Masih menggema persoalan "ucapan selamat natal" di media maya yang didominasi perbedaan aqidah agama antara Islam dan Kristen. Dan detik ini juga saya sedang berdiskusi dengan sesama Kristen namun tidak merayakan Natal, hehe Tuhan mengijinkan begitu banyak pandangan hadir di setiap orang dengan begitu indahnya. Untuk apa kita berdebat menghakimi boleh dan tidak, toh! Tuhan saja menghendaki itu tetap ada.
Saya sudah lama berkenalan dengan Saksi Yehovah, beberapa tahun silam dan sampai sekarang terus berkomunikasi. Kami berbeda keyakinan, Saksi Yehovah adalah sekte Kristen yang tidak merayakan Natal, dan tidak men-Tuhan kan Yesus, namun meyakini kebenaran Alkitab bahwa ajaran Kristus adalah benar, untuk itu ijinkan saya menamakanya sebagai sekte Kristen. *masih minim pandangan saya terhadap sekte ini jadi mohon maaf jika ada pemaknaan yang salah. Beberapa Ordo dan keyakinan Kristen menganggap ajaran ini sesat, bagi saya mereka diijinkan ada di muka bumi ini pasti atas kehendak Tuhan dan saya tertarik untuk mengenal mereka tanpa harus menanggalkan aqidah agama saya.
Seirama dengan Karl Mark dan oposisi dari pandangan Gereja pada umumnya, Saksi Yehovah mengkritisi cara beribadah dan liturgi gereja. Sadar atau tidak, mereka merupakan keseimbangan kita dimana kadang kita mengagungkan bahwa gereja adalah sumber kebenaran. Dahulu, Gereja adalah sumber klaim benar dan salah, para petinggi gereja layak memiliki otoritas untuk menerjemahkan Alkitab, menciptakan hukum serta menghukum orang dengan tafsiran mereka (galileo dan beberapa ilmuwan serta filsuf sudah banyak menjadi korban otoritas gereja). kondisi ini menciptakan pembeda yang sangat jelas antara saya dan anda, kita dan kalian, halal dan haram, agamawan dan kafir. Gereja begitu gencar mengkafirkan orang atau badan.
Karl Mark membenci kondisi ini, bahwa Gereja menjadi begitu berangus dan akhirnya menentang keberadaan Gereja yang tidak sesuai rahmatnya. Gereja memiliki otoritas tak terhingga sehingga Manusi di jaman itu menganggap bahwa keputusan Gereja adalah Putusan Tuhan dan tanpa tersangkal. Gereja menjadi jumawa dan kaya materi, materi yang dirampas dari umatnya dalam balutan tutuntutan rohani. Kalr Mark tidak menentang Tuhan, namun menentang Gereja berkuasa, sehingga ingin mengembalikan masyarakat pada sifat komunal, pemimpin yang berasal dari komunitas itu sendiri yang sifatnya mengkordinir dan bukan menguasai dan menjadi Raja yang berjarak jauh di atas berdasarkan legitimasi kuasa Tuhan. Dengan rasa ingin merubah peradaban inilah Kalr Mark mencetuskan sifat kommunal dan lahirlah komunis.
Saksi Yehovah lebih mendalam, mereka membenci seluruh asal usul peribadatan Gereja yang tidak berakar dari Alkitab secara murni. Natal, tidak dikabarkan dengan gamblang oleh Alkitab mengenai penanggalan nya, tidak pula dianjurkan dan diajarkan tentang bagaimana merayakan nya, lantas apa dasar orang Kristen merayakan nya tiap tanggal 25 Desember dan dengan atribut2 yang jika diteliti asal usulnya merupakan penyembahan kekafiran di masa lalu. Semua perayaan yang menjadi kebiasaan dan kelatahan budaya diharamkan secara ketat oleh sekte ini, mereka hanya mendalami dan mempraktekan secara murni hanya apa yang tertulis dalam Alkitab, Alkitab yang murni. Kata Allah pun enggan mereka gunakan dan hanya mengaju pada kata Yehovah yang merupakan penyebutan Tuhan dalam aqidah Kristen.
Kami berbeda, mereka mengharamkan Natal dan saya merayakan Natal. Diskusi kami berjalan dengan saling mencerahkan dan bukan menghujat. Ayat2 yang disampaikan adalah ayat2 yang saya yakini, dan kami saling memperkaya. Ada bagian2 yang memang tidak mufakat, namun bagian2 itu membuat saya mengenal mereka. Gereja memandangnya sesat, Gereja yang takut akan perbedaan. Saya meyakini "rahmat" yaitu kehendak Tuhan yang membuat segala sesuatu ada dan memberkatinya. Saksi Yehovah ada, dan bukan mengada2 mereka memiliki keyakinan dan dasar keyakinan yang bisa dijelaskan. Mereka tetap ciptaan Tuhan, dan saya yang menyembah Tuhan saya mencintai ciptaan nya.
Saya memandang Natal, memang bukan perayaan Ibadah dengan dasar Alkitab tidak mengajarkan hal ihwal perayaan nya. Saya beribadah Natal sebagai penanda bahwa Yesus memang dilahirkan, di hari yang tidak dijelaskan. Saya beribadah sebagai makna kelahiran nya sebagai Juru Selamat, yang diramalkan sejak sebelum Adam diciptakan dan akan hadir kembali untuk Menyatukan dan Mengadili umat. Sekali lagi kami berbeda dalam merayakan atau tidak merayakan namun Yesus yang kita bicarakan adalah sama. Seperti ketika sedang membangun rumah Sumba, ada yang suka dengan atap alang2 ada pula yang suka dengan atap Seng, namun keduanya sedang berbicara mengenai membangun rumah, Hukum membangun rumahnya telah dipegang oleh masing2, tapi pemaknaan cara membangun rumahnya bisa berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar