Terlahir dalam situasi yang kontradiksi, dalam suatu garis keturunan dewa namun terkucilkan karena penampakan yang kurang sempurna. Secara garis keturunan dalam mitologi, derajatnya sama dengan Manikmaya (Bathara Guru yang merupakan Sang Hyang penguasa seluruh semesta) dan bahkan lebih berkuasa ketika Ismaya merasukinya, namun dalam bayangan kita yang pernah mengenal Semar merupakan sosok jenaka, jelata dan rakyat miskin.
Semar terlepas dari kepercayaan mitilogi, perwujudan nya lahir untuk mengajari kita tentang paradoks. Bibirnya menyiratkan senyuman yang begitu lebar, namun matanya sembab dan menangis. Rambutnya kuncung layaknya balita, namun perawakanya adalah usia renta. Berpayudara dan berpinggul besar layaknya wanita namun sesungguhnya adalah laki-laki. Dia terlahir untuk tidak dapat meninggal, terwahyukan untuk memelihara dan mengajar seluruh raja-raja Jawa, yang berkuasa diantara dewa-dewa namun penampilanya miskin dan sederhana, bahkan dengan para putranya Punokawan tampak lebih seperti gembel dan hanya mampu bersua jenaka.
Dulu waktu kecil sarat diwejangi petuah dengan tokoh ini, beruntung memiliki dua eyang kakung yang penuh pengetahuan pewayangan dan mitologi Jawa. Jadilah semar dan jangan jadi Satria!
Sekalipun semua orang tua mendoakan semua anaknya menjadi Ksatria, menjadi petinggi2 Negara, namun jangan membawa pulang sifat2 buruk Ksatria! Jangan terkungkung dalam kurungan sifat Ksatria, jadilah Ksatria namun bersikaplah layaknya Semar. Semar yang memiliki kuasa apapun, namun berperilaku jelata.
Biasa Ksatria mewarisi keagungan dan kuasa hingga Ego nya lupa akan kerendahan hati dan kepedulian terhadap jelata. Sangat sering kemudian ketika terdesak mereka lari ke desa Punokawan dan meminta nasihat Semar.
Tidak akan mungkin seseorang menjadi Semar, karena sifat ini adalah wahyu sekaligus kutukan yang hanya terwaris pada Semar, namun dalam setiap kesadaran hati kita harus mampu mendekati sifat ini, berkuasa namun rendah hati, jelata namun penuh kekuasaan. Penuh hikmat yang mampu membuat para penguasa mendekat dan meminta nasihat. Berandai memilikinya, yang harus dilakukan adalah memenuhi seluruh otak dengan pengetahuan dan wawasan, belajar pengendalian emosi dan mengamati sebanyak mungkin ekspresi dan kemampuan orang lain, dan merendah hati.
Dalam pewayangan, Semar bertindak sebagai pengasuh golongan kesatria, sedangkan Togog sebagai pengasuh kaum raksasa. Dapat dipastikan anak asuh Semar selalu dapat mengalahkan anak asuh Togog. Hal ini sesungguhnya merupakan simbol belaka. Semar merupakan gambaran perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Jadi, apabila para pemerintah yang disimbolkan sebagai kaum kesatria asuhan Semar mendengarkan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan, maka negara yang dipimpinnya pasti menjadi nagara yang unggul dan sentosa.
Jadilah Ksatria! Namun bersikaplah Semar.
#edisi bangun pagi dan bermimpi Semar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar