!! smile emoticon
Masih banyak lagi isis kepala saya yang ingin saya bagikan melalui tulisan... ‪#‎menunggu‬ petualangan2 baru dan dengan senang hati share ke kawan2 smile emoticon

2 komentar:

  1. saya koreksi sedikit yah pak.. untuk alat musik sasando yang bapak sampaikan di awal post ini, bahwa alat musik tersebut bukan berasal dari Pulau Flores, tapi dari Pulau Rote dan berkembang pesat di Pulau Timor khususnya di Kota Kupang. NTT terdiri dari beberapa Pulau Besar antara lain Flores, Sumba, Timor dan Alor seringkali disingkat FLOBAMORA, sedangkan pulau - pulau kecil seperti Sabu, Rote dan Lembata merupakan daerah - daerah yang sejak UU Otonomi daerah telah ditingkatkan statusnya menjadi Kabupaten. semoga informasi ini dapat bermanfaat. GBU.

    BalasHapus