Rabu, 30 Desember 2015

BAPAK IBUK UBAN

BAPAK IBUK UBAN
"Malem nang... lagi apa? Sini lho banyak makanan", tiap pulang kerja selalu menunggu-nunggu pesan BBM ini, bergegas segera ke Rumah Jabatan, dan langsung menyahut suara Bapak "Arie! Masuk sini!" Duduk kami beramai di meja makan itu, sudah siap biasanya makanan-makanan rumah dan ga pernah absen, teh kotak! smile emoticon
Kami biasa saling bercerita tentang menu masakan @yusuf saputra, atau tentang Alfa yang sangat pintar sekali melawak dan dengan teganya membuat dua orang tua ini terbahak-bahak sampai menangis. Masih ingat ibuk yang kegemesan denger cerita kami jalan ke Kodi dan dikejar-kejar anjing, atau bahkan menangis terharu mencerita tentang segala keluh kesah kami anak muda, dari soal pacaran sampai penatnya bekerja. Bapak ibuk melepas semua pangkat dan atribut jabatan, duduk merangkul kami di meja itu. Saat ibuk harus pulang ke Jakarta, tidak perlu kuatir bapak kesepian, kami menyibukan bapak dengan tumpukan-tumpukan APBD membedah mulai dari kasus sampai angka-angka anggaran yang begitu rumitnya. Bahkan! Kami sampai pernah berani-beraninya menegur ibuk "ibuk, kami akan berusaha.. sudah bapak jangan dimarah lagi ya" mendadak kami menyatu dalam keharuan itu, "saya bangga dianugrahi anak-anak seperti kalian, beryukur sekali".
Saya mengenal bapak malam hari sejak pertama kali menapak kaki di Sumba. Perawakan sangat di luar pikiran, berambut Uban dan perjumpaan pertama itu terkesan biasa, sedikit kaku dan ya biasa aja. Hari pertama kerja mendadak beliau masuk ruang Pidsus "Arie! Apa yang kamu tau tentang perbuatan melawan hukum?" Oke! Tantangan pertama itu gagal dipenuhi... saya sudah benar-benar lupa apa itu teori hukum pak, kalau bertanya apa itu Dayak kalimantan pasti saya jawab dengan gamblang. "Oke, belajar lagi" Pak Uban kemudian berlalu.. dan saya kalah telak.
Entah kenapa, kemudian beberapa kali Pak Uban meminta saya datang ke ruangan Kajari. Sedikit bercerita tentang kebutuhan informasi. This is it! Kekalahan saya kemarin bisa saya tebus, dengan semangat saya mencerita tentang peta masalah pembunuhan Pendeta, tentang adat istiadat Sumba yang sudah saya pelajarinsetiap hari, dan mencairlah kami dalam berbagai perbincangan. Hubungan yang saya rasakan sedikit khusus, saya tidak sedang dipertintah dan harus bersikap hormat, saya didudukan dan diberi ruang untuk berpendapat. Seorang CPNS berhadapan meja dengan seorang Kajari, mengutarakan pendapat dan saling bercerita tak terasa sampai berjam-jam. Baru nyadar kadang tamu sudah antri di luar, ups!
Duduk berdua dengan Alfa, berbagi keraguan "Fa! Kita mau jadi apa disini? Aku sudah bosen mengetik, adrenalinku udah taraf merangkak, bisa mati menjamur kita disini, jadi seonggok daging yang makin lama membiru dan kehilangan gizi". Mendadak! Menyelinap masuk dan semangatnya itu lho.. "Arie Alfa! Lagi apa? Ya penyelidikan itu gmn? Sudah sampai mana?" Seperti pemadam kebakaran dapat alrm, hebohlah kami berdua buka-buka (pura-pura) buka berkas dan "fa! Harus ada jawaban! Kita kena serangan teroris ini!"
"Oke! Ke ruangan saya! Bawa semua berkas-berkasnya, kita diskusi.. apa pendapat kalian". Begitulah kami, dan begitulah Pak Uban, segala sesuatu bisa sangat mendadak dan spontan! Bisa bayangkan seorang Kajari masuk ke kerumunan perang adat yang sekali lentik saja panah bisa menembus dada? Mengacungkan kepalan tangan ke atas "berhenti kalian!", atau bapak tua itu mendadak turun bendungan yang kurang ditahu seberapa dalam airnya, ajudan kalang kabut apalagi kita? "Ari! Alfa! Ayok turun lapangan, kita lihat proyek" merasakan penyelidikan ke lapangan langsung bersama dengan Kajari. Lebih ekstrem! Eksekusi terpidana yang sudah berkerumun keluarga dengan acungan parang, Kajari datang sendiri dan dengan sapaan yang bersahabat mendadak emosi sekerumunan massa itu luntur dan Kajari sendiri menyopiri mobil berdua saja dengan terpidana, meluncur menerobos lampu merah, dan eksekusi pun lancar. Kurang apalagi dentuman jantung kami?
"Ari Alfa! Kalian jadi Jaksa, lakukan! Kita dipercaya Negara untuk memegang pistol, tinggal kemana arah pistol itu kita tembakan. Pakai hati nurani, jangan orang tidak salah kita zolimi! Jangan cari uang! Belajar.. jadi Jaksa yang pinter, uang tidak dikuatirkan. Jadi Jaksa yang bener.. dulun saya seperti kalian, saya masih pegawai berdua keliling untuk mencari kasus, disana saya belajar, lakukan! Jangan takut ketika benar!" Dari diskusi di meja Kajari, berdebat setuju dan tidak, alam pikir bebas di meja itu, bahkan mendebat cara pandang Kajari sangat leluasa di meja dengan sajian Teh Kotak itu, berdua CPNS kamilah yang paling beruntung. "Beresin berkasnya kita bawa ke Rumah Jabatan, ibuk sudah masakin buat kalian... kita lanjut di rumah", sambil makan APBD dan Kontrak menjadi menu segar otak kami. Kekenyangan, tawa terbahak, serius melototi buku-buku tebal, saling mendebat, menggunjingi kinerja aparat daerah tiap malam kami lalui itu. Pak Uban, serasa muda sekali... membaur dengan candaan kami anak baru gede ini, "Ari! Alfa! Lakukan.. jangan takut!".
Serasa lengkap, kami didewasakan soal penanganan hukum... dibelakang ibuk mendorong kami juga untuk matang dalam rona-rona hidup. "Kalian sudah makan? Ayo sini ibuk tunggu di Rujab ya". Kami jauh dari ibuk kandung yang di seberang pulau sana. Tapi kami tak kehilangan ibu, masakan rumah yang menjadi obat kangen, sumpah soup merah nya enak banget! Dan selalu minumnya teh kotak smile emoticon Rumah itu dengan banyak "mainan" kayunya Pak Uban, biasa kami berkumpul di dapur. Saya bagian ngupas bawang dan cuci piring, Yusuf tanggung jawab masak dan alfa bertugas melawak.. hahaha. Nanti ibuk sambil bercerita, dan sepertinya suka memancing karna entah kenapa kami biasa langsung cerita masalah-masalah pribadi dan ibuk memberikan jalan keluar atau hanya sekedar mendengarkan, kadang sedikit menangis mengeluarkan air mata saat kami terharu, bahkan sampai terbahak-bahak dengan kelucuan Alfa, dan tetes airmata lagi. Begitulah kami...
Sabtu, sering diajak bersembunyi ke Sumba Nautil. Disana disuatu meja di bawah pohon kami dinner dan sambil mencerita, dan lagi... tertawa! Hehe. Sebuah pelampiasan saya yang kadang serasa anak tiri, beberapa kali melewatkan saat-saat bersama karena harus tugas ke Kupang atau pas pulang ke Jawa, Sumba Nautil selalu menjadi penebusan. Seharian beristirahat bareng Bapak Ibuk Uban, dan Mr. Ali dengan makanan enaknya menjamu kami langsung dengan sentuhan tuan rumah.
Duhh Bapak Ibu Uban. Saya memang pecundang. Saya berani memulai hubungan anak dan orang tua tapi saya takut perpisahan. Saya menyusun rencana dengan sengaja untuk melewatkannya. Kuda Marmer, terpilih tanpa ada ucapan kata apapun. Kudanya adalah Sumba dan Marmernya adalah asli Tulungagung pak.. buk.., menyatu semoga menjadi pengingat Danang Ari Wibowo yang bersama di Sumba dan asli anak Tulungagung. Menjadi anak sejak menapakan diri di Sumba, menjadi murid yang telah belajar banyak sekalipun terasa masih sangat kurang.
Sebuah lagu bercerita "Tuhan lindungi Bapak Ibuk ku, Air mata yang ditabur pasti dituai bahagia!" Berulang saya panjatkan. Kehadiran Bapak Ibu pertamanya sejak saya berseragam Kejaksaan. Membekas dan memaku diri, bagaimana saya harus menjadi jiwa Jaksa.
Meja itu kini tak bertuan, dan mungkin diskusi dan berdebat akan terhenti dalam waktu yang lama. Saya menysukuri.. mengucap syukur! Jalan masih panjang dan paku guru itu akan selalu saya pegang, ijinkan mampir saat hilang arah dan menjenguk dalam keceriaan.
Trimakasih Bapak Ibuk ku
Trimakasih Kajari ku
Hormat dan pelukan cinta
Bukan perpisahah
Jarak hanya Penanda Rindu
Penanda untuk segera kembali berjumpa
Mengisi kembali Meja itu dengan makanan dan debat diskusi
Meneteskan air mata dan gemuruh tawa yang terbahak.
‪#‎Ditulis‬ di dalam gerbong kereta Yogyakarta-Surabaya
Masih dalam jiwa pecundang yang takut berpisah
Menangis tiada berani
Mendekap janji dan mimpi
Segera bertemu lagi!

DIRGAHAYU UGM!

DIRGAHAYU UNIVERSITAS GADJAH MADA
UGM, 19 Desember 1949
DORODJATUN, KEMERDEKAAN PENDIDIKAN KEMERDEKAAN INDONESIA
"“Walaupun saya telah mengenyam pendidikan barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap adalah orang Jawa.”
Dorodjatun terlahir bukan dari Garwo Padmi (Permaisuri) melainkan dari Garwo Ampilan (selir), usianya yang begitu muda Dorodjatun melihat ibunya separuh terusir dari Istana, dan tinggal di luar lingkungan Istana. Hal ini membekas dihatinya. Dorodjatun kemudian dititipkan pada sebuah keluarga Mulder yang berkebangsaan Belanda, disana cara hidupnya adalah cara hidup orang Belanda.
Ditengah kejayaan Hamengkubuwono ke VIII ayahandanya, Dorodjatun dikirim untuk mengenyam sebenar-benarnya pendidikan Eropa, di Universitas Leiden ditempuhnya gelar Sarjana. Dorodjatun hidup ditengah-tengah bangsawan Eropa dan jaringan persahabatan itu membantunya untuk dengan cepat mengenali peta politik Belanda. Kedekatannya dengan Putri Juliana (calon penerus tahta kerajaan Belanda) mendudukannya pada ring satu hingar bingar kebijakan Belanda atas Nusantara. Menyelinap dengan gaya dan bahasa mereka, mencuri tahu dan menyusun cara, memerdekakan bangsanya, bangsa Nusantara!
Pada tahun 1940, terpanggil mendadak untuk pulang ke Jawa. Ditengah perjalanan Kereta Api Jakarta-Yogyakarta Hamengkubuwono VIII menyerahkan Kyai Ageng Joko Piturun, penanda bahwa tahta telah diwariskan, dan tangan kekuasaan telah berganti, Dorodjatun kini adalah Hamengkubuwono Ix. Tahta untuk rakyat!
