SEMUA AKAN (P)INDAH PADA WAKTUNYA
Mengenal beliau, mengenakan kemeja batik putih dengan guratan-guratan lurik jawa bercelana hitam, cuma sesaat sebelum berangkat ke Kupang untuk sidang. Yak! Inilah senior yang bakal seruangan dan sedikit basa basi kemudian hari itu berlalu.
Seminggu kemudian, datang ke kantor dan "memaksa" saya untuk mengerjakan register pidsus yang jujur ini merupakan pekerjaan yang bikin bosen dan ngantuk
tongue emoticon
"Ri! Registernya udah belom?!? Buruan mintain tanda tangan ke Bapak (Kajari), kamu harus tertib ngisi register! Jangan telat nutup bukunya! Materi nanti kamu gampang nguasainya, tp administrasi kudu kamu kuasai sekarang! Kapan lagi?? Itu sepele, tp dikit aja km teledor bakal fatal!" Tampang serius dan kata-katanya yang menusuk jantung itu sempat bikin saya sewot seminggu. Ini jadi orang serius banget, matanya kalau dah melotot bikin ruangan serasa sel penyiksaan
frown emoticon
Sebulan pertama, suasana kaku! Beliau orang yang tertutup dan bahagia dengan dirinya sendiri. Ngomong seperlunya, dan sekali bicara udah nanyain isi register, barang bukti, nomor ini dan nomor itu, tiap hari tiap detik jantungan yang dirasa. Seperti berhadapan dengan orang tanpa cela, siap setiap saat menghardik!
Berubah total! Sedikit mengintip, ternyata di balik tatapan yang ga pernah lepas dari laptop dan kacamatanya yang tebal itu, beliau sedang asik bermain game! Iya game! Dan sering sekali kepergok nonton serial Naruto, terkadang tanpa sadar berteriak sendiri "chiyaaa!" Suasana yang sering dijumpai saat anak2 SD sedang antri menonton kartun di hari Minggu. Sedikit aneh, asing, dan yak! Inilah senior disamping mejaku, senior yang mati-matian kutakuti, dan layaknya "jaksa tanpa cela"
tongue emoticon
. Mendadak Jaksa yang kukira pembunuh berdarah dingin ini, serasa lebih pantas jika didandani dengan kostum Detektive Connan atau seorang Hobbit di film The Lord of The Ring, dengan kacamata tebal dan berjubah kartun.
grin emoticon
Perlahan, kami dalam ruangan itu mulai membahas banyak hal mengenai kasus, bertanya mengenai pandangan saya terkait kasus yang sedang ditangani. Pernah suatu kali, meminta saya untuk menulis hasil pikiran mengenai kasus yang sedang Hit di Waikabubak, dan saya intip hasil pikiran saya digunakan oleh beliau ini untuk merancang alur permasalahan. Beberapa kali mengajak saya diskusi, mendudukan saya sebagai orang yang pantas untuk dimintai pendapat. Rasanya bangga setengah mati! Orang yang serasa tinggi di atas tak terjangkau ini, mengajak saya berdiskusi dan berfikir bersama. Berkembang, obrolan kami tidak hanya soal pekerjaaan. Pernah sekali, beliau mempersilahkan saya untuk menganalisa kepribadian, dengan metode2 pengalaman beberapa kali mengikuti tes psikotes, saya praktekan ke beliau. Merasa bangga, beliau mendengarkan dengan hikmat apa yang saya sampaikan mengenai kepribadian nya, tanpa menentang tanpa melawan beliau menghargai dan sangat berminat untuk menghargai baik dan buruk apa yang orang nilai, nilai tentang diri beliau. Saat itu, satu hal yang saya tandai, beliau orang yang paling susah untuk percaya, paling anti untuk setuju dengan mudah, namun disisi lain beliau adalah pribadi yang terbuka, menengadahkan tangan ketika dikritik dan begitu rendah hati untuk menerima apa yang orang sampaikan sekalipun itu hal buruk mengenai dirinya. Pak Noptra, anda memiliki modal untuk menjadi "orang besar", meresap dan murni dari dalam diri bapak, bukan saduran atau imitasi, modal itu tertanam kuat dalam diri bapak.
Ruangan pidsus, seringkali pecah! Beberapa orang tersangka atau bahkan hanya seorang saksi, bisa memerah muka dan merinding takut saat selesai pemeriksaan. Beliau orang yang sangat detail, runut, konsisten, tak tergoyahkan sehingga untuk "sesuatu" yang beliau yakini bisa dicari sedemikian sehingga harus ditemukan. Tersangka atau saksi yang berusaha menutupi atau berkelit dari pertanyaan, bisa dibentak dan dihardik tanpa perasaan. Sebuah kasus sudah selayaknya game yang menjadi hoby nya, rasa hausnya untuk mengungkap, meneliti, mencari pembuktian bisa membuatnya tak kenal lelah. Energi dan fokus nya tak pernah limit untuk mengungkap pembuktian.
Kadang sempat terfikirkan, beliau ini robot, mayat hidup, tanpa nafsu pribadi dan tanpa ambisi pribadi dalam setiap pekerjaanya. Semua dikerjakan dengan tujuan utama, kadang hal-hal pribadinya pun terlupakan. Seharian bisa sama sekali tidak makan dan tidak istirahat ketika bekerja, malam hari baru bilang "oh iya ya? Seharian belum makan aku ya?" SAYA sama Om jul cuma bisa saling memandang seperti pertanyaan klise yang tiap hari terdengar. Dari pagi hingga pagi lagi berada di kantor, di depan laptop nya tanpa berpindah, beberapa kali kami sampaikan harus istirahat jangan siang malam bekerja, seperti balik mengkritik "Ri ! Jul ! siapa sih di dunia ini yang menentukan malam harus istirahat? Dan siang harus bekerja? Sadar ga kalo kalian ini sudah terkungkung dalam kebiasaan orang yang belum tentu benar?" Dan bukan nya mengikuti rasa perhatian kami, malah mengajak kami berdebat philosofis mengenai siang dan malam kapan harusnya bekerja.
Pak Noptra, enam bulan bekerja bersama saya beruntung pernah menjadikan anda Senior. Serasa belum puas, baru bulan2 terakhir ini saya banyak mengenal tentang bapak dengan jelas. Banyak diskusi yang sudah menambahkan pengetahuan dan hal-hal teknis, dengan rajin saya sering menulis hasil kuliah bapak untuk saya. Masih banyak yang belum diwariskan, serasa masih banyak yang belum saya serap dari bapak, dan sekarang harus berpisah. Saya orang pertama di kantor yang bapak infokan tentang mutasi, hari itu juga sore itu juga, serasa takut akan kehilangan senior saya sampai malam bersama bapak di kos dan banyak pesan bapak yang saya simpan dalam2. "Ri ! Kamu harus kuasai semua ilmu dan teknis dari sekarang. Jangan nunggu udah jadi Jaksa baru belajar. Sekarang km punya kesempatan banyak untuk tau dan belajar, pelajari sekarang! Saya titip ke kamu, baik2 lah belajar sekarang, nikmati setiap tahapnya, jadiin temuan2 itu untuk ningkatin adrenalin, klo adrenalin mu udah terpacu, kamu pasti akan menikmatinya, semua prosesnya. Saya punya keyakinan km bisa!"
Pernah melihat wajah seorang Jaksa dimaki2 saat menjalankan eksekusi, Pak Noptra jadi standart acuan buat saya, kedepan saya akan menirunya! Tetap tenang dan fokus, menjaga wibawa untuk tetap melindungi ucapan kata dari emosi dalam hati yang bergejolak. Meniru! Bahwa sekalipun dengan banyak keterbatasan jangan ada keluhan. Bapak mengajarkan kami untuk mengandalkan kepandaian dan ketelitian, jalankan saja tugas dengan pandai, pasti kesuksesan akan menghampiri.
Sang Jaksa berwajah serius dengan kegemaran game dan Kartun Naruto ini telah terpanggil untuk tugas yang lebih baik.
Pergilah... Sumbangkan karyamu untuk tugas yang lebih baik.
Ceritakanlah... Jaksa dari pedalaman Waikabubak ini mampu meraih tugas2 berat disana.
Kenanglah... pekikan kuda dan pakalak suara Sumba!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar