(Syeh Siti Jenar dan Imanku terhadap Tuhan)
Dalam tatanan agama dikenal adanya tahapan pemahaman manusia terhadap Tuhan. Dimulai dari syariat yang berupa aturan/pedoman yang diwahyukan untuk menuntun manusia mengenal Tuhannya sampai pada Makrifat dimana manusia iklas hanya mencintai Tuhan secara mandiri tanpa tuntunan. Syeh Siti Jenar mengajarkan Makrifat pada saat manusia masih harus dituntun dan dipimpin dalam mengetahui ruh Tuhan nya.
Saat manusia masih "kosong" harus ditolong untuk melihat siapa itu Tuhan dan dalam pengajaran itu disampaikan padanya imbalan Surga untuk kesuksesannya dan hukuman Neraka untuk kesalahannya. Ada imbalan terhadap perbuatan yang sejalan dengan tuntunan sehingga seringkali doa dipanjatkan "Tuhan terimalah amalku dan masukan aku ke dalam Surgamu, jangan diingat dosaku dan jauhkan aku dari Nerakamu".
Adakah Tuhan sebagai pemberi hadiah dan hukuman? Apakah manusia diciptakan kemudian hanya untuk mewarisi Surga atau menerima hukuman Neraka? Ahmad Dhani kemudian menulis lagu " jika Surga dan Neraka tak pernah ada, masihkah engkau menyembah Tuhan?"
Cara dan aturan yang kemudian digunakan untuk menuntun manusia ditafsirkan dan dimaknai berbeda-beda sehingga terciptalah tradisi (saya tidak berani mengatakan agama) beraneka macam aturannya, dan membuat manusia berdebat! Jalan mana yang paling benar dan kemudian saling menyalahkan jalan yang lain. Tuhan menjadi begitu jahat dan membiaskan diriNya di tengah umatNya yang masih buta dalam melihat.Tuhan seakan-akan main petak umpet dan membiarkan umatNya tertutup mata sampil mencari dalam kegelapan, saling menyikut dan memukul dan tidak menemukan apa-apa. Terdengarlah dimana-mana terikan manusia "Tuhan! Dimanakah dirimu???".
Di saat yang demikian Syeh Siti Jenar dengan keyakinan hati berkata “aku adalah Allah, Allah adalah aku. Lihatlah, Allah ada dalam diriku, aku ada dalam diri Allah." Kata-kata yang kemudian menyentak dan terasa angkuh ditengah-tengah keheningan pencarian akan Tuhan. Pemahaman Manunggaling Kawulo Gusti (satunya saya dan Tuhan) meroket dengan sombong dan mencipta pertanyaan "Siapa dirimu? Manyamakan diri dengan Tuhan?"
Tulisan ini akan membawa pada pemahaman yang akan saya bagikan. Saya adalah seorang Jawa dan dibesarkan dengan petuah-petuah simbol Kejawen, dengan pengaruh eyang kakung Sukarji yang begitu besarnya menancap dan hidup di dalam diri sampai detik ini. Di sisi lain saya adalah pengikut Yesus yang mengajarkan kekristenan sejak kecil. Eyang kakung pernah menghardiku dengan pernyataan "kalau sudah kristen? Jawamu hilang, masih bisakah menemukan jawamu?" pernyataan dan pertanyaan ini menghasilkan niatan dan tantangan yang besar, dan tekad untuk membukti bahwa saya adalah kristen dan sekaligus tetap adalah seorang Jawa". Syeh Siti Jenar mungkin boleh dibilang mengajarkan ajaran Islam dalam versinya, namun bagi Kejawen ajaran Syeh Siti Jenar adalah nafas Jawa, Manunggaling Kawulo Gusti lan Wiji Wonten Salebeting Wit.
Lalu apa hasil pemahaman yang menyadur kedua unsur ini yang kemudian menjadi inti keyakinanku saat ini?
Ketika Syeh Siti Jenar menyatakan "Allah ada dalam diriku dan Diriku ada dalam Allah" Alkitab menerangkan hal yang sama :
"Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” ( Yohanes 15:4-5)
Keyakinan ini adalah dasar ketika manusia ingin mandiri dalam imannya. Bagi Syeh Siti Jenar, proses timbulnya pengetahuan datang secara bersamaan dengan munculnya kesadaran subyek terhadap obyek. Maka pengetahuan mengenai kebenaran Tuhan akan diperoleh seseorang bersama dengan penyadaran diri orang itu. Jika ingin mengetahui Tuhanmu, ketahuilah (terlebih dahulu) dirimu sendiri. Syeh Siti Jenar percaya bahwa kebenaran yang diperoleh dari hal-hal di atas ilmu pengetahuan, mengenai wahyu dan Tuhan bersifat intuitif. Kemampuan intuitif ini ada bersamaan dengan munculnya kesadaran dalam diri seseorang.
