Minggu, 09 Agustus 2015

JAKSA ATAU PEDAGANG ?

Iya! Kalau tidak mampu berintegritas dan berfikir layaknya Jaksa, larinya pasti jadi pedagang. Pedagang itu prioritasnya adalah kepuasan pelanggan, menerima pesanan dan melakukan yang terbaik untuk pelanggan!
Hilang nurani dan nalurinya sebagai Jaksa, terbeban moral dan mentalnya sebagai pedagang, sehingga tidak lagi berpedang dan memegang timbangan keadilan namun untung rugi yang dikedepankan. Jiwanya bukan lagi menegakan adil, tapi memperdagangkan hukum, memuaskan pesanan dan tumpulah dia!
Atau kalau tidak, pedagang kurang keren! Sekarang Jaksa era nya jadi mesin pembunuh. Siapa benci siapa, pangkat dan lencananya digunakan untuk membidik sasaran... bukan sasaran kriminal, tapi sasaran kebencian! Untuk apa? Untuk kepuasan batin nya yang kadang2 terbantu oleh pesanan, eh! Balik2 lg dagangan, pedagang lagi.
Memang! Ada padi dan kapas di lambang Kejaksaan, sejahterakan dan bahagiakan! Namun jangan ada di dirimu hanya padi dan kapas! Menyejahterakan diri dengan melupa bahwa tangan kanan kirimu memegang erat pedang dan timbangan.
Pakailah pedang dan timbanglah dengan matang. Jangan hanya pandai menusuk dan merontokan padi dan kapas! Hingga dirimu tertimbun oleh nya. Timbanglah! Ukurlah! Tutup matamu dengan kain hitam dan menimbanglah... Pedang, Timbangan, Padi dan Kapas haruslah berjalan bersama. Ketiganya akan mencapai tiga bintang di atas! Satya! Adhi! Wicaksana!
Jaksa! Jangan jadikan dirimu hanya serendah pedagang!

APA GUNANYA BPJS SIH ???

Pernah bertanya pada pegawai BPJS "Pak, jika pengelolaan BPJS untuk Puskesmas ndak bener, instansi anda sebagai penghimpun dan pembagi dana kesehatan masyarakat merasa rugi ga?"
Bapaknya menjawab diplomatis " Kami cuma bertugas membagi Dana Kapitasi BPJS kepada Puskesmas sesuai daftar Kapita/Peserta nya pak, kami tidak punya wewenang mengontrol dana tersebut bagaimana penggunaanya, semua menjadi wewenang Puskesmas, Dinas Kesehatan dan secara umum pemerintah daerah yang bersangkutan"
Oke, jadi BPJS ini tugasnya menghimpun dana masyarakat, menaruh kembali dana tersebut ke puskesmas, trus cuek ga tahu menahu uang itu bakal digunakan untuk apa...
Lupakan Bapak pegawai BPJS itu, lalu dana itu bagaimana nasip nya??
Dana BPJS puskesmas mulai dibagikan ke puskesmas per Januari 2014, dan saat itu Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) yang mengatur pengelolaan dana tersebut belum diterbitkan. Januari hingga Mei, dana tersebut ditaruh di Kas Daerah. Permenkes terbit Mei, dan sejak Juni 2014 Puskesmas diminta bikin rekening dan saat itu jg dana BPJS ditransfer langsung ke Puskesmas untuk dikelola.
Dana BPJS digunakan oleh puskesmas untuk beli obat dan menunjang alat kesehatan masyarakat, tentunya disesuaikan dengan kebutuhan daerah.
Sedikit melenceng, APBD di setiap Kabupaten sudah menganggarkan Obat dan Alat Kesehatan setiap tahun untuk Puskesmas yang jumlahnya besar lho... 
Terfikirkan ga? Kalau BPJS menanggung Obat dan Alat Kesehatan sementara APBD juga belanja Obat dan Alat Kesehatan, beruntung sekali ya bangsaku ini... dimanjakan sekali dengan Obat dan Alat Kesehatan yang melimpah ruah. Pertama-tama, mengucap trimakasih BPJS, trimakasih Pemerintah daerah ‪#‎senyum‬ sengit 
frown emoticon
So? What the problem??
Berandai-andai jika dana tersebut sudah disetor ke Puskesmas (karena ada fakta daerah yang takut puskesmasnya nilep uang, dana BPJS ditarik lg dan di simpan di Kas Daerah, berganti tahun dana tersebut menjadi Silpa, dan mbuh akhirnya bagaimana nasibnya), kemudian Puskesmas mau beli obat. Pembelian obat ada dua mekanisme yaitu E-Katalog dan Lelang, bisa bayangin ga Puskesmas buka lelang di LPSE?
Bisa membayangkan ga puskesmas secara mandiri membeli dari E-Katalog? Yang selama tahun 2014 programnya ga jelas, berhenti total!! (saya sudah survey di 3 kabupaten, sampai detik ini E-Katalog belum berjalan) Lalu, obat dari APBD harus mengikuti mekanisme keuangan daerah dan Pengadaanya selesai di akhir tahun. Selama satu tahun puskesmas ga ada obat!!! ‪#‎nada‬ marah dan hati sakit bgt 
frown emoticon
Modusnya kemudian adalah Dinas Kesehatan memerintahkan, "Jangan beli obat dulu, menunggu E-Katalog sehingga beli obatnya bersamaan seluruh puskesmas sekabupaten". Kapan?? Keburu mati semua pasien di desa2. Sementara, dana BPJS masih tersimpan dengan cantik di Kas Daerah atau di Rekening Puskesmas.
Dengan kondisi demikian, pasien harus membeli obat di apotik terdekat, dengan uang siapa? Uang nya Kepala Dinas Kesehatan? Sudah miskin disuruh bayar premi BPJS masih harus beli obat sendiri gara2 Puskesmas habis obat. Iya kalau di Apotik ada obatnya, kalau tidak???
APBD, soal obat dan Alat Kesehatan. Modus! BPJS harusnya menutup ruang bagi APBD untuk menganggarkan obat dan alat kesehatan. Kenapa? Karena BPJS harusnya sudah menanggungnya. Sekarang silahkan anda pergi ke puskesmas2 terdekat, sudahkah puskesmas menggunakan dana BPJS untuk beli obat dan alat kesehatan??!
Dana BPJS tersimpan rapi dan bisa dibilang ditahan dengan cantik, supaya APBD tetap menganggarkan obat dan alat kesehatan. Kenapa? Supaya tetap ada lelang dari dana APBD, dan disana korupsi muncul baik Mark Up dan kecurangan lain. Sayang to, kalau ga ada lelang siapa yang menghidupi kontraktor2 obat itu?? Apalagi kontraktor yang tidak lulus LKPP dan tidak bisa bergabung di program E-Katalog. Kontraktor untung banyak.. bisa dibayangkan kan siapa lagi yang diuntungkan?!
Alat kesehatan, jika BPJS berjalan maka Puskesmas tahu kebutuhannya dan bisa belanja sendiri. Puskesmas yang tidak ada listrik ya tidak mungkin kan membeli inkubator atau rekam jantung. Lalu kalau dana BPJS ditahan dan APBD dibelanjakan, pembelian alat kesehatan adalah semau dan sekehendak yang di atas. Tiba2 membeli inkubator untuk seluruh puskesmas, senyampainya di puskesmas ga bisa terpakai karena listrik belum terhubung, belum lagi tenaga medisnya belum menguasai penggunaanya, bayi bisa gosong terpanggang!
Ada apa dengan Negaraku ini?? Menangis lho kalau anda peduli dengan hal ini. Jalan2 lah, main ke puskesmas... yang notabene disana berkumpul orang miskin dan di desa2 untuk berobat. Pasien mati hanya karena tidak ada obat, tidak punya uang untuk beli obat dan infus sendiri, sementara dana BPJS yang miliaran di setiap kabupaten, duduk tersimpan cantik. Dana BPJS bahkan ada yang ditarik ke Kas Daerah, menunggu pergantian anggaran, berubah menjadi Silpa, terus digunakan untuk kegiatan2 di luar kebutuhan Puskesmas, hilang dehhhh dimakan tikus2 berambut hitam.
Saya sedih, anda pun iya pastinya. Lalu BPJS itu penting ngga? Saya tidak membahas haram atau halal, tapi bertanya penting atau tidak??
Salam kemelaratan bangsaku, salam kemerosotan moral bangsaku, selamat berjaya korupsi 
frown emoticon

Kenapa Susah Membeli Tanah di Yogyakarta ?

KENAPA YOGYAKARTA ISTIMEWA??
‪#‎buka‬-buka Skripsi 5 tahun lalu

Wilayah Hindia Belanda terdiri atas dua bentuk penguasaan. Wilayah yang diperintah langsung oleh Pemerintah Hindia Belanda (Rechtstreeks Bestuurgebeid yang didasarkan atas Domein Verclaring) dan wilayah yang diperintah oleh Zelfbestuurders atau Swapraja yang diatur dalam Indische Staatsregeling 1855 Pasal 21 dengan "penguasa" yang disebut sebagai Zelfbestuurder Lansdchapen (Sultan, Sunan, Raja).
Yogyakarta terlepas dari kekuasaan Surakarta Hadiningrat sejak Perjanjian Gianti tahun 1755, dan sejak saat itu Pangeran Mangkubumi berdiri secara hukum sebagai Zelfbestuurder Landschapen dan mampu menjadi Subjek Hukum untuk melakukan perjanjian termasuk dengan Gubernur Jendral Hindia Belanda sebagai pemegang kekuasaan Rechtstreeks Bestuurgebeid Hindia Belanda.
Setiap naik tahta seorang Sultan harus memperjanjikan kontrak kerja dengan Hindia Belanda melalui Lange contract (perjanjian panjang) atau Korte Verklaring (perjanjian pendek). Perjanjian adalah bentuk persamaan dalam hukum sehingga membuktikan bahwa pada era Kolonialisme Belanda Yogyakarta adalah negara Merdeka. Kerajaan Belanda membentuk suatu Kerajaan Serikat dimana Yogyakarta dan Hindia Belanda sebagai kerajaan yang merdeka dan berkedudukan hukum sama di hadapan Ratu Belanda (Staatsblaad 1941 Nomor 47)
Status ini berdampak pada penguasaan wilayah dan kepemilikan tanah. Pada era Kolonialisme, Yogyakarta membagi wilayahnya dalam Pranata Patuh (kepatuhan/kebekelan) atau Rijksblad terkait beberapa status kepemilikan tanah yang dikelola oleh lembaga Keraton Kawedanan Hageng Punokawan Wahono Sarto Kriyo:
1. Tanah Keraton Ndalem yaitu Keprabon Dalem (Crown Domein) dan Dede Keprabon Dalem(Rijks Domein);
2. Sultan Grond, Tanah di luar tembok Keraton yang dikuasakan kepada Pepatih Njobo dan dikelola oleh para Adipati, Bupati, Camat, Lurah dan Masyarakat luar.
3. Tanah pendapatan Lurah (Bengkok)
4. Tanah Pensiunan (Pengarem-arem)
5. Tanah Andarbe/handarbeni (Hak Milik Adat ) Rijksblad 1925 No. 23 (erflijk individueel bezit recht).
6. Tanah Anganggo Turun Temurun semacam Hak Pakai Adat (erflijk individueel gebruijk recht).
7. Magersari (Hak pakai tanah untuk yang telah berjasa pada Sultan : Abdi Dalem)

Pada tahun 1942, Belanda mengalami kekalahan atas Jepang dan Status Yogyakarta berubah menjadi Kooti sebagai Kota Merdeka. Sejak status Kooti diberlakukan Lange Kontrak antara Yogyakarta dan Hindia Belanda yang ditandatangani saat Penobatan Sultan Hamengkubuwono IX tahun 1940 telah berakhir dan Yogyakarta tidak lagi terikat secara perjanjian dengan Belanda.
Pada tahun 1945 Yogyakarta menyatakan diri bergabung ke dalam perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia dengan Maklumat Sultan 5 September 1945. Pada tahun 1949 dilaksanakan perjanjian Meja Bundar yang menyatakan bahwa seluruh bekas jajahan Hindia Belanda menjadi Wilayah Republik Indonesia Serikat. Bagaimana dengan Yogyakarta??? termasuk bekas jajahan Hindia Belanda? tentu tidak!!
Dengan sifat Republik Indonesia Serikat yang memungkinkan adanya Negara dalam sebuah Negara, dibentuklah sebuah Daerah Istimewa (Negara Bagian / State) berdasarkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dengan dasar tersebut, sebelum Indonesia menggalakan Land Reform UU Agraria tahun 1960, pada Peratudan Daerah Istimewa Yogyakarta No. 5 Tahun 1954 Yogyakarta telah mempelopori pengelolaan hak-hak atas tanah. Hak Anganggo Turun Temurun yang telah ada pada warga masyarakat ditingkatkan menjadi Hak Milik perorangan turun-temurun berdasarkan pasal 4 Peraturan Daerah Istimewa Yogyakarta No. 5 Tahun 1954. Sehingga Tanah Andarbe dan Tanah Anganggo Turun Temurun telah dilepaskan dari pengarus Sultan Grond dan sudah dianggap sebagai Hak Milik Perorangan yang terlepas dari keterikatan adat dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Pada tahun 1960 diundangkan peraturan Agraria UUPA, namun tidak dapat diberlakukan di Yogyakarta. UUPA baru dapat dilaksanakan di Yogyakarta pada tahun 1984 dan itu pun hanya berlaku untuk Tanah Eigendom, Tanah Andarbe dan Tanah Anganggo Turun Temurun yang diubah menjadi Hak Milik menurut UUPA karena telah terlepas dari kewenangan kepemilikan Keraton.
Bagaimana dengan Tanah Sultan Grond yang masih merupakan milik adat Keraton Yogyakarta? akankah dirampok oleh Republik Indonesia dan diakui sebagai Tanah Negara? dengan dasar apa Republik Indonesia menguasai tanah Sultan Grond? Hasil Perjanjian Meja Bundar tidak menyatakan bahwa Keraton Yogyakarta adalah bekas jajahan Hindia Belanda, sehingga Wilayah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat bukanlah wilayah bagian dari kekuasaan Pemerintah Republik Indonesia.
Dengan pertimbangan ini, memang susah dan berhati-hati bagi anda yang akan membeli tanah di wilayah Yogyakarta. Tidak semua tanah dapat dikonversi menjadi Tanah dengan Sertifikat Hak Milik. Surya Prasandi yang mau investasi tanah dan properti di Yogyakarta harus baca ini.. hehehe.‪#‎terbuka‬ lebar untuk konsultasi dan biaya bisa Nego Temen 
smile emoticon
Yogyakarta Istimewa! Salam....

PEMIKIR ATAU PEKERJA ?

Pagi hari dan seringkali meroket petuah orang tua "Ayo bangun! Rejeki udah dipatok ayam itu!" Membentuk karakter anak "memaksa untuk menjadi pekerja". Memang akan lumayan asing bagi kita jika ada orang tua berkata pada anaknya " tidurlah nak, bermimpilah" atau "jangan pulang terlalu awal, bersosialisasilah". Kita akan dihadapkan pada pembanding, seproduktif apa nanti anak-anak kita? Ukuran apa yang akan kita pakai? Sudah tahukah kita bahwa secara psikologis, banyak sekali potensi yang harusnya tidak hanya dinilai hanya dari batas2 waktu dan jadwal konvensional?
Bangsa ini sudah terlalu menjudge dirinya sebagai pemalas. Apakah betul? Jangan2 memang bukan type Pekerja? Seharusnya adalah Pemikir dan Pemimpi?
TYPE PEKERJA
Karakter Pekerja adalah orang yang menghargai ketepatan waktu, dunianya adalah bekerja dan realistis. Apa yang bisa dalam benaknya harus dikerjakan, bekerjalah dia. Prestasi terpenting dalam hidupnya adalah pujian, semakin dipuji semakin bersemangat dia. Pekerja membungkus dirinya dalam jadwal konfensional. Jam 7 pagi tepat adalah jam mulai dia bekerja, dan jam 4 sore adalah saat pulang. Mau lembur?? Lembur nya adalah harga mahal, karena harus merusak ritme selanjutnya. Saat lembur, Pekerja mengharapkan pujian dan akan cemburu membabi buta jika melihat orang lain tidak seproduktif dia.

Pekerja melandasi dirinya dengan jadwal dan target, sehingga pola hidupnya sangat Linier. Waktu nya sangat terjadwal sehingga akan marah jika ada keterlambatan. Menghimpun semua orang untuk produktif sesuai standart hasilnya. Saking cemburunya, Pekerja akan cenderung malas bekerjasama dan bersosialisasi, memilih sendiri dan menyelesaikan kerja hingga tuntas. Karakter ini menghasilkan jiwa ansosial, berdiri sendiri, sibuk sendiri, lebih cepat istirahat, cepat bangun pagi dan kembali bekerja. Pekerja kurang bergaul karena baginya terlalu basa basi dan sia-sia.
Pekerja kemudian adalah jiwa yang teratur, menghindari konflik dan tantangan namun lebih detail mengerjakan tugasnya. Jarang sekali dihadapkan pada masalah, sehingga problem solvingnya rendah, ketika terjadi masalah mungkin malah kurang peka, dan malas untuk berkecimpung. Namun tunggu dulu! Jangan lupakan kecemburuannya, Pekerja adalah perfectionist sehingga ketidakteraturan tidak boleh ada di depan mata nya. Pekerja sangat peduli untuk meluruskan yang menurutnta tidak tepat, mengomentari orang lain yang malas dan merapikan ketidakteraturan di depannya. Sekali lagi, karena pujian adalah yang terpenting baginya, dia harus nomor satu! Kalau perlu membangun image buruk orang lain yang malas menurutnya, supaya semua orang tau dia lah yang rajin, hasil pekerjaanya harus dihargai dan dihormati.
TYPE PEMIKIR
Kebiasaan telat dan melanggar ketertiban sering diderita oleh Pemikir. Dia tedak peduli anggapan orang dan tidak terbeban oleh jadwal dan target. Jiwanya adalah analis yang menaruh kepuasannya pada hal-hal sulit, hidupnya ditaruh dalam tataran idealis. Pemikir cenderung cuek dengan waktu, baginya pencapaian bukan dari selesainya pekerjaan, namun ada pada prosesnya. Jangan memberi pujian pada Pemikir, hal itu membuat dia gatal2. Berilah masalah dan pertimbangan, hal itu adalah makanan sehat baginya.

Pemikir adalah Non Linier, otaknya mampu bercabang2 dan menggapai semua titik yang jauh. Pemikir terlihat malas dan hanya suka mengobrol dan membaca, hal itu asupan gizi baginya. Saat Pekerja sudah tertidur lelap, Pemikir masih merasakan loncatan2 pikiran di kepalanya, kemudian mencari teman atau browsing internet untuk berdiskusi dan memuaskan kehausannya akan wawasan. Alhasil Pemikir seringkali telat bangun dan terlambat bekerja. Pemikir lebih suka membangun sosial dan pertemanan, masuk ke semua kalangan dan menciptakan diskusi. Makanan otaknya adalah mencuri isi otak orang lain dengan diskusi, serta terlihat menganggur membuka browsing internet sekalipun hanya media sosial. Semua gizi otak tersebut ditabung dalam otak, dan saat ada masalah atau materi sulit dihadapannya segala stimultan akan muncul dan digunakannya untuk menganalisa dan memecahkan masalah.
Pemikir adalah jiwa yang cuek, tidak perduli apa aturan dan apa anggapan orang. Sehingga kecemburuanya bukan pada hasil yang dicapai teman, namun pada daya saing. Pemikir cenderung inovator dan suka bersaing, baginya tak rela jika ada proses yang lebih cerdik, atau lehih lihai daripadanya. Jiwa analisnya tinggi dan membentuk sifat diplomatif. Senyum di depan anda sambil menganguk, namun sebenarnya otaknya sedang berstrategi.
Pemikir kurang rajin, apalagi ketika harus menjalankan rutinitas yang baginya terlalu cemen. Pemikir kurang rapi, ketidakteraturan bahkan mungkin jadi rumah terbaiknya, abstrak dan berwarna warni. Kondisi ini melatih otaknya untuk melihat semua sisi dan membentuk pola pikir Out Of The Box.
LALU??
Jangan lagi takut keduluan Ayam, jangan rebutan rejeki dengan Ayam! Kenali saja karaktermu, dan memaksimalkannya. Jangan memaksa orang tunduk pada satu karakter. Kelola karakter dan fokus pada tujuan yang dicapai. Baik Pemikir maupun Pekerja memiliki ambisi dalam dirinya, sehingga keduanya memiliki caranya sendiri untuk mewujudkan pencapaian2nya masing2. Keberuntungan bagi anda, jika mampu membaca karakter dan mengelolanya, Pekerja Dan Pemikir akan menyumbang harta karun yang besar buat Anda!

ADA APA DENGAN ORANG TUA ???

Sayangku Dareina Kriwil pernah ditanya oleh mantan dosennya, setelah memperlihatkan fotoku "lho, ini kan masih muda! Katanya seleranya sudah yang tua-tua??" Maaf mengkutip tanpa izin ya sayang "lho jangan salah pak Dosesn, Pangeranku ini muda cuma casingnya, isi dalemnya tua!" Haha.
Begitulah berlalu dan kemudian merenung "iya yaa, kok pemikiran dan seleraku kuno bgt, aku tua!"
Agak aneh memang, dari kecil saya sudah sangat suka Wayang dan Gamelan, di saat teman yang lain bermain kelereng dan miniatur truck, saya lebih suka memainkan Wayang Golek dan menonton ibuk saya bernyanyi Keroncong dengan alat musik Kulintang. Saat yang lain suka menonton film Dragon Ball, saya lebih suka mendengarkan Mbah Sukani dan Mbah Sukarji menceritakan Babat Tanah Jawi dan agama Kejawen. Saat kuliahpun, teman yang lain lebih suka menonton XXI, saya meluncur ke Keraton Ngayogyakarta, 5 jam saya habiskan untuk menonton Tarian dan Gamelan klasik di Bangsal Srimanganti.
Apa yang salah dengan saya?
Waktu kecil, hari-hari saya habiskan bersama seorang nenek Mak Sakinah (saat itu berumur 55 tahun), seperti orang tua beliaulah yang mengasuh saya dari bangun tidur hingga beranjak tidur di malam hari. Saya mengamati setiap hari bagaimana Mak Sakinah menggelung konde dan memakai jarit (kain batik), berkebaya setiap harinya dan sampai kelas 5 SD, saya pertama kali merasa sedihnya ditinggal oleh orang terkasih. Membentuk dasar cara berfikir, usia kecilku diisi oleh kebiasaan orang tua, lembut dan patuh.
Pada usia kelas SMP, Mbah Sukarji dan Mbah Sukani yang menyumbang banyak dalam proses berfikir. Mengajak nonton Wayang Kulit hingga pagi hari dan memperkenalkan tokoh-tokoh pewayangan. Mungkin pola pikir struktural saya warisi di masa SMP. Saya memilah mana yang klenik dan mana pengetahuan politik masa lalu bisa saya kenal saat remaja.
Usia SMA, saya menimba ilmu dari Kapten Yohanis G. Panny seorang misionaris Salvation Army yang mengkarbit saya mengenai religiusitas. Saya diajarkan tentang Iman di dalam hati, dan tangan tertuju pada kemanusiaan. Saya di sumpah untuk tidak merokok dan meminum minuman keras di bawah Bendera Bala Keselamatan, dan Puji Tuhan saya terhindar dari kenakalan remaja, saya melesat pada cita-cita yang tinggi untuk menjadi "orang". Kembali saya bersedih karena beliau dipindah tugaskan dan saya harus menempuh kuliah di Yogyakarta.
Saat kuliah saya "agak" hilang arah. Tidak lagi penurut dan tertib, saya kurang menghargai pekerjaan, pelajaran dan hidup organisasi pun tidak lagi maksimal. Kebanyakan "gleya gleye" dan kuliahpun ditempuh sangat lama. Kesibukan ffstifal bersama PSM UGM, nilai IP pun sempat 1,8! Oooh poor me! Lalu saya bertemu dengan bapak kos baru, KRT. Soesilo ( saya agak lupa namanya) pensiunan militer yang kemudian menjabat sebagai Kepala Rumah Tangga Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Mengingatkan saya untuk geti dalam menyusun masa depan. Sangat sering kami mengobrol dan beliau yang sudah sangat uzur, dengan semangatnya menjelaskan bahwa, saat tua nanti penyesalah paling besar kalau tidak punya kesan besar di saat masih muda. Saat tua hanyalah saat mengenang dan bercerita bahwa ketika muda kita bukanlah seonggok sampah yang merusak pemandangan mata. Harus menjadi sesuatu, biar dipandang indah oleh mata orang, sembari di dalam diri dibangun kehidupan yang baik. Menampar! Dan membangunkan untuk segera menyelesaikan kuliah.
Saat bimbingan skripsi, lagi2 mendapat dosen pembimbing yang adalah "orang tua". Pak Sudjito, SH. MH sekalipun dengan gelar yang tidak begitu panjang namun beliau dalah senior Bidang Agraria dan Perdata Hukum UGM. Nderek bimbingan beliau saat UU keistimewaan Yogyakarta sedang disusun dan beliau masuk dalam tim perancang. Lagi-lagi beliau adalah pangkat Bupati dalam struktural Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta, sehingga kawruh yang diwariskan kepada saya adalah perjuangan meletakan Yogyakarta sebagai Institusi yang "merdiko" dalam pengurusan perdata dan agraria. Awalnya saya menyrengitkan dahi dan tidak setuju, ini adalah upaya disintregasi bangsa! Namun dari cara pandang dan keilmuan beliau lah pola pikir out of the box saya dapat. Menyusun dasar hukum dari mulai Perjanjian Gianti tahun 1755, Lange Kontrak dalam Penobatan Sri Sultan HB IX, hingga UU Agraria 1960. Menegaskan cara menyandingkan antara ilmu hukum, logika hukum, dan penyelesaian konflik dengan rambu-rambu hukum. Terciptalah Skripsi yang berdampak banyak bagi para pengguna tanah Sultan Ground yang sekarang dapat memiliki Hak Pakai dan dapat dijaminkan ke Bank serta memiliki nilai ekonomis, di tanah yang dahulunya hanya boleh "meminjam" atas restu Kasultanan Ngayogyajarta.
Saat bekerja di PT. Astra Agro Lestari di pedalaman Kalimantan Timur, saya menjiwai bagaimanaa para orang tua suku Dayak yang sebagian masih bertelinga panjang, berusaha mempertahankan tradisi di tengah gempuran invasi perusahaan sawit yang makin memodernkan wilayahnya. Pernah mengalami konflik adat, satu sisi saya adalah Humas Perusahaan di satu sisi tiap hari saya menimba ilmu dari kepala2 adat. Sangat sedih dirasa saat mereka menangis dan melihat tanah adatnya makin terjajah. Saya telah belajar banyak, mendengarkan filosofi dayak yang ikut teriris hati saat pohon2 yang didoa2 setiap hari harus dirobohkan demi perluasan lahan sawit. Ama Lung Bik, Kepala adat Awing Imang, dan semua orang tua disana saya mengucap terima kasih sudah dibimbing bagaimana cara menyelesaikan demo adat dan bisa berhasil dengan baik. Menyelenggarakan pesta adat yang menjadi upaya pendamaian adat dan perusahaan di tahun 2013. Suatu kenangan yang luar biasa.
Sekarang, saat bekerja di Kejaksaan saya bertemu dengan pak Kajari yang menaruh kesan luar biasa dalam hati. Dengan usia menjelang pensiun, beliau masih sanggup berlomba otak bersama kami yang masih muda, berfikir dan berstrategi menyelesaikan kasus korupsi. Terpancar wejangan di setiap kata, saya mendapatkan kembali "orang tua" yang menanam sesuatu yang penting dalam prinsip hidup. Pintar! Cerdik! Jangan takut! Panggil aja! Semangat! Kata2 yang sangat khas dari beliau, one day saat saya sudah Jaksa, kata2 ini akan sangat terlalu penting buat saya.
Yang terheboh, di ujung masa lajang saya hadir kembali Bapa Tua Daniel Abraham Goma yang adalah Bapa Mantu terkasih, hehehe. Dengan usia nya yang sangat lanjut (78 tahun) dan ego masa lalunya sebagai pejabat dan orang penting, mendatangi saya di pulau kecil Sumba dan berkata " kita sama-sama laki-laki, dan kita akan berbicara sebagai sesama laki-laki" uhukk! Berundinglah kami berdua saling tawar menawar ego laki-laki "anak! Jangan kuatir dengan banyak hal di depan, jalani dengan damai sejahtera!" Dengan tantangan itu saya kemudian menghadap beliau dan meminta putrinya untuk saya nikahi. Pengalaman hidup dari darah Alor, kemudian di masa itu mendapat beasiswa ITB, kembali ke daerah untuk membangun, menempuh pendidikan kembali di Kanada, dan sekarang sebagai generasi tua mendudukan saya dengan telapak tangan yang hangat, menggenggam "harus begitu, harus menjadi berkat, Papa sudah melanglang buana, sekarang saatnya anak untuk menunjukan karya, jangan kuatir segala sesuatu harus damai sejahtera!" Didampingi oleh seorang istri yang masih aktif membedah kandungan, energik dan sigap menyetir mobil kesana kemari. Saya dianugerahi kembali guru-guru usia tua, dengan casing muda ini, saya diisi dengan ilmu dan pengalaman orang tua!
Saya adalah orang paling beruntung di dunia ini! Saya mewarisi pengalaman hidup, harta paling kaya dan digenggam erat. Saya sekarang muda dengan isi tua, mempersiapkan diri untuk tidak menjadi sampah di usia tua. Saya akan terus bercerita, menceritakan hal-hal indah sampai saat saya tua. Saya sudah memiliki segala sesuatu dan saya bercerita 

CINTA MENAKHLUKAN ANGAN

Dua otoritas dalam diri CINTA dan ANGAN, dua penghasut rasa yang jarang sekali bertemu mesra. Memiliki beberapa teman wanita dan mampu menggambarkan kemegahannya dengan mudah serasa ANGAN sangatlah berpihak, namun ketika CINTA itu datang kesulitan bercerita menjadi sangat kuat dan entah kenapa kemegahan itu menjadi sangat biasa. ANGAN itu serasa sangat indah dan terceritakan dengan megah, namun CINTA datang dengan sangat biasa dan mencipta diam.
Mencoba menguak kemana hilangnya kata-kata saat ingin memuji CINTA semeriah memuji ANGAN? Saat ber-ANGAN FUN Girl, dunia serasa indah dan berloncat kesana kemari hanya bercerita kuliner serta tempat-tempat indah. Ber-ANGAN dengan dunia imaginasi, tersenyum lebar dan berandai-andai itulah dunia nyata, tapi ketika yang nyata membangunkan tidur menampar pipi dan senyatanya dunia ANGAN itu adalah mimpi semalam. Sebenarnya CINTA sudah datang sekian lama dan memanjakan diri dengan "FUN Girl" mendampingi kita merasakan bumbu-bumbu sedap dan menggandeng tangan kita di pesona tempat-tempat indah, namun saking seringnya CINTA itu ada bersama kita, kita beranggapan CINTA itu biasa. ANGAN kita cari hingga ke ujung dunia padahal CINTA sudah bersama kita, yang secara nyata menemani kita dalam menikmati apa yang ditawarkan oleh ANGAN. ANGAN hanya singgah sejenak dan hanya memberikan tawaran tanpa menepatinya.
Bersama Fixed Girl kita ber-ANGAN tentang konsep dan hitungan-hitungan seperti apa masa depan hubungan. Mengkalkulasi berbagai sisi dan berkonklusi bahwa ANGAN telah menjanjikan dunia yang serba pasti dan jelas. Dari pandangan jauh, Fixed Girl mengamankan kita dari kekuatiran-kekuatiran bahwa kita akan menjadi Suami kesepian dengan kesibukan istri yang bahagia di waktu dan tempat di pulau seberang, bukan pulau dimana kita berpijak. Fixed Girl menghindarkan kita dari rasa takut itu, dan lagi-lagi ANGAN membuat segala sesuatu serasa fixed, namun senyatanya jauh dari nyata. CINTA ternyata dari pertama datang sudah bersama dengan kita membicarakan banyak hal tentang masa depan. Memberikan gambaran yang menantang "ga cukup sayang 5 juta sebulan! Kebutuhan hari ini semua mahal". Tantangan yang tidak sadar telah mamacu kita untuk tidak menjadi laki-laki biasa, harus menjadi laki-laki super dan mampu memperlancar kebutuhan hidup. CINTA punya rasa dan kepedulian yang secara nyata dan fixed berbicara tentang masa depan. ANGAN memberikan keinginan dan gambaran, namun tidak pada hal kongkrit yang membangun.
Dahulu Vas Bunga cantik yang ditaruh di atas meja dan takut tercabik-cabik ranting, ternyata adalah CINTA yang sudah meramu FUN dan FIXED tanpa diANGAN namun berada bersama selama aku sendiri masih sibuk ber-ANGAN. Kekuatiran, ketakutan, terkaan, dan rasa tak mampu membawaku pada ANGAN yang berlanjut dan CINTA tetap duduk menunggu. ANGAN membawaku menyeberangi pulau-pulau dan mencari wanita, menyerap sari Fun di satu wanita dan Fixed pada wanita lain. Semua indah! Dan mengangkut segala ANGAN, serasa kagum mulut pun dengan mudah memuji dan berandai-andai. ANGAN datang sekali-sekali dan tak pernah tuntas, sehingga menjadi sangat mudah bagi pikiran untuk mengingat dan mulut untuk mengucap pujian. Sementara CINTA? Hadirnya adalah terlalu sering dan selalu ada sehingga mata terbutakan dan mulut tidak lagi latah memuja nya. CINTA selalu dan terlalu hadir dari awal hingga kini, tak ada berubah dan masih tetap sama sehingga jarang sekali pujian itu terucap. Sementara ANGAN tak pernah menetap, bergonta-ganti dan singkat sehingga pujian itu serasa menggelora dan tumpah dengan riuhnya padahal sejatinya tetaplah dia ANGAN dan tak pernah menjaga abadinya.
Saat CINTA itu tetap menunggu disana, terhembus angin kencang dan basah kuyub oleh deras ombak, dia menjadi terasah dan mengkilat. ANGAN datang dan pergi tak pernah singgah lama, karpet merah selalu digelar namun tak pernah bertuan, sementara disana CINTA beralas tanah namun tetap melontarkan senyum. Bukan senyum terlalu mengharap belas kasih, senyumnya adalah keyakinan dengan pasti bahwa tak lama lagi aku akan menghampirinya. CINTA punya kepastian hati bahwa dialah yang akan duduk bersama sekalipun kursi itu sudah kudufuki bergantian bersama ANGAN. CINTA tak pernah kuatir, takut, menerka, dan gelisah melainkan senantiasa bersiap diri jika waktunya datang, kapanpun siap untuk bersanding. CINTA tidak pernah berusaha mengalahkan ANGAN, bahwa cinta telah dan sudah lama menepati dan memberikan apa yang dijanjikan oleh ANGAN. CINTA yakin ANGAN akan berlalu, namun dia tetap berdiri tegak.
CINTA telah meramu dirinya dalam Fun dan Fixed, bukan salah satunya tapi memberikan dua nya sekaligus. Hanya CINTA menampakan dirinya dalam kesetiaan yang kadang terasa hambar, sementara ANGAN datang dan pergi sehinga mengkesankan daya tariknya yang memukau. Namun! Kemanapun kita mengejar ANGAN, dia adalah semu. CINTA lah yang sejati dan senyatanya telah memberikan apa itu ANGAN. CINTA mengandung ANGAN, sehingga tak ada kekuatiran akan ANGAN. Sementara ANGAN tanpa CINTA larinya tak terarah dan terbangnya tanpa tujuan.
CINTA adalah Dareina Kriwil yang sudah sejak dahulu menepati ANGAN ku, mohon maaf sudah lama menunggu dalam kebutaanku, ketika bangun dan membuka mata, engkaulah ANGANku... CINTAku!
Engkau yang berhak menikmati ANGANKU, berbicara masa depan bersamaku, mengurai ANGAN menjadi Fixed dan CINTA menjadi Fun yang keduanya menyatu.
Aku sudah tidak lagi kuatir, tidak lagi takut dan tidak lagi menerka, Vas Bunga yang cantik itu akan kudekap dalam perjalanan jauhku, merasakan sakit tertusuk ranting bersamaku, dan compang-camping bersama keletihanku. Aku tidak lagi ragu karena ANGANku tidak lagi berjarak jauh dari CINTAku!
Kamu! DAREINA ESTHER GOMA 
smile emoticon

MENUJU 100 % !!!

Toret tot tet! Tet tet tet tot tet! Terompet bangun pagi!
Selayaknya perang dengan seketika bunyi itu selalu menggemparkan asrama tiap subuh, bergegas mandi dan berkumpul dilapangan untuk berbaris senam pagi. Berbagai macam rasa perut dan raut muka di pagi hari, terasa pucat dan takut setiap laser Pak Gandoeng sudah menyala-nyala! Serasa Dinosaurus siap menerkam, para calon jaksa seluruh negeri tak ada nyali kalau itu bapak sudah berteriak2 haha.
Pukul 6.30 adalah saat terjadinya kontradiksi, perut yang lapar tapi mata masih mengantuk dan diperangi oleh kewajiban untuk baris berbaris. Untuk makan aja masih harus berbaris "Lapor! Diklat Prajabatan Golongan 3 Angkatan 9 jumlah 40 hadir lengkap! Siaaaaap makan pagi! Laporan selesaiiii!" Hentakan laporan yang serasa terlepas bebas dan tanda untuk makan dimulai. Eh belum! Ternyata kami masih harus dusuk siap dan dengan penyampaian doa makan yang selalu kocak dan mengundang tawa dan lagi2 kami kena marah! Hahaha.
Begitulah setiap hari kami lalui selama hampir sebulan dengan kepatuhan yang munafik, haha! Peace!
Di kelas berbagai cerita kami kenang. Benteng pertahanan tak pernah berhasil kokoh jika perang kantuk melanda, maklum para widyaswara dengan pangkat bintang2 itu bisa muka kecut menghadapi CPNS yang melati satu saja belum genap bisa tidur nyenyak saat pelajaran 
tongue emoticon
 pak Bardan, SH., MH widyaswara pertama yang mengajar Akuntabilitas, entah kenapa selalu hapal saja wajah saya yang berusaha tidur di pojok belakang. Dana aneh beliau slalu manggil saya "mas yang dari Bali" muka mana ku yang mirip orang bali???? Dengggg! Si bli Hady Sunantara dan bliTriarta Kurniawan ente ga malu tuh? Saya dibilang mas2 bali?? Hahaha.

Kedua, widyaswara paling caem ibuk Dra. Wulandari, MM yang selalu memanggil saya yang paling berumur dan harus cepat nikah! Hahaha. Mengajar Komitmen Mutu serasa diajari bimbingan pranikah 
smile emoticon
 tapi yawes karna cantiknya pelajaran dua hari itu terasa segar dan ga bikin ngantuk hehe. Nduk Anita Mai apalagi Nona IdHa LayLa, harus belajar cantik kayak beliau ya.. ingat kalau jalan diperhatikan pinggulnya harus goyang.. 
tongue emoticon
Bapak Isnoe Iksan, SH., MH yang gemar sekali manggil saya "hey Tulungagung!", hahaha percaya ga percaya bapak ini saya pavoritkan 
tongue emoticon
udah bintang dua di pundaknya masih mau melayani murid2 bebal seperti kita. "Ayo tulungagung, ngomong sendiri aja dari tadi, apa pendapatmu tentang Garuda Pancasila? Kenapa kepalanya menghadap kanan??" Dengggg, susah jadi murid kalau dihapalin sama dosen... dikit2 ditunjuk suruh jawab hahahaha. Proud to be your pavorite student sir! Hahaha. Sebanding lah dengan popularitas bang Mohamad Ibnu Sarjana Hukum 
tongue emoticon
.

Pak Fri Hartono SH., MH. yang flamboyan dan parlente banget, mengajar etika publik dan banyak nonton film nya, hehehe. Entah kenapa kita selalu tegang kalau diajar beliau ya?? Hahaha. Setiap pelajaran dimulai, sibuk bgt ajudan kesana kemari membenahi laptop. Ya maklum lah bapak Kepala Bidang Program ini masuk dari salah satu penentu kelulusan para peserta Prajab. Baik2 lah dihadapan beliau. Sampai2 ada ibu suster ku yang selalu menjaga kalau2 saya ngantuk jegek Twinna Oktaviani hahaha.
Yang terakhir yang paling macho, Bapak Daniel Palapia. SH. Itu kelas semacam milik kita berdua hehehe. Kalau sudah bahas Anti Korupsi entah kenapa seluruh kelas terdiam dan ga dong istilah2 hahaha. Bayu Teguh? Hahaha. Mungkin dengan latar belakangnya sebagai pendobrak wilayah Maluku beliau ingin calon jaksa harus paham korupsi. Terakhir sebelum presentasi Rancangan, beliau memanggil saya dan sedikit kecewa ternyata beliau bukan penguji saya. Sudah kangen beliau berdebat tentang penanganan korupsi 
smile emoticon
Setiap siswa pun punya karakter2 unik. Muhamad Ibnu Sarjana Hukum (kalau manggil dia harus dengan embwl2 sarjana hukum) dengan penguasaan teory nya dari Ki Hajar Dewantara sampai pada Dinasti Yuan Korea Selatan yang selalu menyertai dan dikutip di tiap diakusi hahahaha. Sampai kita semua menjulukinya Perpustakaan Berjalan. Anita Maimunah yang paling sekseeeh dan slalu Stand Up Comedy mengocak perut, BliKisnu Gupta yang berwibawa dan penuh kharisma kepemimpinan 
tongue emoticon
, Mba Ajeng yang selalu berebut kue coffie break, pasangan Upin Ipin ku si Triarta, room mate ku Bayu Teguh, Mba Idha laki2 yang terjebak dalam jasmani perempuan ups! Hahahaha. Jegek twina yang imut2 penuh pesoana. Di pojok sana ada yang lg ingusan dan menutup muka dwngan cadar jegek Dripta Yanti hehehe. Mas Dicky Aditya yang selalu mengantuk dan membongkar tawa seluruh kelas, si Phetuck Jun yang belum cukup umur, yang selalu diam dan cool Anjar Rudi, si raja telat Jojon Lumban Gaol hahaha, mba Anjas Mega Lestari yang suka berbagi kertas dan permen, Senior Aristoteles Hanafiah. Dan teman2 lain yang tak terlupakan.

