Minggu, 09 Agustus 2015

JAKSA ATAU PEDAGANG ?

Iya! Kalau tidak mampu berintegritas dan berfikir layaknya Jaksa, larinya pasti jadi pedagang. Pedagang itu prioritasnya adalah kepuasan pelanggan, menerima pesanan dan melakukan yang terbaik untuk pelanggan!
Hilang nurani dan nalurinya sebagai Jaksa, terbeban moral dan mentalnya sebagai pedagang, sehingga tidak lagi berpedang dan memegang timbangan keadilan namun untung rugi yang dikedepankan. Jiwanya bukan lagi menegakan adil, tapi memperdagangkan hukum, memuaskan pesanan dan tumpulah dia!
Atau kalau tidak, pedagang kurang keren! Sekarang Jaksa era nya jadi mesin pembunuh. Siapa benci siapa, pangkat dan lencananya digunakan untuk membidik sasaran... bukan sasaran kriminal, tapi sasaran kebencian! Untuk apa? Untuk kepuasan batin nya yang kadang2 terbantu oleh pesanan, eh! Balik2 lg dagangan, pedagang lagi.
Memang! Ada padi dan kapas di lambang Kejaksaan, sejahterakan dan bahagiakan! Namun jangan ada di dirimu hanya padi dan kapas! Menyejahterakan diri dengan melupa bahwa tangan kanan kirimu memegang erat pedang dan timbangan.
Pakailah pedang dan timbanglah dengan matang. Jangan hanya pandai menusuk dan merontokan padi dan kapas! Hingga dirimu tertimbun oleh nya. Timbanglah! Ukurlah! Tutup matamu dengan kain hitam dan menimbanglah... Pedang, Timbangan, Padi dan Kapas haruslah berjalan bersama. Ketiganya akan mencapai tiga bintang di atas! Satya! Adhi! Wicaksana!
Jaksa! Jangan jadikan dirimu hanya serendah pedagang!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar