Manusia, beberapa dianugerahi dengan suara menawan, dibarengi dengan otak dan daya juangnya untuk menyajikan notasi-notasi menjadi lantunan lagu yang indah menjadikanya sebuah sajian yang cantik dan cerdas. Bayangkan jika banyak orang yang cerdas dan bersuara merdu itu berkumpul dan bernyanyi bersama dengan nada-nada berbeda dengan ego masing2 yang dominan sebagai manusia cerdas, apa yang terjadi?
Suara-suara merdu itu menjadi sumbang dan menyakitkan kuping, dan kecerdasan itu menjadi ego yang menampilkan keburukan. Paduan tersebut bukan lagi menjadi paduan suara melainkan pertarungan ego dan mersa diri semua cantik. Dirigen hadir untuk memimpin, memadukan, mengelola suara-suara dan harmonisasi, menekan semua ego yang muncul menjadi satu komando, memainkan mata dan jari untuk membuat signal, dan keseluruhanya terangkum menjadi wibawa. Wibawa yang menjadikan kumpulan orang cerdas dan bersuara merdu menjadi sebuah Paduan Suara.
Kenapa cerdas? Seorang harus patuh pada sebuah Partitur layaknya Undang2 dalam sebuah negara. Mengenal notasi saja mampu membuat otak mendadak keriting apalagi harus mempelajarinya, membunyikanya bahkan harus menjiwai bagaimana notasi-notasi itu mampu disajikan dalam sebuah lantunan lagu yang menawan. Di Indonesia banyak dikenal notasi angka, namun di belahan dunia lain notasi itu berbentuk kecambah-kecambah yang memiliki tangga nada dan masing masing nada dan penjiwaan ditandai dengan simbol-simbol asing yang sedimikian rumit, kesemuanya itu harus mampu diterjemahkan secara bersamaan dengan teknik suara yang melibatkan bagian2 tubuh. Otak dan tubuh bekerja secara bersama-sama sehingga dihasilkan suara yang merdu.
Terdapat minimal tiga bagian tubuh yang harus prima dalam memproduksi suara. Otot diafragma perut adalah satu2 nya yang bertugas menendang suara keluar, jika bagian tubuh lain seperti tenggorokan ikut serta menendang suara, akan menghasilkan suara parau dan tidak bagus. Pada saat suara ditendang keluar oleh diafragma, Tenggorokan harus terbuka lebar, pasrah dan tidak boleh berbuat apa pun. Smua suara yang ditendang oleh diafragma harus lolos sempurna dari tenggorokan. Keras lembut nya suara yang keluar tidak boleh diatur oleh tenggorokan melainkan oleh diafragma, sehingga bisa dibayangkan sekalipun suara yang dikeluarkan lembut diafragma ini tidak boleh istirahat bahkan harus bekerja lebih hebat dan itu menyakitkan. Saat diafragma bekerja, rasanya seperti sedang menahan kencing, dan harus stabil agar suara tidak lemah dan goyang, permainan diafragma yang bagus akan menghasilkan suara yang mantab. Setelah diafragma dan tenggorokan bekerja dengan benar, tugas mulut dan rongga hidung yang sangat penting dalam mengeluarkan suara, sonor atau tidak? laval nya bagus atau tidak? Karena suara yang keluar ini harus berubah bentuk menjadi syair dan tugas mulut dan lidah yang vital dalam memproduksi syair. Suara yang ditembakan harus memenuhi rongga antara hidung dan mulut hingga bergetar, kemudian ditembakan fokus kedepan sehingga suara yang dihasilkan penuh, sonor, sesuai genre suara masing2 Bass, Sopran, Tenor atau Alto.
Perjuangan seorang penyanyi tidak selesai disitu, karena ketika mereka bernyanyi bersama, mereka harus memadu dalam pimpinan seorang Dirigent. Seorang Dirigent harus mampu mengelola sekian banyak tembakan suara ini menjadi satu titik keterpaduan. Bass, Sopran, Alto, Tenor yang memiliki bentuk suara yang berlainan dan harus membunyikan nada yang bermacam2 menjadi tugas yang sulit bagi seorang Dirigent. Dirigent harus mampu menjadikan macam2 suara ini menjadi seakan2 satu suara dan padu! Dirigent harus memastikan bahwa ketukan irama terjaga dengan baik, melalui mata dan jari menyiratkan bagaimana penjiwaan harus disampaikan oleh penyanyi melalui lagu, mengelola ritme harmonisasi dan memastikan notasi terjemahkan dengan apik dalam satu rangkaian lagu.