Kelas 9 penuh kenangan! Grogi yang menyerang tiap ditunjuk sebagai danton dengan laporan yang gagap itu sudah tidak ada lagi, muka bengkak dan pucat saat harus lari di sat subuh sudah tidak lagi, laser pak Gandoeng yang bikin keder itu sudah tidak menyala2 lagi, dan bunyi terompet 5 kali sehari itu sudah sangat ngangenin.. kita pun terpisah lagi oleh pulau2 dan lautan Nusantara. One day! Kita akan menjadi sukses seperti masa2 jaya para widyaswara itu, dengan bintang2 di pundak dan kuasa di telunjuk jari, hati tetap rendah dan saling menyapa. Dalam bilik2 kamar dan meja2 belajar itu kita memulai semuanya dan disana lah kita akan berkumpul lahi bercerita kenangan. SALAM SUKSES ANGKATAN 9! ‪#‎Mbrebes‬ mili 
smile emoticon
Trimakasih sayangku Dareina Kriwil untuk dukungan selama prajab, bentar lagi tahapan 100 % untuk yang lain 
tongue emoticon

SIAPA YANG SALAH ??? (HUKUM)

Beberapa kali berkesempatan memeriksa Panitia Pemeriksa/Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP) dalam penanganan kasus Tindak Pidana Korupsi, pada hampir semua pihak yang diperiksa tersimpulkan suatu rangkaian kelatahan pengelolaan anggaran daerah yang sangat tidak bertanggung jawab.
Gertakan gigi dan muka gemes tidak pernah bisa ditolak saat muncul ungkapan " pak, sebenarnya kami ini berkali2 menolak untuk menjadi PPHP, saya tidak punya kemampuan untuk itu saya orang sosiologi dan disuruh menilai pekerjaan teknis apa yg bisa saya hasilkan?? Tapi ini Surat Keputusan dari Bupati, bagaimana saya bisa menolak pak?" Dan ujungnya, beberapa dan hampir semua (mohon dicatat!) Proyek2 pemerintah daerah itu tidak diperiksa hasilnya dan di-PHO-kan (Professional Hand Over) dengan sangat mudah.
Apa hubungan PPHP dengan anggaran? Kenapa harus muncul judul yang seolah2 menyidik siapa yang salah?
Dalam suatu proyek pengadaan dan pembangunan pemerintah ada masa dimana setelah pekerjaan diselesaikan oleh Kontraktor, PPK (Pejabat Pembuat Komitmen yang adalah PNS yang diserahi tugas bertanggung jawab terhadap seluruh pekerjaan ) akan memohon kepada pemerintah daerah untuk menunjuk PPHP dengan SK Bupati berwenang memeriksa hasil pekerjaan apakah sudah layak, sesuai, selesai, dengan kontrak dan siap di PHO kan atau belum. Berita Acara PPHP ini akan menjadi salah satu syarat diterbitkannya SPM (Surat Perintah Membayar) yang kemudian ditandatangani oleh Kepala Dinas sebagai Kuasa Pengguna Anggaran untuk dicairkan pembayaran kepada Kontraktor.
Dalam benak saya panitia PPHP adalah sekelompok PNS yang memiliki keahlian dalam memeriksa pekerjaan. Berbicara keahlian pastinya akan merujuk pada sertifikat ataupun pelatihan yang kemudian menggelarinya sebagai ahli. "Pak, saya tidak memiliki sertifikat keahlian, saya cuma mendapat SK dari Bupati, kemudian saya diundang untuk memeriksa, saya membantu ngukur2 dan selanjutnya saya tandatangan".
Perlu diketahui bahwa hasil PPHP ini akan dipakai untuk menerbitkan SPM, sementara banyak sekali pekerjaan yang sebenarnya kuang volume, belum 100% selesai tapi dinyatakan selesai oleh PPHP dan dicairkan oleh Kepala Dinas. Kalau kemudian terjadi korupsi disana siapa yang salah? Kepala Dinas?! Padahal pekerjaan sudah dialih tugaskan oleh Kepala Dinas kepada PPK, pemeriksaan hasil oleh Bupati kepada PPHP, tugas Kepala Dinas hanya menandatangani pencairan! Lantas salahkah Kepala Dinas jika ternyata ada korupsi di pekerjaan? Belum lagi Bupati biasanya mendorong dengan tekanan kepada Kepala2 dinas untuk segera melakukan pencairan, mengingat jika pencairan tidak maksimal adalah berarti bahwa penyerapan anggaran tidak maksimal pula.
Hal ini adalah warning bagi Bupati dan alarm bahwa tahun depan anggaran tidak akan lagi disetujui sebesar tahun berjalan karena toh penyerapannya tidak maksimal. Jika Kepala Dinas tetap menandatangani pencairan sementara pekerjaan sebenarnya tidak selesai berarti dia telah mendukung upaya korupsi! Kalau dirunut kembali kenapa pemeriksaan tidak profesional karena Bupati pun menunjuk PPHP dengan sembarangan tanpa memperhatikan keahlian teknis, dan akhirnya penilaian pekerjaan tidak maksimal. Putaran problematika pembangunan diyakini hampir di setiap daerah adalah seperti ini! Lantas siapa yang salah???
Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, ketentuan Pasal 18 ayat (4) menyebutkan bahwa Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:
A. memiliki integritas, disiplin dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas;
B. memahami isi Kontrak;
C. memiliki kualifikasi teknis;
D. menandatangani Pakta Integritas; dan
E. tidak menjabat sebagai Pejabat Penanda Tangan Surat Perintah Membayar (PPSPM) atau Bendahara.
Sehingga akan sangat lucu ketika bertanya kada PPHP " acuan yang bapak pakai saat melakukan pemeriksaan apa pak? Ada gambar pekerjaan kah? Dokumen kontrak kah? Atau Rancangan Anggaran Biaya kah? " dan dijawab dengan santai " mohon maaf pak, selama saya turun lapangan untuk memeriksa saya cuma bawa diri pak, disana saya bantu ngukur2, kemudian disodori Berita Acara ya saya tandatangani, Ketua PPHP juga tidak membawa dokumen apa pun pak" Saya seketika menjadi paham jika ada Jaksa yang membentak-bentak Saksi atau Tersangka dengan kekonyolan seperti ini. Bahwa dia adalah PPHP yang memeriksa pekerjaan kemudian tidak membawa kontrak, terus yang mau diperiksa apanya??? Belum bicara soal integritas yang menyidik apakah orang ini menyalahi professionalitas atau tidak, senyatanya dia sendiri belum paham apa yang menjadi tugasnya! Mau diaalahkan juga kasihan dan ini adalah pekerjaan rumah pembangunan SDM yang begitu menguras energi untuk daerah. Lalu kalau dirunut kembali, bahwa mereka mengerjakan fungsi PPHP adalah berdasarkan SK Bupati, sudahkah Bupati memilih orang-orang dengan benar? Atau memang tidak ada lagi orang yang berkualifikasi teknis untuk ditunjuk sebagai PPHP? Atau nanti jika tidak dipaksa harus ada PPHP pekerjaan tidak akan ada Berita Acara PPHP dan dana tidak bisa dicairkan sehingga formalitas harus dikedepankan? Lantas kalau terdapat korupsi atas kesemerawutan manajemen pemerintahan seperti ini, salah siapa??
"Pak, sepulang dari sini saya dan teman2 PPHP akan melapor ke Bupati supaya saya tidak lagi ditunjuk sebagai PPHP, saya sudah tidak mau lagi pak! Sudah tidak ada uang yang saya terima, malah saya bisa masuk penjara gara2 hal seperti ini! Sudah berulang2 saya tidak mau pak dijadikan PPHP, saya tidak paham apa yang saya harus kerjakan, kami background pendidikan dan sosial diminta memeriksa pekerjaan teknik mana bisa saya pak! Tapi mau bagaimana lagi pak, ini perintah atasan saya juga tidak bisa menolak!" Mendadak saya juga langsung kebingungan kalau semua PPHP menolak bekerja sebagai PPHP setelah saya periksa lak yo pekerjaan pemerintah mandek semua? Ndak nanti jadi salah saya?? Salah siapa?
Sekali lagi menjadi keprihatinan kita bersama bahwa manajemen pemerintahan daerah masih sebegitu kacaunya. Jadi, jangan memilih kepala manajemen yang hanya bisa koar2 janji kemakmuran, mampukah dia memanage aparatnya, mengatusr jalan pemerintahan? Saya masih calon jaksa aja sudah muntah2 kalau harus periksa PPHP, semua keluhan dan masalahnya adalah sama.. udah sampe blokek-blokek dan udah jenuh kalau harus lagi2 memberi wawasan PPHP yang kurang lebih di tiap pemeriksaan penyakitnya adalah sama.
Jika pemerintahanmu amburadul, lagi2 cara gampang menentukan siapa yang salah adalah kamu! Iya kamu! Yang datang ke bilik suara dan mencoblos pemilihan. Rakyat yang memilih pemimpinnya, jika pemimpin salah rakyat jugalah yang salah...
Dan aku? Hanya bisa menyalahkan? Keuntungannya seorang penulis ada disitu kawan.. hanya bisa berkomentar hehe. Selamat mengawal pemerintahanmu! Jauhkan korupsi! Cayo! 