HB VIII telah mangkat, restu adat pun telah mengadugrahkan Dorodjatun sebagai penerus tahta sekalipun bukan lahir dari Garwo Padmi, namun tidak semudah itu mahkota diraih. Sifat nasionalis membuat alot penandatanganan perjanjian Lange Contract dengan Belanda (November 1939 – Februari 1940) yang menimbulkan gejolak bagi Kerajaan Belanda. Suara leluhur pun disaksikan oleh HB IX "Tole tekena wae, Landa bakal lunga saka bumi kene” dan pada akhirnya Februari 1940 menjadi penanda dinobatkannya secara penuh HB IX sebagai Sultan Hamengkubuwono inglang kaping IX.
Sifat antinya pada Belanda menjadikan Sultan Baru ini berbeda. Penobatannya ditandai dengan penolakannya yang keras akan tradisi "gandengan". Dimana pada Sultan sebelumnya, simbol gandengan harus dilakukan oleh sultan baru yang mengkaitkan tangan kanan nya pada tangan kiri Gubernur Belanda sebagai simbol penundukan. HB IX menolak keras! Tidak akan pernah dijumpai pada masa sekarang foto dimana HB IX mengkaitkan tangan menggandeng Gubernur Hindia Belanda. Sultan juga menjadikan Patih Danuredja VIII sebagai Danuredja terakhir di tanggal 15 Juli 1945. Danuredja adalah simbol terkaitnya Ngayogyakarta dan Belanda, Patih dipilih oleh Sultan namun disetujui dan dinobatkan oleh Belanda sebagai pemegang tampuk manajemen pemerintahan yang segala sesuatunya kemudian diatur oleh Belanda, sebelumnya Sultan hanyalah simbol kepemimpinan adat dan hukan manajemen pemerintahan. HB IX merombak! Patih Danurejan dihanguskan dan kini tampuk kepemimpinan ada langsung pada HB IX. Tanah untuk kepentingan Belanda bulan lagi berstatus Eigendom ataupun tanah perusahaan, HB IX menetabkan kembali status Sultan grond sebagai hak milik keraton, Belanda dalam pembangunan Pabrik Gula dan Rel Kereta Api haruslah menyewa kepada Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Sejak saat itu wibawa Kasultanan meroket tajam dan Belanda perlu dengan sangat hati-hati dalam bermanufer politik, pada seorang dorodjatun!
Kedekatannya dengan putri Juliana yang kemudian menjadi Ratu Belanda, menganugerahkan HB IX sebagai perwira militer berpangkat Mayor Jenderal Tituler sehingga sejak saat itu Sultan memerintahkan tidak ada satu oknum militer Nelanda pun yang boleh memasuki Regol Keraton yang berpangkat dibawah tingkat Jenderal dan perintah ini menjadi perintah komando yang sangat ditaati oleh militer Belanda.
Keyakinan dan tampuk kepangkatan militer ini yang menjadikan HB IX dengan sangat lantang menyarankan Ibukota Negara dipindah ke Yogyakarta tahun 1946. Agresi Militer Sekutu telah mengincar Jakarta sebagai basis penyerangan dan Sultan bersabda "siapa berani memasuki lingkungan Keraton, langkahi dulu mayat Sultan!", titah ini bukanlah omongan ompong, ini adalah sandi militer. Sangat dipatuhi, tidak ada satupun oknum sekutu yang berani memasuki lingkungan Keraton Yogyakarta. Hal ini dimanfaatkan secara politik untuk mengamankan Presiden dan Wakil presiden Republik Indonesia untuk tetap menjalankan pemerintahan.
Menyadari bahwa intrik militer ini tidak akan bertahan lama, di sisi lain rasa percaya diri HB IX yang begitu tinggi dengan perhitungan bahwa akan sangat bodoh bagi Belanda jika negara itu hendak menciderai Lange Contract. Sekali saja Ratu Belanda mencot gelar Jendral itu, Lange Contract akan sesegera mungkin batal demi hukum dan aset Belanda di wilayah Kasultanan Yogyakarta juga akan dengan sendirinya terlepas demi hukum. Belanda mengalami kegalauan dalam menghadapi HB IX, dia adalah sosok "aset" bagi Belanda sekaligus anak emas yang membangkang! Intrik militer HB IX ini dapat bertahan hingga 1949 dengan tanpa ada satupun militer sekutu yang berani memasuki lingkungan Keraton Ngayogyakarta.
Pada tanggal April 4 April 1949 dilaksanakan perundingan di Jakarta di bawah pimpinan Merle Cochran, anggota komisi dari Amerika serikat. Delegasi Republik Indonesia dipimpin oleh Mr. Mohammad Roem. Dalam perundingan Roem Royen, pihak Republik Indonesia tetap berpendirian bahwa pengembalian pemerintahan Republik Indonesia ke Yogyakarta merupakan kunci pembuka untuk perundingan selanjutnya. Sebaliknya, pihak Belanda menuntut penghentian perang gerilya oleh Republik Indonesia. Akhirnya, pada tanggal 7 Mei 1949 berhasil dicapai persetujuan antara pihak Belanda dengan pihak Indonesia. Kemudian disepakati kesanggupan kedua belah pihak untuk melaksanakan Resolusi Dewan Keamanan PBB tertanggal 28 Januari 1949 dan persetujuan pada tanggal 23 Maret 1949. Pernyataan pemerintah Republik Indonesia dibacakan oleh Ketua Delegasi Indonesia Mr. Mohammad Roem dan pernyataan Delegasi Belanda dibacakan oleh Dr. J.H. van Royen, yang salah satu kesepakatannya menyatakan bahwa pemerintah Belanda menyetujui bahwa pemerintah Republik Indonesia harus bebas dan leluasa melakukan kewajiban dalam satu daerah yang meliputi Karesidenan Yogyakarta. Kemenangan sementara bagi pihak Repulik sebelum tahun 1949 akhirnya dicetuskan Konferensi Meja Bundar dimana wilayah Negara Republik Indonesia adalah bekas jajahan Belanda. Yogyakarta menggabungkan wilayahnya ke dalam Republik Indonesia Serikat sebagai suatu wilayah daerah kusus yang merdeka di dalam sebuah induk negara serikat, Republik Indonesia Serikat!
HB IX menyadari bahwa pendidikan dan kepintaran bangsa ini adalah pintu utama menuju Kemerdekaan. Sultan melihat begitu begejolaknya lembaga pendidikan yang porak poranda akibat Agresi militer II Sekutu dan saat itu juga, Sultan membuka pagelaran Keraton Ngayogyakarta untuk digunakan sebagai Universitas. Tangan kekuasaan kini menjadiTangan mendidik bangsa, mempersiapkan perlawanan yang tidak lagi perang senjata, namun peperangan strategi pemikiran, memperkuat benteng perekonomian, menciptakan masyarakat yang sehat dan mengajarkan budi pekeri bagi bangsa yang merdeka. Universitas pertama didirikan di negeri ini, Universitas Gadjah Mada sesuai bunyi Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1949!
Dorodjatun telah memulainya, membuktikan bahwa pendidikan adalah senjata perang! Kemerdekaan adalah hakiki dengan kecerdasan! Pendidikan adalah pintu gerbang kemerdekaan!
DORODJATUN dan Yogyakarta menjafi monumen perjuangan itu...
Universitas Gadjah Mada yang berdiri ditengah-tengah goncangan perang dan mimpi seorang pemuda...
DORODJARUN!
Dirgahayu kampus tercinta
UNIVERSITAS GADJAH MADA
Yogyakarta.