Saat diperintah staccato! Penyanyi harus segera pintar untuk memainkan diafragmanya mengeluarkan bunyi secara patah2 (pok! Pok! Pok!), ketika perintah Cressendo suara dikeluarkan dari bunyi lembut dan perlahan mengeras dan sebaliknya ketika Descressendo Diafragma harus bekerjalebih kuat untuk menahan hentakanya dan suara secara perlahan mengecil, sekali lagi diafragma tidak boleh istirahat! Menahan perut dengan giat agar suara lembut itu tetap terdengar utuh dan kuat.
Pengalaman menyanyi dalam sebuah paduan suara ini sedikit banyak bisa ditarik dalam hidup bernegara. Semua orang di negeri ini cerdas! Suaranya pun sangat merdu untuk dikoar-koarkan. Merdu??? Karena semua orang berbicara atas nama Rakyat dan keadilan yang seolah-olah menjadi pahlawan ditengah dunia yang sedang berkecamuk. Semua orang telah belajar dalam tahapan nya masing2 mengenai Negara. Semua telah belajar dan menjadi pintar, lantas sudahkah mempelajari Ego nya sendiri? Hal inilah yang membuat Kecerdasan dan Suara Merdunya menjadi alat perusak Negara itu sendiri.
Seorang Dirigent pemimpin Negeri ini, harus menangkap semua suara yang muncul, mengelolanya menjadi paduan yang indah, sulit namun itulah tugasnya. Mampu kah?? Pertanyaan ini terjawab mudah jika sebuah paduan suara itu mampu ditampilkan oleh seorang Dirijent sendiri, menyanyi sendiri dan dipimpin sendiri. Kenyataanya tidak! Tanggung jawab itu bersama.
Disegala bidang, tidak hanya konteks Negara, gayung sambut antara pemimpin dan bawahan harus begitu. Sadar dimana pimpinan sadar dimana bawahan. Jangan karena memegang stik Dirigent, kemudian semena2 dengan ritme nya sendiri padahal bawahan sudah terseok2 patah kaki dalam mengejar ritme. Demikian pula bawahan, jangan dengan egonya masing2 tetap bersuara tanpa peduli dengan team dan tidak fokus arahan pimpinan. Bawahan kadang seperti penyanyi yang sibuk dengan dirinya sendiri, merasa cukup ilmunya dan menjadi egois. Jiwa artisnya mendadak melambung tinggi dan menjadi orang yang serasa sangat penting. Demi menunjukan dirinya pintar kadang kebodohannya lah yang terpancar. Ego yang berbuah pada tindakan akan merusak team, hidup aja di hutan orang bilang! nah, agar ini tidak terjadi, cukup pahamilah bahwa anda bawahan, maksimalkan kemampuan dan tunggu perintah! jangan berkreasi sendiri dan menonjol namun tak mampu mengakhirinya. Pimpinan lah yang tahu kemana perahu dijalankan, dia yang punya wewenang mengelola dan memandu sampai tujuan.
Paduan Suara, mengajarkan banyak hal khususnya pada saya bahwa menjadi diri sendiri yang baik aja susah mati, apalagi memadukan pribadi2 yang bermacam2 menjadi satu arahan. Seni untuk tetap mengupgrade diri dan menyesuaikan dengan team, menjadikan sehati dalam menyampaikan. Sekali lagi inilah Seni, ruang nya tak terbatas bentuknya pun tak nyata namun mampu terasa dengan sangat indah dan cantik. Begitu pula dalam Negara dan organisasi. Ketika kamu menjadi Dirigent penyanyi pasrah sepenuhnya terhadapmu, dan dirimu harus bertanggung jawab dengan itu. Ketika menjadi penyanyi, harus tau dengan baik apa porsimu, maksimalkan dalam porsi itu dan laksanakan perintah. Persoalan umum akan dikelola dengan baik oleh Dirigent, yang pasti porsimu dikerjakan saja dengan sebaik-baiknya.
Trimakasih Guru-guru yang pernah mengenalakan saya dengan bimbingan terbaik untuk satu seni ini. Sekalipun hari ini saya sudah tidak lagi menyanyi, tapi ilmu ini tetap melekat dan berguna dalam kehidupan perang yang nyata. Albert Wishnu, Timur Nugrahatama, Leopoldus Libero Baon Yea-v. Sukses untuk semua
Tidak ada komentar:
Posting Komentar