Bahwa "Aku adalah Allah" bukanlah kesombongan menyamakan diri namun kepasrahan yang tertinggi berupa keikhlasan penuh dalam mencintai Tuhan. Apa yang dilakukan diucapkan dan diangankan bukan lagi keinginan sendiri melainkan apa yang dikehendaki Tuhan. Bahkan Kitab Galatia 2:20 mejelaskan lebih terang benderang apa maksud dari Syeh Siti Jenar:
"Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. "
Yohanes 15:7 menambah keyakinan dengan menegaskan:
“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”
Ketika yang ada dalam diri kita itu adalah Allah, keinginan dan angan-angan kita bukan lagi nafsu manusia, melainkan apa yang diinginkan Allah. Kalau sudah kehendak Allah, tidak akan ada yang terkabul selain apa yang direncanakqn Allah, doamu adalah kehendak Allah dan pasti terjadi.
Syeh Siti Jenar juga meyakini bahwa kehidupanmu sekarang adalah kematianmu, dan hidupmu datang saat kamu mati. Saat ini tidak perlu menjalankan syariah jika keikhlasan itu tidak ada. Syariah akan dijalankan saat kamu mati, saat kamu ada dalam keikhlasanmu. Neraka dan Surga itu ada saat kamu hidup sekarang, pahit dan manis terasa sekarang bukan saat kamu nanti mati. ketika nanti kitq telah mati raga, nafsu manusia hilang dan yang ada hanyalah keikhlasan terhadap Tuhan, disana syariah itu benar-benar dijalankan bukan lagi dari tuntunan, tuntutan, atau paksaan dari orang lain melainkan karena kecintaan pada Tuhan. Sehingga tidak perlu berdebat tentang syariat saat kamu masih hidup, karena hidupmu sekarang ini adalah kematianmu.
Jangan mengharap Surga saat masih hidup, karena itu menuntut imbalan atas suatu ibadah. Saat hidup, kita adalah mayat berjalan yang berkeinginan banyak yang ada hanyalah memohon, dan saat memohon itulah nafsu muncul dan menghalangi hubungan dengan Tuhan. Maksimalkan kecintaanmu pada Tuhan saat kamu Hidup, tanpa memikirkan imbalan, karena setelah mati, hidupmu akan dimulai dan kehidupan baru itu hqkikatnyq adalah menyembah Tuhan tanpa ada lagi nafsu. Apalagi bermimpi dilayani ribuan istri bidadari saat di Surga, tunggangan yang mewah saat menuju Surga, Istana yang megah saat masuk surga! Itu adalah ajaran imbalan yang harus disampaikan karna tahap itu manusia masihlah kerdil imannya sehingga harus dituntun dengan imbalan, imbalan yang membuatnya menjadi semangat beribadah. Motivasi yang salah dalam mencintai Tuhan.
Bahkan Yesus pun pernah bersabda dengan keras dalam Matius 7:21
"Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga."
Yang beribadah tiap hari dan berdoa dengan ritual-ritual lengkap, namun Rohnya tidak menjalankan buah-buah kecintaan yang ikhlas, bukan mereka yang dikehendaki Tuhan. Melainkan hanya mereka yang menjalankan seluruh kehendak Tuhan melalui hati pikiran dan perbuatan yang masuk dalam kehendakNya.
Syeh Siti Jenar berpandangan bahwa Raga adalah Pinjaman kepada Ruh untuk hanya "Mampir Ngombe" sementara menikmati penderitaan dunia. Pinjaman itu dipinjamkan dalam keadaan suci sehinnga Ruh harus bertanggungjawab terhadapnya, saat kontrak habis Ruh harus mengembalikannya dalam keaadaan suci pula. Sehingga Ruh harus menutupi Raga itu dangan Agama sebagai Ageman (pakaian). Jangan bertumpu pada Raga (daging) dan Ageman ( agama), melainkan tumpuannya tetap harus dari Ruh yang adalah suci.
Dalam Galatia 5:16 Paulus berkata, “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.”
Lalu dalam ayat 22-26 ia berkata, “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.” Di sini, Paulus menjelaskan bahwa kalau kita hidup oleh Roh, kita akan menghasilkan buah-buah Roh. Roh Kudus memerintahkan agar kita hidup oleh Roh. Tetapi kita memiliki kecenderungan hidup dalam kedagingan.
