Terakhir, beberapa kejadian di Sumba Barat terkait pembunuhan seringkali terjadi atas nama kehormatan. Kehormatan pribadi ataupun keluarga terasa dicederai jika lahan tanah diusik atau anggota keluarga dilukai, solusi terakhir selalu mengarah pada perang terbuka, saling membunuh dan membalas dendam.
Kehormatan (laki-laki) diwariskan dengan cara yang bermacam, di sini di Sumba, kehormatan terjaga jika anda berani melawan, saya berani mendefinisikan demikian karena sekalipun teory ini tidak mewakili semua orang disini, namun terasa sekali bahwa anda akan dipandang lemah jika tidak membalas melawan (fisik maupun umpatan).
Di Jawa, kehormatan terbukti adalah ketika anda mampu melawan emosi dan tetap tersenyum dan menunduk saat hati terluka berat, dan balaslah orang yang melukai dengan rasa malu, malu karena ternyata anda lebih beradab dan berbudaya dari musuh. Wibawa terjaga saat anda mampu mengendalikan diri. Saya pribadi, lebih memilih kehormatan demikian, dan seringkali pun tercemooh dengan bahasa "mengalah aja terus! Sampe ga ada lagi yang membuatmu mengalah".
Lumayan menguras pikiran, menghimpun semua definisi apa itu kehormatan? Di satu sisi kita telah belajar banyak mengenai ilmu, kebijaksanaan, kerendahan hati yang bermuara pada moralitas, namun disisi lain alam sekitar masih menganut hukum balas yang tidak terselesaikan hanya dengan bijak melainkan penuh syarat keberanian. Keberanian lebih diartikan fisik dan kuat, dimana untuk bisa berani kamu harus menghasilkan respek dari orang lain, terkesan masculin, berbadan besar, mampu membunuh lawan seketika. Lalu bagaimana bisa orang bijak yang hanya mengandalkan fikiran dan ketenangan batin mampu bertahan dalam kondisi demikian?
Menulis ulasan IMLEK yang mungkin sudah sangat terlambat, mencoba berbagi ilmu Konfusius yang sempat dipelajari. Mengenai kehormatan laki-laki, konfusius menggunakan media Giok dalam memberikan pencerahan dan sampai detik ini Giok masih dianggap sebagai lambang kehormatan dan rejeki. Tulisan ini memang sengaja diapresiasikan bagi para pengagum kebijaksanaan, jadi bagi mereka yang darahnya gampang mendidih dan berteori berani membalas dendam adalah pilihan terbaik maaf anda akan mudah tersinggung untuk ulasan ini.
Suatu kali Gong Zi bertanya pada Konfusius : "Guru, mengapa Giok lebih berharga daripada batu berharga lainnya ? Apakah karena, batu Giok langka ? " Konfusius menjawab : "Giok sangat berharga, bukan karena sangat jarang / langka, tetapi karena kualitas batu giok yang sesuai dengan kebajikan seorang pria. Giok lunak dan lembut, seperti kebaikan seorang pria. Giok memiliki tekstur yang baik, tapi padat, seperti kebijaksanaan orang yang terhormat, yang selalu mengurus sesuatu hal dengan hati-hati, cermat dan teliti. Meskipun Giok memiliki sisi yang kasar, tapi tidak tajam dan tidak akan menyakiti orang lain, seperti rasa keadilan dan ketulusan dari orang terhormat. Giok itu juga melambangkan kesopanan dan kebijaksanaan orang terhormat. Meskipun Giok indah, kekurangannya juga terlihat, seperti kesetiaan orang terhormat tanpa prasangka dan tanpa menyamarkan kebutuhan, tidak manipulatif namun apa adanya konsisten perbuatanya sebanding dengan kata-katanya. Semangat dari batu giok dapat dilihat di lanskap. Ketika Giok berada di kolam yang dalam, dipercaya sungai akan membuatnya magis, Ketika Giok berbasis di gunung, maka rumput akan subur. Dimanapun itu, Giok memberikan efek, seperti kehormatan seorang pria ketika dia memberikan dampak bagi alam dan masyarakat sekitarnya, ketika itu terjadi kehormatannya tercipta."
Mungkin Konfusius meletakan prinsipnya pada jiwa2 negosiator, pendamai, pemikir, tenang, hati-hati, namun jika melihat Ken Arok dan Tunggul Ametung yang saling membalas dendam sampai keturunan ketujuh demi keris Empu Gandring kita juga menilai mereka pria-pria terhormat. Terhormat karena mereka mempertahan dan memperjuangkan prinsip yang diyakini sekalipun harus saling membunuh. Kehormatannya terletak pada keberanian nya mempertahankan prinsip.
Lantas? Dimana nilai kehormatan?!
Ketika kehormatan dinilai sebanding dengan mempertahankan prinsip, mengerucutnya menjadi keegoisan! Egois dalam menerjemahkan prinsip pribadinya yang kemudian dipaksakan menjadi yang paling benar. Tidak semua orang mampu membujuk bahkan memaksa semua orang se prinsip dengan prinsipnya, dan ketika hal itu tidak terwujud, emosi yang memuncak dan kekerasan yang terjadi, ujungnya adalah Ego untuk sebuah pengakuan atas prinsipnya.
Zi Lu kembali bertanya kepada Konfusius : " Guru, apakah hubungan kehormatan pria dan keprihatinan mereka," Konfusius menjawab : orang terhormat yang paham dengan dirinya sendiri akan memahami kebajikan. Selama belajar, pria terhormat akan fokus pada "Dao" dan sering mengenali prinsip-prinsip tertentu pada tingkat ini. Jika ia secara pribadi menegaskan prinsip-prinsip orang-orang kudus dan bijak, dia mendapatkan pemahaman yang lebih dalam prinsip-prinsip yang berlaku sehingga mereka murah hati dan mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan.
Oleh karena itu, pria terhormat adalah seorang pria yang memahami arti sebenarnya dari hidup dan kebahagiaan seumur hidupnya. Dia tidak akan mengejar kepentingan pribadi dalam pikirannya. Kekhawatiran dari seorang pria terhormat, bukan khawatir tentang ketenaran pribadi dan keuntungan nya sendiri yang membuatnya memanipulasi orang lain dan situasi, melainkan khawatir tentang seluruh dunia. Apa yang mereka paksakan pada diri mereka sendiri adalah tanggung jawab dan kepedulian terhadap orang lain, yang merupakan perwujudan dari mementingkan diri sendiri. Keuntungan pribadi pria terhormat adalah prinsipnya ketika dia memikirkan orang banyak, orang yang ada dalam kekuasaanya atau sekian banyak kepentingan yang mampu untuk dia rubah menuju hal yang baik.
Lalu dimanakah batas pria terhormat dan tidak? Pria tidak terhormat adalah mereka yang tidak memperhatikan moralitas keprihatinan pada alam dan orang di luar dirinya. Mereka selalu merasa khawatir jika mereka tidak mendapatkan manfaat pribadi yang dimaksudkan. Dan ketika mereka mendapatkannya, mereka juga akan khawatir mereka akan kehilangan lagi. Mereka peduli tentang keuntungan dan kerugian dari segala sesuatu, sehingga mereka hidup dalam ketakutan dan khawatir dan tidak memiliki hari di mana mereka merasa nyaman dan bahagia.
Semua pria memiliki prinsip! Dan itu ajimat yang menkadi syarat utama kehormatan. Namun, prinsip untuk siapa? Untuk keuntungan dirinya sendiri? Atau untuk sesamanya? Hal ini menjadi batas yang jelas apakah pria tersebut terhormat atau tidak. Terlepas, apakah sifatnya lembut atau kasar, pemaaf atau pendendam, siapa yang pria itu perjuangkan?? Dirinya sendiri atau orang sekelilingnya? Definisi kehormatan akan terlihat disana.
Orang sopan dan lembut belum tentu terhormat, banyak yang menggunakan kelembutanya dengan niat picik demi keuntungan dan egonya sendiri, memanipulasi orang lain dan situasi demi tujuan dirinya sendiri tercapai, tidak ada keprihatinan terhadap orang lain secara tulus. Seringkali yang terlihat kasar dan beringas itu, begitu memperjuangkan orang lain dan lupa akan kebutuhannya sendiri, memasang badan nya di depan tanpa takut, untuk membela dan melindungi sesamanya, itu juga adalah esensi kehormatan pria.
Budaya tradisional selalu menekankan moralitas. Hanya orang yang merasa moralitas dalam kehormatan, yang dapat menaikkan tingkat ideologis mereka. Seorang Pria terhormat akan selalu mengikuti prinsip-prinsip surgawi dan mengikuti ajaran-ajaran orang-orang kudus dan bijak dalam rangka untuk memandu diri mereka sendiri. Laki-laki terhormat akan selalu menjaga moralitas dan tidak dilibatkan dalam gelap intrik masyarakat. Pria terhormat dapat menerima orang lain untuk toleransi murah hati intelektual mereka, mereka dapat membawa pikiran baik dalam pikiran orang dan orang-orang menyentuh mana-mana dengan hati yang murni dan penyayang. Semuanya didaulatkan untuk kepentingan banyak orang, sedikit dan kecil sekali yang ditujukan untuk dirinya sendiri.
Giok yang begitu identik dengan kehormatan dan rejeki, memancar untuk semua orang. Dipercaya membuat air sungai itu magis dan membuat pegunungan hijau subur. Seperti Giok, Pria memiliki kehormatannya ketika dia punya keprihatinan dan ketulusan untuk menjadi berguana, perinsipnya bermanfaat buat banyak orang, dam bukan! Bukan untuk keuntungan pribadinya sendiri.
Sumba dan Jawa, memiliki prinsipnya masing-masing dengan kelembutan atau keberanian. Keduanya akan terhormat jika dasar moralitasnya untuk kepentingan banyak orang, bukan demi nafsu pribadinya yang memandulkan kehormatan nya.
# setelah baca, aku kok pusing sendiri dengan tulisan sendiri haha. Swmoga viewer bisa membaca dengan baik, amin
smile emoticon
Tidak ada komentar:
Posting Komentar