Minggu, 09 Agustus 2015

DIRGAHAYU KAMPUS BIRU

Bagi kami almamater
Kuberjanji setia
Kupenuhi dharma bhakti tuk Ibu Pertiwi 
Di dalam Pancasila mu, jiwa seluruh nusa ku
Kujunjung kebudayaan mu
Kejayaan Nusantara


Penggalan Hymne Gadjah Mada ini melekat dan terngiang. Selama kurang lebih 4 tahun saya selalu ikut mengiringi wisuda, diujung kiri utara lantai satu Graha Sabha Praman, menyanyi dengan nada Tenor diiringi Grand Piano yang konon sumbangan dari negara Jerman. Termasuk saat saya sendiri di wisuda, lantunan lagu Gaudeamus Igitur dan Hymne sakral ini menggema di seluruh ruangan gedung Joglo itu.
Ribuan sarjana sudah tercetak dari Universitas Gadjah Mada tiap tahun nya, entah menyumbang pekerja atau pengangguran baru di Republik ini, pesan bahwa kami harus mendharma bhaktikan ilmu tetap tertancap dalam hati.
Sedikit mirip seperti warisan darah dan atau garis keturunan, embel-embel UGM dalam nama kami, banyak berpengaruh dalam setiap tahab karir. Mulai dari yang bilang "wow anak UGM pasti pinter" sampe keistimewaan2 yang diterima saat seleksi administrasi Jobseeker atau saat ketemu interviewer yang ternyata sesama alumni. Di balik itu beban moral sangat tinggi diemban dan banyak juga menghasilkan cemoohan, dikala hasil kerja tidak sesuai dengan nama besar Kampus tercinta.
Satu hal yang berbeda dari produk UGM, selain hasil akademik yang sekarang sedang berpacu untuk meraih yang terbaik dari universitas lain. Produk UGM lebih dominan ndeso, berfikiran aneh, moderat, ya sekalipun tidak general namun sangat nampak. Atmosfir Yogyakarta tidak bisa terlepaskan dari hasil Produk kampus ini. Di luar kegiatan akademik, Mahasiswa UGM melanglang buana membaur dengan karakter Yogyakarta. Dari yang mendalamai kebudayaan jawa di Keraton dan Pura- pura lain semacam Ndalem Pujokusuman, yang suka Jazz bisa nongkrong di Kompas kalau tidak salah Ngayogjazz di hari senin dan yang ekstrim hedonis di jalan Magelang. Kentel politik di GMNI dan KAMMI sampe pada paguyuban transgender yang sering bikin festifal di Malioboro. Nongkrong di Amplas dengan nuansa Mall sampe di Pendopo Ndalem Tamansari dengan jajanan pasar dan Mie Jawa, kalau butuh yang lesehan bisa nongkrong di pinggiran Kali Code atau Kopi Joss di pinggir stasiun Tugu yang terkenal minum kopi campur arang hitam, unik tidak dijumpai disana mahasiswa kere kelaparan yang akhirnya hanya bisa nongkrong lesehan, mahasiswa berduit dengan mobil2 mewahnya pun membaur duduk berlesehan dan menikmati indomie goreng atau kopi racikan pabrik yang murah meriah. Kadang berkumpul di rumput2 halaman rektorat mahasiswa2 berdiskusi berat bicara soal politik dan bahkan ekstrim agama, sampai yang namanya pasar mendadak di hari minggu "sunday morning" yang penuh sesak di pingiran Lembah UGM. Seluruh spot itu diserap dan membentuk karakter mahasiswa yang tidak cuma jago akademik, namun sarat dengan pemahaman2 masyarakat di luar, tergabung dalam setiap cara berfikir ndeso dan aneh yang kemudian membuatnya menjadi pola pikir yang tidak kaku. Kamu begitu dan beda denganku tapi aku suka karena km menyukainya... moderat yang berprinsip.
Saya menduga kuat, produk UGM hari ini, tidak hanya ilmu yang diperoleh di dalam tembok kampus, sebagian besar modal survive mereka adalah apa yg mereka peroleh dari luar tembok. Manajemen diperoleh dari kepengurusan2 di luar kampus, sosial didalami dari paguyupan2 dan aktifitas ekstra, komunikasi terbentuk dari karakter jogja yang unggah ungguh dan merendah, dan terbiasa makan angkringan atau burjo yang membuat mahasiswa UGM survive dimanapun berada 
tongue emoticon
Trimakasih UGM trimakasih Yogyakarta. Dirgahayu kampus tercinta, teruslah mencetak mahasiswa, yang terus moderat dan fokus pada kesatuan Nusantara. HYMNE mu sungguh relevan, bahwa ciri khas dari produk pendidikanmu adalah sarjana-sarjana ber Pancasila yang berdharma bhakti untuk Negara, menjunjung tinggi kebudayaan, dan kejayaanmu adalah kejayaan Nusantara.
Vivat Academika!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar