Senin, 29 Februari 2016

AKU NEGARAKU

‪#‎Mencoba‬ menulis Cerpen/Novel based on true history. Bagi kalian yang menyukai sejarah, pemikiran orang besar, antusias masa depan, dan keindahan seni menulis, bacalah! kasih kritik ya untuk kemajuan tulisanku hehehe 
tongue emoticon
Setiap orang memimpikan tahta, aku tidak! Banyak pewaris yang dengan ketidakpeduliannya menghindari kekuasaan, aku tidak! Aku keduanya. Tidak, aku bahkan bukan keduanya.
Andaikan memilih, aku mengharap benih ayahku terlarut dalam kemandulan ibuku dan aku tak kan terlahir. Sekalipun ada, aku ingin menjadi anak pengrajin tembikar yang boleh dengan tanganku sendiri membentuk tanah liat yang basah dan lentur, lalu mengeraskannya dalam bara api hingga berbentuk, sebentuk keinginanku.
Entah apakah ibuku beruntung, menjadi madu seorang Sultan dengan kepedihan yang dibalut keemasan jubah selir dan dengan cinta yang sedikit lebih, namun tetaplah hidupnya berada pada bayangan istri kedua. Hidup dalam sebuah sudut Istana yang berisikian dengan aturan Keputren, dan tangan Permaisuri mencengkeram kuat. Permaisuri yang adalah ibu tiriku saat itu adalah seorang putri dari kakek buyutku, yang diambil istri oleh Ayahku dengan tekanan-tekanan politik sejak Belanda begitu mempengaruhi kepemimpinan Negara, Negaraku. Apakah permaisuri yang polos dengan cantik mampu duduk bertahta? Sekali-sekali tidak! Para menteri yang saling bertarung politik lah yang mendudukannya disana untuk mendampingi Ayahku memutuskan kebijakan negara. Bagaimana dengan ibuku? Bahkan mungkin hanya sesekali disuguhi hasrat ayahku yang tiba-tiba muncul dan menginginkan ibuku, di hari yang lain duduk sebagai patung dan harapan cinta yang mungkin hanya tinggal mengenang. Beruntungnya aku? Terlahir di saat hasrat itu muncul dan ibuku terpilih untuk meladangi benih Yang Mulia Paduka yang disakralkan itu, kemudian lahirlah aku.
Ak merasa terpencil, gelar Pangeran sebagai anak yang bukan anak Pertama, yang bukan Adipati Anom, apalah aku? Sesekali segerombol orang bergunjing akulah calon pewaris, tapi dengan sekuat hati aku perintahkan hati dan pikiranku, itu adalah dosa! Pikiran itu adalah dosa! Aku harus meratapi tangisan ibuku dan sesekali tersenyum lebar dihadapan Patih dan para Menteri, aku bahagia menjadi Pangeran Negeri ini. Iya aku anak Sultan, tapi haram bagiku berfikir tentang tahta.
Bisa diamkah aku? Mengusap air mata dan menganggap ini hanyalah sandiwara? Menutup tirai dan kembali tidur? Terulang dan hanya menganggap mimpi? Berusaha segera datang pagi dan melepaskan derita itu setiap hari?
Ayahku, pria yang sangat sentimentil. Aku lahir dari benih seorang Sultan yang diurapi, yang pada masanya sedang menimba kekayaan akibat pintarnya menghitung untung rugi dan berbicara dengan sangat lihai di depan Kolonial. Sesekali dia membisikan kata yang cerdik di telingaku “bertahan hidup dengan menjual senyum sesekali adalah perahu terbaik dalam mengarung derasnya air. Namun waspadalah, hati yang panas mampu meledak dan mengunus pedang. Jadilah orang yang cerdik! Hatimu akan selalu segar sehingga dengan senyum sesungguhnya pedangmu sedang menusuk tajam, tidak hanya membunuh, pedangmu membahagiakan musuhmu yang kau bunuh”.
17 buah Pabrik Gula pada masa itu adalah pedang senyuman, sambil tersenyum Ayahku mengijinkan Belanda membangun Pabrik, dan menerima Rp. 200.000 setiap pembangunannya. Terkumpul kekayaan yang melimpah, namun apa gunanya? Hanya pemberian dengan syarat. Saat Jumenengan Dalem, sejak saat itu Gubernur Hindia Belanda selalu hadir, tidak sebagai tamu! Duduk bersama Ayahku di singgasana, abdi dalem negaraku pun dengan sangat tidak pantas menggunakan Surjan Lurik kesetiaan terhadap Sultan, namun harus dengan munafiknya menutupi muka malunya sambil memayungi Penjajah itu dengan payung Kesultanan. Lebih menyayat hati, setiap kirab tangan kanan Ayahku harus melingkar di siku kiri Belanda jahanam itu dan digandeng selayaknya wanita murah yang tak mampu hidup tanpa restu dan penghidupan dari Gubernur pengisap darah tersebut. Bagaimana denganku? Hatiku selalu memanas setiap melihatnya, tapi mampukah aku marah? Bagaimana cara menyegarkan hatiku hingga kecerdikanku muncul? Aku ingin benar-benar menusukan pedang! Membuat Belanda yang bengis itu tertawa bahagia dengan pedangku yang sedang menghunus mencabik-cabik perutnya! Ajarkan padaku! Bagaimana???
Sesekali Ayahku melewati tekanan ini dengan lihainya bermain diplomasi, tapi tidak dengan kakak ku, sang Putra Mahkota Pangeran Adipati. Darahnya mendidih, perkataannya tidak lagi pedang yang hanya mengayun, dia adalah panah yang sekali sentil mampu menusuk ulu hati para pejabat Belanda itu. Kami pribadi yang sama, kemarahan kami sama, tapi aku selalu melihat bahwa Kakak ku terlalu berlebihan dan membahaya diri.
Saat itu, Patih Danureja adalah orang paling berbahaya. Setiap patih memang dilantik oleh Sultan, namun dipilih oleh Belanda. Patih adalah jabatan banci yang tak jelas jenis kelamin. Sesekali dia memaka lambang Keraton yang harusnya adalah patuh terhadap Ayahanda, namun sesekali dia adalah pejabat kolonial yang secara administratif bertanggung jawab melaporkan hasil pekerjaannya kepada Belanda. Belajar dari matanya yang sipit dan kumisnya yang selalu menjuntai, aku harus mampu sepertinya. Selalu, Cerdik adalah cara menyegarkan hati dan menghunus pedang, membunuh dengan mencipta tawa dari musuh, musuh yang kita bunuh.
Bahagianya aku, saatku menikah telah tiba. Sesuai aturan keraton bahwaz setiap Pangeran yang melangsungkan perkawinan haruslah meninggalkan tembok istana dan hidum mandiri dalam Ndalem Kepangeranan. Tak ada terbesit sedikitpun untuk merebut Tahta, tak muncul beban apapun di benak untuk harus keluar dari tembok istana. Ini adalah kebahagiaan yang didamba, aku mampu menentukan nasibku sendiri. Tidak lagi bertatakrama dan memikirkan perihnya politik negaraku. Hari-hari ku adalah berumah tangga dan mencipta gending dan tari, hidupku adalah apa yang bertahun-tahun kudamba. Hening tanpa beban memikirkan negaraku, terbebas dari tumpukan derita rakyatku, dan kini hidupku sepenuhnya adalah miliku.
Sesekali dan mungkin beberapa kali, banyak Pengageng Keraton membisikan, Ndalem kepangeranan yang aku tinggali sekarang, telah banyak menciptakan Raja yang seharusnya tidak berhak atas tahta. Dipikirnya aku senang, pada jaman itu, jangankan membayangkan, hanya terpikirpun akan menjadi bencana besar bagi keluarga dan seluruh hamba yang mengabdi padaku. Tidak! Itu dosa dan enyahlah dari pikiranku!
Di luar tembok Istana, aku dengan mudah membangun komunikasi dengan Belanda, bukan sebagai Pangeran dan Penjajah, namun sebagai tetangga. Banyak hal kupelajari dari mereka, bahkan sesekali aku berbisnis memasok kebutuhan mereka dari hasil sawah garapan abdi ku. Sekalipun tidak lagi tinggal di Istana, aku tetap bergelar pangeran dengan Cacah Abdi yang mengabdi padaku dengan menggarap tanah yang melekat pada gelarku, aku bisa hidup dan bersosialisasi baik dengan Belanda bahkan dengan para pejabat Sepuh yang saat itu mulai gusar dengan tingkah laku Putra Mahkota yang memilih sikap keras pada Belanda.
Bagiku, benar bahwa Negaraku sedang dikelola oleh orang asing, dengan senyuman manis Ayahku, praktek penghisapan itu terus berjalan. Ayahku menjadi kaya raya, Belanda pun senang, rakyat tidak tahu menahu apa yang terjadi. Negaraku menangis dengan tak henti diperkosa setiap hari dan memudar harga dirinnya, disaat aku pun sedang tidak menahu apa yang harus diperbuat.
Sikap keras kakakku akan membahayakan dirinya, membahayakan kebijakan negara, bahkan membiarkan para menteri tidak tenang hidu, dan dengan pragmatis menghitung peluang setiap harinya, posisi mana yang paling aman untuk dipilih. Semua orang prakmatis dan oportunis, menghitung dadu menyelamatkan keuntungan pribadi. Disana Ayahku tidak sadar kenyataan apa yang sedang ada di depan. Ayahku terbuai dengan kelihaiannya berdiplomasi, mengatasi segala sesuatu dengan senyuman, tidak sejalan dengan karakter Putera Mahkota yang keras, namun bagaimana, harus tetap melindungi Putera Mahkota dari ancaman pihak manapun sembari mengelap sepatu kulit Gubernur Hindia Belanda hingga mengkilap. Suatu saat ayahanda akan berkaca langsung dari sepatu Belanda yang tiap hari dia lap hingga mengkilap.
Banyak pujian dari para menteri Sepuh, atas kelihaianku berbicara banyak tentang masa depan, tentang bagaimana cara tetap bertahan hidup dengan penjajahan sembari berjuang memintarkan rakyat, sehingga suatu saat nanti bukan lagi Negara yang melindungi rakyat, melainkan rakyat sendirilah yang bergotong royong menjaga kokoh berdirinya Negara. Suatu saat nanti... tidak dengan perang, tidak dengan gelar kebangsawanan, tidak dengan kekuaksaan yang memaksa, namun dengan kecerdikan yang mampu memenangkan perang tanpa terluka dan membuat musuh dengan senang hati menjauh karena kalah.
Aku mendamba, hingga secara tidak sadar menghimpun dukungan dari para Menteri, sodagar China, bahkan Belanda yang pada saat itu sedang gencar mengkampanyekan Politik Etis dengan menyekolahkan banyak sekali anak bangsa negaraku dan mengajarkan ilmu pengetahuan baru.
Apakah ini peluang? Yang pasti saat itu Belanda dan beberapa Menteri sedang sangat membenci tingkah laku Putera Mahkota yang melakukan perlawanan keras pada Belanda.
Belajarlah, saat kamu membenci seseorang, sekali-kali jangan membiarkan hatimu panas dan menyerangnya dengan cakaran yang membabi buta, kamu tidak akan lebih mulia dari musuh. Apakah cakaranmu membuatmu menang? Membuatmu bahagia karena telah mampu menyakiti musuhmu? Itu bukan kemenanganmu, melainkan kekalahan yang terbungkus ego dan menawarkan sesnsasi kepuasan yang sebenarnya hanyalah ilusi. Km sama sekali tidak menang, melainkan kalah dengan murah. Kamu harus memutar otak, menemui musuhmu dan berbicara yakin, kamu mampu mengatasi rasa benci dalam dirimu, dan kamu telah mengalahkan dirimu sendiri. Disaat itu musuhmu akan semakin berang, karena dia sadar kamu telah begitu menyakiti hatinya. Dan dia tidak dapat berbuat sesuatu apapun karena bukan dirinya yang kamu lawan, melainkan dirimu sendiri. Musuhmu akan menderita dalam batinnya dan tak mampu berbuat apapun, tidak ada wajah kesakitan dari dirimu, dan kamu tetap tersenyum, senyum kemenangan!
Begitulah aku, melakukannya pada Belanda.
Aku tahu mereka akan merendahkan bangsaku dengan mengirim banyak sekali guru, menilai bangsaku adalah rendah dan tidak terdidik, sembari dengan kebaikan-kebaikan itu mengeruk kekayaan negaraku. Jika aku marah, semisal aku menghunus pedang dan mengarahkan pada Gubernur Jendralnya, jelas kami akan berperang. Tapi bukan tentara kulit putih yang dia kirim, melainkan antek-antek tentara bayaran yang akan dikirimnya melawanku, siapa antek-antek itu? Tak lain adalah bangsa sedarahku. Kalau tidak Bugis mungkin tentara Maluku yang dikirim ke Negaraku untuk melawanku. Bagaimanapun Belanda menjadi tetap lebih cerdik dariku. Apakah nasionalisku diragukan jika aku tidak mengangkat senjata berperang melawan Belanda? Atau bahkan aku se[perti tikus got yang dung dan bodoh yang mengambil senjata dan dikobarkan oleh kemarahan, menyerang Belanda dan pada akhirnya akan saling membunuh dengan tentara bayaran mereka yang adalah bangsaku sendiri? Sekali-kali Belanda tetap lebih pintar dariku. Ini kritik kerasku terhadap Putera Mahkota yang adalah kakak ku bersama dengan para petinngi keraton yang sok pahlawan yang diperbudak oleh kemarahannya dan menjadi bodoh!
Aku tidak demikian, aku menangkap peluang! Bagaimanapun bisnis gula ayahku adalah keniscayaan yang sedang terjadi, aku tak dapat menolaknya. Keraton ku sekarang pun begitu megah dibangun dari hasil pabrik-pabrik itu, saudara-saudaraku berangkat pendidikan ke Belanda juga dari dana tersebut, semoga mereka pulang kemabli dan membangun bangsa ini dari ilmu yang diserap dari para penjajah itu, bagaimanapun itu adalah cerdik. Aku akan memanfaatkan para menteri yang saat ini sedang sakit hati atas tindakan kakak ku untuk lebih berlaku antitesis. Kakaku membenci Belanda, mereka harus menyayangi Belanda. Saat kekuatan kakaku begitu dahsyat menelanjangi belanda, para menteri harus menyiapkan baju ganti untuk dijual pada Belanda dengan harga yang tinggi. Saat Belanda merasa terancam oleh kakaku pastinya harga berapapun akan disetujui oleh nya. Saat itu para menteri akan mengusulkan banyak regulasi pro kemajuan bangsaku yang mau tidak mau disetujui oleh Belanda.
Pada jaman itu Rijks Blad Van Yogyakarta diterbitkan oleh Ayahku tanpa perlawanan sedikit pun dari Belanda. Rijks Blad Van Yogyakarta ini adalah perlawanan atas Domein Verklaring Belanda yang diciptakan sejak pemerintahan Raffles dimana Belanda mengakui semua bidang tanah adalah milik Kerajaan Belanda. Ayahku mengeluarkan Rijks Blad Van Yogyakarta yang menyatakan seluruh tanah di negaraku adalah kagungan Ingsun (Milik Sultan) jika tidak dibuktikan dengan Eigendom.
Sesaat Belanda ingin menentang kebijakan Ayahku, namun aku telah mengirim beberapa utusan untuk berdiplomasi dengan Belanda. Aku berkata “ buat Belanda kebijakan itu adalah keuntungan, dengan kebijakan itu berarti Sultan mengakui kepemilikan tanah pabrik milik Belanda, karena Belanda memiliki Eigendom, sehingga Belanda tak perlu lagi kuatir menjalankan bisnis ekonominya di Yogyakarta”. Sepertinya rayuan pada Belanda berhasil dan saat itu juga Belanda tidak melakukan tindakan apapun terkait Kebijakan Ayahku, dengan pengertian lain belanda memilih untuk setuju.
Sejak Rijks Blad diumumkan, terjadi perubahan suasana regulasi dalam Negaraku. Karena semua tanah adalah milik Sultan (Sultan Grond), Belanda harus menyewa jika ingin menggunakan tanah untuk pembangunan, baik pembangunan jalan atau rel kereta api, bangunan sekolah, gereja, rumah sakit dan apapun itu terkait kepentingan Belanda. Keraton mendapat pemasukan dan jauh lebih penting daripada itu, Sultan berdaulat penuh atas tanah kekuasaannya, bisa menentukan boleh dan tidak tanpa intervensi dari Belanda. Cerdik? Tentu saja! Membunuh sembari membuat musuh kita tersenyum dalam tusukan pedang di perutnya.
Para menteri menyadari kecerdikan ini, dan mendapat manfaat yang banyak. Jika sebelumnya mereka harus melaksanakan aturan Feodal Belanda dengan hanya menikmati seperlima dari hasil sawah, dua per lima dibayarkan kepada Sultan sebagai Sistem Patuh, dan dua per lima lagi dibayar kepada Belanda sebagai Pajak Penggunaan lahan, sekarang tidak lagi!
Tanah kemudian diatur oleh Ayah menjadi Sistem Andarbe (Andarbeni = memiliki), diberikan oleh Sultan kepada para Abdi dan Keluarga secara turun temurun, dikuasai oleh pihak bersangkutan sampai pada keturunannya, sebagai bentuk kemurahan Sultan. Sebagai pengikat bahwa tanah tersebut adalah tetap milik Sultan, para Abdi dan Keluarga diberikan sebuah perjanjian sejenis Magersari dan membayar kepatuhan secara rutin kepada Sultan. Tentu hal ini sangat menguntungkan dibanding dengan sistem Feodal Belanda sebelumnya. Bagi Priyayi dan pejabat yang sedang mengabdi dalam sebuah jabatan akan mendapat tanah Bengkok sebagai gaji, dan jika pensiun akan diberikan tanah Pengarem-arem.
Aku memasukan ide gagasanku dalam setiap pembentukan regulasi yang reformis ini, dalam setiap dialogku bersama dengan para Menteri yang akan menghadap Sultan untuk memutuskan pembaharuan regulasi. Ayahku semakin kokoh menduduki tahtanya, dan para Menteri mulai menemukan permainan politik yang cantik dalam menghadapi Belanda. Pertemuan-pertemuan tersembunyi adalah kegiatan menyenangkan bagi kami dalam menyusun siasat memerangi belanda dengan cara yang cerdik!
Namanya air hujan, selalu jernih di atas namun membuat keruh di tanah. Mimpiku untuk mengusir Belanda dengan cerdik tidaklah selalu berjalan mulus, Kakak ku tidak sejalan denganku, kekerasan adalah cara terbaik menurutnya. Beberapa pasukan khusus dibentuknya untuk melawan Belanda secara frontal, dan ini sudah sangat tercium oleh militer Belanda. Belanda mulai merongrong Ayahku dan meragukan restunya untuk mendukung Putera Mahkota menjadi Sultan Berikutnya. Ayahku sangat terpukul dan hal ini mempengaruhi keheningan dalam tembok Keraton. Ayahku tidak gentar dengan anggapan negatif Belanda atas Kakak ku, justru itu adalah suatu kebanggaan tersendiri dimana seorang Putera Mahkota begitu gigihnya memperjuangkan nasib Bangsa. Namun, siapa yang mampu menjamin keselamatan Putera Mahkota? Apalagi di luar tembok istana para Menteri sudah mulai mengkampanyekan diriku untuk menjadi Sultan berikutnya.
Aku terjebak! Dari keinginanku untuk mengokohkan negaraku, berperang dengan ketakutanku sendiri sebagai anak yang hanyalah seorang pangeran kedua. Aku takut tertuduh sebagai pencuri tahta! Aku tidaklah demikian! Aku bukan pencuri! Aku hanya meratapi bangsaku dan ingin berbuat sesuatu...
Aku tidak menginginkan tahta! Aku hanya menginginkan Ayahku bisa duduk kokoh di singgasana tanpa harus tersenyum palsu, mengemis kemurahan hati Belanda dan membiarkannya bertahan hidup. Ayahku adalah Sultan negeri ini! Ayahku adalah penentu kekuasaan! Aku tak ingin dia terjebak dalam sikap memalukan, mengemis dengan senyuman yang lebar, terlihat sugih namun dalam hatinya meronta. Cukup! Aku tak sanggup lagi...
Aku harus berbuat sesuatu, tapi itu bukan untuk tahta! Aku melakukannya untuk Ayahku.. untuk Negaraku!
Sakit kegundahan ini belumlah seberapa, semakin menyengat ketika aku tahu, bahwa ayahkupun mulai mencurigaiku aku akan merebut tahta kakak ku. Menangis meronta hati, aku bukanlah orang sepicik itu...
Mengagetkanku, seketika terdengar teriakan. Putera Mahkota dibunuh! Putera Mahkota dibunuh!
Keraton sebenarnya ingin menyembunyikan hal ikhwal kematian Putera Mahkota, karena berita itu akan melemahkan kewibawaan Sultan dan Keraton, namun niscaya seorang Putera Mahkota wafat secara mendadak. Terdengar rumor di masyarakat bahwa Belanda telah mengirim seorang yang berpura-pura menjadi Abdi Dalem dan menyuguhkan racun kepada Putera Mahkota. Hatiku tersayat, kehilangan seorang kakak yang aku sayangi, dan terlebih itu sebuah lambang negara sedang dihancurkan oleh pihak yang saya yakini Belanda.
Belanda mengambil jalan pintas dari sebuah diplomasi yang panjang tentang Suksesi Sultan yang tak kunjung mencipta kesimpulan. Belanda membunuh Putera Mahkota sebagai jalan pintas sekaligus peringatan kepada Ayah atas perlawanan penolakan pengunduran diri Putera Mahkota.
Apa yang aku rasakan sekarang? Bagaimana dengan aku? Beberapa detik yang akan datang semua mata tertuju padaku. Mereka memandangku dengan sejuta harapan bahwa akulah Sultan berikutnya. Tidak! Mereka akan menuduhku bersekongkol dengan Belanda membunuh Putera Mahkota. Bagaimana dengan Ayahku?? Apa yang dia pikirkan saat ini? Bagaimana nasib ibuku? Yang merindu cinta dari Ayahku yang tak kunjung datang? Bagaimana Negaraku? Apa yang harus terjadi pada diriku?
Belanda sudah mengangkat telunjuk mendukungku untuk menjadi Putera Mahkota berikutnya. Hal ini sangat tidak baik bagi hubunganku dengan Ayah. Apa yang harus aku lakukan?
Patih Danureja segera mendatangiku, membawa setumpuk kitab pelajaran calon Sultan dan menyodorkan semua petunjuk yang harus aku persiapkan. Aku tidak menghendaki ini! Aku ingin tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Ayahku?? Kalian jangan seenak hati begitu, jangan memaksaku menjadi penjahat di depan Ayahku. Penghianat yang melawan Ayahku? Itukah aku sekarang?
Pepatih Dalem yang adalah Kepala Rumah Tangga Keraton membawa titah menuju kediamanku, memintaku menghadap Sultan dalam waktu segera. Hatiku gusar, senang dan sedih menghantui. Ayahku adalah jiwa yang kurindukan dan saat ini ingin bertemu denganku, untuk tersenyum padaku? Ataukah membuang air wajah kebencian padaku?
Dengan rambut yang belum terkonde, duduk di dalam Centong Gedong Emas memintaku bersujud dan dengan nafas yang sangat dalam “tidak boleh ada dua matahari dalam satu bumi, hanya boleh satu pangkuan yang memangku bumi ini (Hamengkubuwono), persiapkan dirimu ngger, Romo Lengser Pandhito(Pensiun dan menjadi pendeta)”
Tersentak jantungku, tidak pernah ada Kesultanan mengalami Suksesi selama Sultan lama masih hidup, saya tidak bahagia dengan keputusan ini, ini adalah bentuk ketidakbahagiaan Ayahku.
“Mulai sekarang mari bermain sandiwara, Romo marah! Tetapi seperti kata Romo... hati yang panas akan menusukan pedang, Kecerdikan lah yang menyegarkan hati dan membunuh musuh dalam wajah yang tersenyum, saya tidak akan duduk di singgasana ini dan mebiarkan satu demi satu Pangeranku terbunuh. Kamu ngger, akan menerima wahyu ini sebagai nasib, sudah ditakdirkan kamu menjadi Sultan dan aku haram untuk menghalangi nasibmu. Nasibku belum meninggal sampai saat ini, namun nasibku juga yang menyebutkan bahwa aku tidak akan meninggal sebagai Sultan di Keraton ini. Ingat Kata-kataku ngger, Tidak akan ada lagi Sultan setelahku yang akan meninggal di dalam tembok Keraton. Kamu pun demikian”
Cerdik! Akan menjadi jalan penyegar hati yang panas, sekali lagi aku harus menerima pelajaran itu dari Ayahku.
Sultan Hamengkubuwono VII, Sultan Sugih yang membawa modernitas Yogyakarta menuju kemakmuran meninggalkan Keraton dengan sebuah kutukan, menyendiri bersama dengan Permaisuri dan menghabiskan sisa hidup di Pasanggrahan Ambarukmo.
Sejak saat itu, Aku adalah Negara! Menjadi Sultan Hamengkubuwono VIII dan menitahkan mimpi pada setiap rakyatku untuk menjadi Cerdik! Perjuangan kedepan tidak akan dilewati dengan hunusan pedang melainkan dengan kepintaran. Aku mengutus seluruh keturunanku untuk mengenyam pendidikan Eropa, menjadi orang Eropa untum mampu berfikir seperti Eropa. Jawa ditanam dalam dalam hati sementara Eropa ditumbuhkan dalam pemikiran. Aku membuka tembok keraton untuk pendidikan, merestui pembangunan sekolah-sekolah, dan suatu yang monumental bagi nasib Negaraku, aku mengukir Dorodjatun sebagai penerusku dengan pendidikan Barat, Aku mengirimnya untuk mengetahui bagaimana cara orang barat berfikir, suatu saat dia akan melakukan segala urusan dengan Belanda. Cerdik! Adalah warisan yang aku wariskan pula pada calon Sultanku hingga kemerdekaan sesungguhnya diraih.
Aku tidak seperti Ayahku yang meninggalkanku dalam kesendirian, memberiku kekuasaan dengan kutukan. Aku menjemput sendiri Putera Mahkotaku di Batavia dengan menunggang kereta api, menyerahkan Kyai Piturun pada Dorodjatun dan menjadikannya Sultan Hamengkubuwono IX.
Tugasku telah usai, dan kutukan Ayahku dengan senang kujalani, sebelum masuk perbatasan Yogyakarta, nafasku terhenti. Bukan di tembok keraton aku mengakhirinya... di dalam Kereta Api menuju Yogyakarta, Negaraku.
Jasadku tak sampai, namun mimpiku melampaui batas!
Cerdiklah bangsaku!
Negaraku!
Aku, Raden Mas Sujadi
Anak Selir yang mewujud mimpi dengan Cerdik
(Hamengkubuwono VIII 3 Maret 1880- 22 Oktober 1939)