INDAHNYA TOLERANSI

Saya adalah pemeluk Kristen sejak saya lahir, dan dalam ajaran Kristen Protestan tidak terlalu populer untuk saat-saat tertentu dilaksanakan puasa.
Mbah Kakung biasa menganjurkan kami puasa saat jatuh hari lahir menurut penanggalan Jawa dan setiap Minggu Pahing pun saya terlupa untuk melakukan puasa.
Puasa untuk pertama kalinya saya kenal di bangku sekolah TK. Saat itu saya bersekolah di TK umum dan menjadi kebiasaan tiap makan kami bersama-sama berdoa. Berhubung mayoritas teman-teman adalah beragama Islam sehingga doa dalam ajaran Islam tersebut dibunyikan dengan keras secara bersamaan, saya mengikuti dan saya menikmatinya bahkan mungkin kalau saat ini saya dipersilahkan mengucapkan doa tersebut sedikit banyak saya masih hafal. Kami diajarkan puasa setengah hari, jam 12 berbuka puasa bersama dan dibilangpuasa tersebut adalah "puasa belajar"
Saat menginjak bangku SD, hal yang paling saya tunggu-tunggu adalah bulan Ramadhan, dalam sebulan sayaharus bangun jam 2 malam untuk bisa bergabung Ronda malam hari membangunkan saudara-saudara muslim untuk melaksanakan Sahur. Bergerombol malam hari dan membunyikan alat musik bambu beramai-ramai dengan irama masing-masing. Saya sangat menikmati saat-saat itu, bahkan bapak ibuk saya gemar sekali menanggap teman-teman untuk meronda di depan rumah dan memberikan uang saku kepada teman-teman atas permainan alat musik bambu yang sangat kami nikmati.
Sahur? Bangun sebelum subuh dan mempersiapkan makanan untuk dimakan sebelum berpuasa. Makan saat sebelum subuh dan bahkan ikut berpuasa sebulan penuh ini benar-benar saya pernah jalani saat di bangku kuliah. Tinggal seatap dengan dosen-dosen Antropologi Haluoleo Kendari, satu rumah di jalan Vidi 3 Jalan Kaliurang Yogyakarta, mereka adalah Muslim yang taat dan aku pun taat berpuasa kala itu. Setiap hari saya ikut menyediakan makanan sahur dan sambil menonton Opera Van Java kami bersahur, berpuasa penuh dari subuh hingga Magrib, dan berbuka puasa bersama dengan hidangan-hidangan khas Kendari dan Pisang Ijo yang manis sebagai pembuka puasanya. Rio Raymond , Laxmi Mami , Rety Reka Merlins , Danial Kapitoi , Warda Laoda , Kaka Muhammad 
smile emoticon
Puasa, dalam setiap agama dan kepercayaan adalah masa yang dikhususkan untuk menahan diri, menahan nafsu dari hal-hal yang menjauhkan diri terhadap Tuhan. Masa dimana dengan pengekangan nafsu untuk memurnikan instropeksi diri mempertegas kembali bagian mana yang benar dan bagian mana yang salah. Dengan puasa diharapkan kemurnian bati lebih kuat dibanding keinginan-keinginan daging. Maka diyakini disana pada bulan suci tersebut pertemuan dengan Tuhan semakin intim dan dalam malam tertentu dianugrahkan pahala yang berlipat-lipat ganda.
Selamat berpuasa saudara Muslim ku, malam ini adalah malam pertama untuk beronda, dan besuk pagi adalah awal hari berpuasa di bulan Ramadhan tahun 2015. Semoga selama bulan Ramadhan segala kekhusukan dan kemurnian puasa dicapai. Salam Ramadhan dan selamat menjalankan ibadah puasa.

MAKRIFAT

(Syeh Siti Jenar dan Imanku terhadap Tuhan)
Dalam tatanan agama dikenal adanya tahapan pemahaman manusia terhadap Tuhan. Dimulai dari syariat yang berupa aturan/pedoman yang diwahyukan untuk menuntun manusia mengenal Tuhannya sampai pada Makrifat dimana manusia iklas hanya mencintai Tuhan secara mandiri tanpa tuntunan. Syeh Siti Jenar mengajarkan Makrifat pada saat manusia masih harus dituntun dan dipimpin dalam mengetahui ruh Tuhan nya.
Saat manusia masih "kosong" harus ditolong untuk melihat siapa itu Tuhan dan dalam pengajaran itu disampaikan padanya imbalan Surga untuk kesuksesannya dan hukuman Neraka untuk kesalahannya. Ada imbalan terhadap perbuatan yang sejalan dengan tuntunan sehingga seringkali doa dipanjatkan "Tuhan terimalah amalku dan masukan aku ke dalam Surgamu, jangan diingat dosaku dan jauhkan aku dari Nerakamu".
Adakah Tuhan sebagai pemberi hadiah dan hukuman? Apakah manusia diciptakan kemudian hanya untuk mewarisi Surga atau menerima hukuman Neraka? Ahmad Dhani kemudian menulis lagu " jika Surga dan Neraka tak pernah ada, masihkah engkau menyembah Tuhan?"
Cara dan aturan yang kemudian digunakan untuk menuntun manusia ditafsirkan dan dimaknai berbeda-beda sehingga terciptalah tradisi (saya tidak berani mengatakan agama) beraneka macam aturannya, dan membuat manusia berdebat! Jalan mana yang paling benar dan kemudian saling menyalahkan jalan yang lain. Tuhan menjadi begitu jahat dan membiaskan diriNya di tengah umatNya yang masih buta dalam melihat.Tuhan seakan-akan main petak umpet dan membiarkan umatNya tertutup mata sampil mencari dalam kegelapan, saling menyikut dan memukul dan tidak menemukan apa-apa. Terdengarlah dimana-mana terikan manusia "Tuhan! Dimanakah dirimu???".
Di saat yang demikian Syeh Siti Jenar dengan keyakinan hati berkata “aku adalah Allah, Allah adalah aku. Lihatlah, Allah ada dalam diriku, aku ada dalam diri Allah." Kata-kata yang kemudian menyentak dan terasa angkuh ditengah-tengah keheningan pencarian akan Tuhan. Pemahaman Manunggaling Kawulo Gusti (satunya saya dan Tuhan) meroket dengan sombong dan mencipta pertanyaan "Siapa dirimu? Manyamakan diri dengan Tuhan?"
Tulisan ini akan membawa pada pemahaman yang akan saya bagikan. Saya adalah seorang Jawa dan dibesarkan dengan petuah-petuah simbol Kejawen, dengan pengaruh eyang kakung Sukarji yang begitu besarnya menancap dan hidup di dalam diri sampai detik ini. Di sisi lain saya adalah pengikut Yesus yang mengajarkan kekristenan sejak kecil. Eyang kakung pernah menghardiku dengan pernyataan "kalau sudah kristen? Jawamu hilang, masih bisakah menemukan jawamu?" pernyataan dan pertanyaan ini menghasilkan niatan dan tantangan yang besar, dan tekad untuk membukti bahwa saya adalah kristen dan sekaligus tetap adalah seorang Jawa". Syeh Siti Jenar mungkin boleh dibilang mengajarkan ajaran Islam dalam versinya, namun bagi Kejawen ajaran Syeh Siti Jenar adalah nafas Jawa, Manunggaling Kawulo Gusti lan Wiji Wonten Salebeting Wit.
Lalu apa hasil pemahaman yang menyadur kedua unsur ini yang kemudian menjadi inti keyakinanku saat ini?
Ketika Syeh Siti Jenar menyatakan "Allah ada dalam diriku dan Diriku ada dalam Allah" Alkitab menerangkan hal yang sama :
"Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” ( Yohanes 15:4-5)
Keyakinan ini adalah dasar ketika manusia ingin mandiri dalam imannya. Bagi Syeh Siti Jenar, proses timbulnya pengetahuan datang secara bersamaan dengan munculnya kesadaran subyek terhadap obyek. Maka pengetahuan mengenai kebenaran Tuhan akan diperoleh seseorang bersama dengan penyadaran diri orang itu. Jika ingin mengetahui Tuhanmu, ketahuilah (terlebih dahulu) dirimu sendiri. Syeh Siti Jenar percaya bahwa kebenaran yang diperoleh dari hal-hal di atas ilmu pengetahuan, mengenai wahyu dan Tuhan bersifat intuitif. Kemampuan intuitif ini ada bersamaan dengan munculnya kesadaran dalam diri seseorang.
Bahwa "Aku adalah Allah" bukanlah kesombongan menyamakan diri namun kepasrahan yang tertinggi berupa keikhlasan penuh dalam mencintai Tuhan. Apa yang dilakukan diucapkan dan diangankan bukan lagi keinginan sendiri melainkan apa yang dikehendaki Tuhan. Bahkan Kitab Galatia 2:20 mejelaskan lebih terang benderang apa maksud dari Syeh Siti Jenar:
"Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. "
Yohanes 15:7 menambah keyakinan dengan menegaskan:
“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”
Ketika yang ada dalam diri kita itu adalah Allah, keinginan dan angan-angan kita bukan lagi nafsu manusia, melainkan apa yang diinginkan Allah. Kalau sudah kehendak Allah, tidak akan ada yang terkabul selain apa yang direncanakqn Allah, doamu adalah kehendak Allah dan pasti terjadi.
Syeh Siti Jenar juga meyakini bahwa kehidupanmu sekarang adalah kematianmu, dan hidupmu datang saat kamu mati. Saat ini tidak perlu menjalankan syariah jika keikhlasan itu tidak ada. Syariah akan dijalankan saat kamu mati, saat kamu ada dalam keikhlasanmu. Neraka dan Surga itu ada saat kamu hidup sekarang, pahit dan manis terasa sekarang bukan saat kamu nanti mati. ketika nanti kitq telah mati raga, nafsu manusia hilang dan yang ada hanyalah keikhlasan terhadap Tuhan, disana syariah itu benar-benar dijalankan bukan lagi dari tuntunan, tuntutan, atau paksaan dari orang lain melainkan karena kecintaan pada Tuhan. Sehingga tidak perlu berdebat tentang syariat saat kamu masih hidup, karena hidupmu sekarang ini adalah kematianmu.
Jangan mengharap Surga saat masih hidup, karena itu menuntut imbalan atas suatu ibadah. Saat hidup, kita adalah mayat berjalan yang berkeinginan banyak yang ada hanyalah memohon, dan saat memohon itulah nafsu muncul dan menghalangi hubungan dengan Tuhan. Maksimalkan kecintaanmu pada Tuhan saat kamu Hidup, tanpa memikirkan imbalan, karena setelah mati, hidupmu akan dimulai dan kehidupan baru itu hqkikatnyq adalah menyembah Tuhan tanpa ada lagi nafsu. Apalagi bermimpi dilayani ribuan istri bidadari saat di Surga, tunggangan yang mewah saat menuju Surga, Istana yang megah saat masuk surga! Itu adalah ajaran imbalan yang harus disampaikan karna tahap itu manusia masihlah kerdil imannya sehingga harus dituntun dengan imbalan, imbalan yang membuatnya menjadi semangat beribadah. Motivasi yang salah dalam mencintai Tuhan.
Bahkan Yesus pun pernah bersabda dengan keras dalam Matius 7:21
"Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga."
Yang beribadah tiap hari dan berdoa dengan ritual-ritual lengkap, namun Rohnya tidak menjalankan buah-buah kecintaan yang ikhlas, bukan mereka yang dikehendaki Tuhan. Melainkan hanya mereka yang menjalankan seluruh kehendak Tuhan melalui hati pikiran dan perbuatan yang masuk dalam kehendakNya.
Syeh Siti Jenar berpandangan bahwa Raga adalah Pinjaman kepada Ruh untuk hanya "Mampir Ngombe" sementara menikmati penderitaan dunia. Pinjaman itu dipinjamkan dalam keadaan suci sehinnga Ruh harus bertanggungjawab terhadapnya, saat kontrak habis Ruh harus mengembalikannya dalam keaadaan suci pula. Sehingga Ruh harus menutupi Raga itu dangan Agama sebagai Ageman (pakaian). Jangan bertumpu pada Raga (daging) dan Ageman ( agama), melainkan tumpuannya tetap harus dari Ruh yang adalah suci.
Dalam Galatia 5:16 Paulus berkata, “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.”
Lalu dalam ayat 22-26 ia berkata, “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.” Di sini, Paulus menjelaskan bahwa kalau kita hidup oleh Roh, kita akan menghasilkan buah-buah Roh. Roh Kudus memerintahkan agar kita hidup oleh Roh. Tetapi kita memiliki kecenderungan hidup dalam kedagingan.
Bahwa kemudian ajaran "Aku adalah Allah dan Allah adalah aku" bukanya ajaran kesombongan, melainkan sebuah kesempurnaan iman saat manusia mengenali Tuhan nya. Aturan itu untuk menuntun dan bukan untuk memimpin. Pemimpin sebenarnya adalah tetap Roh, Roh yang dihembuskan oleh Allah pada sebuah gundukan tanah dan kemudian menjadi Manusia. Ketika Manusia adalah satu dengan Tuhan, segala keinginannya bukan lah nafsu pribadinya lahi melainkan kehendak Roh, Kehendak Tuhan.
Dalam kondisi manusia modern seperti saat ini, sering ditemui manusia yang mengalami zadhab atau kegilaan berlebihan terhadap Allah.Yang sebenarnya kegilaan akibat ketidaksesuaian antara nalar atau logika mereka dengan apa yang nampak dalam pandangan, pendengaran serta rasa mereka yang telah memasuki gerbang ketuhanan. Mereka belajar tentang bagaimana Allah bekerja sehingga ketika keinginannya sudah lebur terhadap kehendak Allah, maka yang ada dalam pikirannya hanyalah Allah. Di sekelilingnya tidak tampak manusia lain, kecuali hanya Allah yang berkehendak. Tarian Sufi yang berputar-putar dengan rok panjang dan topi yang menjulang tinghi kemudian lahir dalam ritual pencarian "rasa" yang demikian.
Saat itu kemudian Ajaran Syeh Siti Jenar kemudian beryolak belakang dengan para ulama di jaman nya, seperti kemudian juga Yesus mengusik kenyamanan Para Imam Yahudi pada jamannya. Di luar konteks keyakinan agama, saat itu Syeh Siti Jenar adalah guru dari Ki Ageng Pengging (ayah dari Joko Tingkir / Mas Karebet / Sultan Hadiwinoto yang kemudian menjadi Raja pertama Pajang setelah Demak Runtuh pada zaman Sultan Trenggana) yang adalah keturunan langsung Trah Majapahit yang ditakutkan akan menguatkan pemberontakan terhadap Kerajaan Demak ( Demak adalah kerajaan yang memberontak pada Majapahit dan mengakhiri kekuasaan Majapahit serta merubah seluruh tlatah jawa menjadi Kerajaan Islam).
Demak ketakutan kemudian berinisiatif mengundang Syeh Siti Jenar untuk datang mengjadap namun tidak pernah dipenuhi, hingga turun tangan langsung Walisongo untuk menyadarkan kesesatan Syeh Siti Jenar. Dari sisi agama Islam, Walisongo yang menopang kekuasaan Kesultanan Demak khawatir ajaran ini akan terus berkembang sehingga menyebarkan kesesatan di kalangan umat. Kegelisahan ini membuat mereka merencanakan suatu tindakan bagi Syekh Siti Jenar untuk segera datang menghadap ke Kesultanan Demak.
Pengiriman utusan Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat ternyata tidak cukup untuk membuat Siti Jenar memenuhi panggilan untuk datang menghadap ke Kesultanan Demak hingga konon akhirnya para Walisongo sendirilah yang akhirnya datang ke Desa Krendhasawa di mana perguruan Syekh Siti Jenar berada.
Para wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja. Maka, berangkatlah lima wali yang diusulkan oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Pangeran Modang, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng.
Sesampainya di sana, terjadi perdebatan dan adu ilmu antara kelima wali tersebut dengan Syekh Siti Jenar. Menurut Syekh Siti Jenar, kelima wali tersebut tidak usah repot-repot ingin membunuhnya karena ia bisa meminum tirta marta (air kehidupan) sendiri. Ia dapat menuju kehidupan yang hakiki jika memang ia dan budinya menghendaki.
Tidak lama kemudian, terbujurlah jenazah Syekh Siti Jenar di hadapan kelima wali. Ketika hal ini diketahui oleh murid-muridnya, serentak keempat muridnya yang pandai, yaitu Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki Chantulo, dan Ki Pringgoboyo ikut mengakhiri "kematian"-nya dengan cara yang misterius seperti yang dilakukan oleh gurunya di hadapan para wali.
Hal yang identik juga terjadi pada Yesus yang didakwa membangkang pada Negara, dan dakwaan itu datang dari Para Imam Yahudi yang setiap hari taat beribadah dan menjalankan hukum Taurat. Hingga pada hukuman Salib yang menjadikan Raga Yesus mati di hari Jumat Agung, namun bangkit kembali. ROH dan Raga nya naik ke Sorga untuk mengadili yang hidup dan yang mati di Akhir Zaman.
Saya adalah Jawa, sekalipun saya mengenyam kerohanian Kristen, saya adalah dan tetap adalah Orang Jawa. Menyatu dalam diri pemahaman Roh yang memimpin daging.
MAKRIFAT Manunggaling Kawulo Gusti
Salam sejarah salam keagamaan!