Bahwa kemudian ajaran "Aku adalah Allah dan Allah adalah aku" bukanya ajaran kesombongan, melainkan sebuah kesempurnaan iman saat manusia mengenali Tuhan nya. Aturan itu untuk menuntun dan bukan untuk memimpin. Pemimpin sebenarnya adalah tetap Roh, Roh yang dihembuskan oleh Allah pada sebuah gundukan tanah dan kemudian menjadi Manusia. Ketika Manusia adalah satu dengan Tuhan, segala keinginannya bukan lah nafsu pribadinya lahi melainkan kehendak Roh, Kehendak Tuhan.
Dalam kondisi manusia modern seperti saat ini, sering ditemui manusia yang mengalami zadhab atau kegilaan berlebihan terhadap Allah.Yang sebenarnya kegilaan akibat ketidaksesuaian antara nalar atau logika mereka dengan apa yang nampak dalam pandangan, pendengaran serta rasa mereka yang telah memasuki gerbang ketuhanan. Mereka belajar tentang bagaimana Allah bekerja sehingga ketika keinginannya sudah lebur terhadap kehendak Allah, maka yang ada dalam pikirannya hanyalah Allah. Di sekelilingnya tidak tampak manusia lain, kecuali hanya Allah yang berkehendak. Tarian Sufi yang berputar-putar dengan rok panjang dan topi yang menjulang tinghi kemudian lahir dalam ritual pencarian "rasa" yang demikian.
Saat itu kemudian Ajaran Syeh Siti Jenar kemudian beryolak belakang dengan para ulama di jaman nya, seperti kemudian juga Yesus mengusik kenyamanan Para Imam Yahudi pada jamannya. Di luar konteks keyakinan agama, saat itu Syeh Siti Jenar adalah guru dari Ki Ageng Pengging (ayah dari Joko Tingkir / Mas Karebet / Sultan Hadiwinoto yang kemudian menjadi Raja pertama Pajang setelah Demak Runtuh pada zaman Sultan Trenggana) yang adalah keturunan langsung Trah Majapahit yang ditakutkan akan menguatkan pemberontakan terhadap Kerajaan Demak ( Demak adalah kerajaan yang memberontak pada Majapahit dan mengakhiri kekuasaan Majapahit serta merubah seluruh tlatah jawa menjadi Kerajaan Islam).
Demak ketakutan kemudian berinisiatif mengundang Syeh Siti Jenar untuk datang mengjadap namun tidak pernah dipenuhi, hingga turun tangan langsung Walisongo untuk menyadarkan kesesatan Syeh Siti Jenar. Dari sisi agama Islam, Walisongo yang menopang kekuasaan Kesultanan Demak khawatir ajaran ini akan terus berkembang sehingga menyebarkan kesesatan di kalangan umat. Kegelisahan ini membuat mereka merencanakan suatu tindakan bagi Syekh Siti Jenar untuk segera datang menghadap ke Kesultanan Demak.
Pengiriman utusan Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat ternyata tidak cukup untuk membuat Siti Jenar memenuhi panggilan untuk datang menghadap ke Kesultanan Demak hingga konon akhirnya para Walisongo sendirilah yang akhirnya datang ke Desa Krendhasawa di mana perguruan Syekh Siti Jenar berada.
Para wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja. Maka, berangkatlah lima wali yang diusulkan oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Pangeran Modang, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng.
Sesampainya di sana, terjadi perdebatan dan adu ilmu antara kelima wali tersebut dengan Syekh Siti Jenar. Menurut Syekh Siti Jenar, kelima wali tersebut tidak usah repot-repot ingin membunuhnya karena ia bisa meminum tirta marta (air kehidupan) sendiri. Ia dapat menuju kehidupan yang hakiki jika memang ia dan budinya menghendaki.
Tidak lama kemudian, terbujurlah jenazah Syekh Siti Jenar di hadapan kelima wali. Ketika hal ini diketahui oleh murid-muridnya, serentak keempat muridnya yang pandai, yaitu Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki Chantulo, dan Ki Pringgoboyo ikut mengakhiri "kematian"-nya dengan cara yang misterius seperti yang dilakukan oleh gurunya di hadapan para wali.
Hal yang identik juga terjadi pada Yesus yang didakwa membangkang pada Negara, dan dakwaan itu datang dari Para Imam Yahudi yang setiap hari taat beribadah dan menjalankan hukum Taurat. Hingga pada hukuman Salib yang menjadikan Raga Yesus mati di hari Jumat Agung, namun bangkit kembali. ROH dan Raga nya naik ke Sorga untuk mengadili yang hidup dan yang mati di Akhir Zaman.
Saya adalah Jawa, sekalipun saya mengenyam kerohanian Kristen, saya adalah dan tetap adalah Orang Jawa. Menyatu dalam diri pemahaman Roh yang memimpin daging.
MAKRIFAT Manunggaling Kawulo Gusti
Salam sejarah salam keagamaan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar