BAPAK IBUK UBAN
"Malem nang... lagi apa? Sini lho banyak makanan", tiap pulang kerja selalu menunggu-nunggu pesan BBM ini, bergegas segera ke Rumah Jabatan, dan langsung menyahut suara Bapak "Arie! Masuk sini!" Duduk kami beramai di meja makan itu, sudah siap biasanya makanan-makanan rumah dan ga pernah absen, teh kotak! smile emoticon
Kami biasa saling bercerita tentang menu masakan @yusuf saputra, atau tentang Alfa yang sangat pintar sekali melawak dan dengan teganya membuat dua orang tua ini terbahak-bahak sampai menangis. Masih ingat ibuk yang kegemesan denger cerita kami jalan ke Kodi dan dikejar-kejar anjing, atau bahkan menangis terharu mencerita tentang segala keluh kesah kami anak muda, dari soal pacaran sampai penatnya bekerja. Bapak ibuk melepas semua pangkat dan atribut jabatan, duduk merangkul kami di meja itu. Saat ibuk harus pulang ke Jakarta, tidak perlu kuatir bapak kesepian, kami menyibukan bapak dengan tumpukan-tumpukan APBD membedah mulai dari kasus sampai angka-angka anggaran yang begitu rumitnya. Bahkan! Kami sampai pernah berani-beraninya menegur ibuk "ibuk, kami akan berusaha.. sudah bapak jangan dimarah lagi ya" mendadak kami menyatu dalam keharuan itu, "saya bangga dianugrahi anak-anak seperti kalian, beryukur sekali".
Saya mengenal bapak malam hari sejak pertama kali menapak kaki di Sumba. Perawakan sangat di luar pikiran, berambut Uban dan perjumpaan pertama itu terkesan biasa, sedikit kaku dan ya biasa aja. Hari pertama kerja mendadak beliau masuk ruang Pidsus "Arie! Apa yang kamu tau tentang perbuatan melawan hukum?" Oke! Tantangan pertama itu gagal dipenuhi... saya sudah benar-benar lupa apa itu teori hukum pak, kalau bertanya apa itu Dayak kalimantan pasti saya jawab dengan gamblang. "Oke, belajar lagi" Pak Uban kemudian berlalu.. dan saya kalah telak.
Entah kenapa, kemudian beberapa kali Pak Uban meminta saya datang ke ruangan Kajari. Sedikit bercerita tentang kebutuhan informasi. This is it! Kekalahan saya kemarin bisa saya tebus, dengan semangat saya mencerita tentang peta masalah pembunuhan Pendeta, tentang adat istiadat Sumba yang sudah saya pelajarinsetiap hari, dan mencairlah kami dalam berbagai perbincangan. Hubungan yang saya rasakan sedikit khusus, saya tidak sedang dipertintah dan harus bersikap hormat, saya didudukan dan diberi ruang untuk berpendapat. Seorang CPNS berhadapan meja dengan seorang Kajari, mengutarakan pendapat dan saling bercerita tak terasa sampai berjam-jam. Baru nyadar kadang tamu sudah antri di luar, ups!
Duduk berdua dengan Alfa, berbagi keraguan "Fa! Kita mau jadi apa disini? Aku sudah bosen mengetik, adrenalinku udah taraf merangkak, bisa mati menjamur kita disini, jadi seonggok daging yang makin lama membiru dan kehilangan gizi". Mendadak! Menyelinap masuk dan semangatnya itu lho.. "Arie Alfa! Lagi apa? Ya penyelidikan itu gmn? Sudah sampai mana?" Seperti pemadam kebakaran dapat alrm, hebohlah kami berdua buka-buka (pura-pura) buka berkas dan "fa! Harus ada jawaban! Kita kena serangan teroris ini!"
"Oke! Ke ruangan saya! Bawa semua berkas-berkasnya, kita diskusi.. apa pendapat kalian". Begitulah kami, dan begitulah Pak Uban, segala sesuatu bisa sangat mendadak dan spontan! Bisa bayangkan seorang Kajari masuk ke kerumunan perang adat yang sekali lentik saja panah bisa menembus dada? Mengacungkan kepalan tangan ke atas "berhenti kalian!", atau bapak tua itu mendadak turun bendungan yang kurang ditahu seberapa dalam airnya, ajudan kalang kabut apalagi kita? "Ari! Alfa! Ayok turun lapangan, kita lihat proyek" merasakan penyelidikan ke lapangan langsung bersama dengan Kajari. Lebih ekstrem! Eksekusi terpidana yang sudah berkerumun keluarga dengan acungan parang, Kajari datang sendiri dan dengan sapaan yang bersahabat mendadak emosi sekerumunan massa itu luntur dan Kajari sendiri menyopiri mobil berdua saja dengan terpidana, meluncur menerobos lampu merah, dan eksekusi pun lancar. Kurang apalagi dentuman jantung kami?
"Ari Alfa! Kalian jadi Jaksa, lakukan! Kita dipercaya Negara untuk memegang pistol, tinggal kemana arah pistol itu kita tembakan. Pakai hati nurani, jangan orang tidak salah kita zolimi! Jangan cari uang! Belajar.. jadi Jaksa yang pinter, uang tidak dikuatirkan. Jadi Jaksa yang bener.. dulun saya seperti kalian, saya masih pegawai berdua keliling untuk mencari kasus, disana saya belajar, lakukan! Jangan takut ketika benar!" Dari diskusi di meja Kajari, berdebat setuju dan tidak, alam pikir bebas di meja itu, bahkan mendebat cara pandang Kajari sangat leluasa di meja dengan sajian Teh Kotak itu, berdua CPNS kamilah yang paling beruntung. "Beresin berkasnya kita bawa ke Rumah Jabatan, ibuk sudah masakin buat kalian... kita lanjut di rumah", sambil makan APBD dan Kontrak menjadi menu segar otak kami. Kekenyangan, tawa terbahak, serius melototi buku-buku tebal, saling mendebat, menggunjingi kinerja aparat daerah tiap malam kami lalui itu. Pak Uban, serasa muda sekali... membaur dengan candaan kami anak baru gede ini, "Ari! Alfa! Lakukan.. jangan takut!".
Serasa lengkap, kami didewasakan soal penanganan hukum... dibelakang ibuk mendorong kami juga untuk matang dalam rona-rona hidup. "Kalian sudah makan? Ayo sini ibuk tunggu di Rujab ya". Kami jauh dari ibuk kandung yang di seberang pulau sana. Tapi kami tak kehilangan ibu, masakan rumah yang menjadi obat kangen, sumpah soup merah nya enak banget! Dan selalu minumnya teh kotak smile emoticon Rumah itu dengan banyak "mainan" kayunya Pak Uban, biasa kami berkumpul di dapur. Saya bagian ngupas bawang dan cuci piring, Yusuf tanggung jawab masak dan alfa bertugas melawak.. hahaha. Nanti ibuk sambil bercerita, dan sepertinya suka memancing karna entah kenapa kami biasa langsung cerita masalah-masalah pribadi dan ibuk memberikan jalan keluar atau hanya sekedar mendengarkan, kadang sedikit menangis mengeluarkan air mata saat kami terharu, bahkan sampai terbahak-bahak dengan kelucuan Alfa, dan tetes airmata lagi. Begitulah kami...
Sabtu, sering diajak bersembunyi ke Sumba Nautil. Disana disuatu meja di bawah pohon kami dinner dan sambil mencerita, dan lagi... tertawa! Hehe. Sebuah pelampiasan saya yang kadang serasa anak tiri, beberapa kali melewatkan saat-saat bersama karena harus tugas ke Kupang atau pas pulang ke Jawa, Sumba Nautil selalu menjadi penebusan. Seharian beristirahat bareng Bapak Ibuk Uban, dan Mr. Ali dengan makanan enaknya menjamu kami langsung dengan sentuhan tuan rumah.
Duhh Bapak Ibu Uban. Saya memang pecundang. Saya berani memulai hubungan anak dan orang tua tapi saya takut perpisahan. Saya menyusun rencana dengan sengaja untuk melewatkannya. Kuda Marmer, terpilih tanpa ada ucapan kata apapun. Kudanya adalah Sumba dan Marmernya adalah asli Tulungagung pak.. buk.., menyatu semoga menjadi pengingat Danang Ari Wibowo yang bersama di Sumba dan asli anak Tulungagung. Menjadi anak sejak menapakan diri di Sumba, menjadi murid yang telah belajar banyak sekalipun terasa masih sangat kurang.
Sebuah lagu bercerita "Tuhan lindungi Bapak Ibuk ku, Air mata yang ditabur pasti dituai bahagia!" Berulang saya panjatkan. Kehadiran Bapak Ibu pertamanya sejak saya berseragam Kejaksaan. Membekas dan memaku diri, bagaimana saya harus menjadi jiwa Jaksa.
Meja itu kini tak bertuan, dan mungkin diskusi dan berdebat akan terhenti dalam waktu yang lama. Saya menysukuri.. mengucap syukur! Jalan masih panjang dan paku guru itu akan selalu saya pegang, ijinkan mampir saat hilang arah dan menjenguk dalam keceriaan.
Trimakasih Bapak Ibuk ku
Trimakasih Kajari ku
Hormat dan pelukan cinta
Bukan perpisahah
Jarak hanya Penanda Rindu
Trimakasih Kajari ku
Hormat dan pelukan cinta
Bukan perpisahah
Jarak hanya Penanda Rindu
Penanda untuk segera kembali berjumpa
Mengisi kembali Meja itu dengan makanan dan debat diskusi
Meneteskan air mata dan gemuruh tawa yang terbahak.
Mengisi kembali Meja itu dengan makanan dan debat diskusi
Meneteskan air mata dan gemuruh tawa yang terbahak.
#Ditulis di dalam gerbong kereta Yogyakarta-Surabaya
Masih dalam jiwa pecundang yang takut berpisah
Menangis tiada berani
Mendekap janji dan mimpi
Segera bertemu lagi!
Masih dalam jiwa pecundang yang takut berpisah
Menangis tiada berani
Mendekap janji dan mimpi
Segera bertemu lagi!

