Minggu, 09 Agustus 2015

BENARKAH JODOH DI TANGAN TUHAN???

Terbayangkah dengan siapa kita akan hidup? Pasti tidak...
ketidakjelasan ini membawa semua orang kemudian malas menebak, dan menumpukan keingintahuan itu pada dengkul pasrah, kepasrahan yang supaya jauh dari malas kemudian mengkambinghitamkan Tuhan.

Tuhan maha tahu, biarlah Dia yang mengatur...
Ada serangkaian tulisan Alkitab yang jika dilihat dengan jeli, akan sedikit membangunkan kepasrahan itu menjada sadar! Sekalipun kuasa Tuhan soal jodoh itu memang tak akan terbantahkan.
Serangkaian tulisan itu tertulis dalam Kejadian 2 ayat 18-23 menceritakan bagaimana cara Tuhan menentukan Hawa untuk Adam.
(18) TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." 
(19) Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. 
(20) Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. 
(21) Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.
(22) Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. (
(23) Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.

Setelah Tuhan menciptakan seluruh dunia dan segala isinya termasuk Adam, Tuhan melihat bahwa tidak baik bagi Adam untuk hidup seorang diri. Diceritakan sebelumnta, jika Tuhan ingin menciptakan siang terciptalah siang, ingin mencipta malam terciptalah malam. Lalu, ketika Tuhan menilai Adam tidak baik seorang diri, seharusnya terciptalah Hawa di saat itu juga! Tapi ternyata bukan...
Pada ayat (19) Tuhan bukanya menciptakan Hawa malah menciptakan segala binatang dan burung di udara. Tuhan menyuruh Adam menamai setiap binatang tersebut baik jantan dan betina. Sampai pada akhirnya Adam merasa bingung, tidak ada yang sepadan dengannya.
Tuhan mempunyai otoritas tertinggi untuk menentukan segala sesuatu, termasuk menentukan jodoh. Namun seperti kepada Adam, Tuhan tidak menilai sendiri apa yang baik untuk Adam melainkan menunggu Adam merasa butuh atas apa yang dibutuhkannya. Tuhan bisa saja berfikir bahwa Adam membutuhkan teman hidup, tapi apakah Adam berfikiran sama? Di saat itu Adam menikmati kesendirianya dan tidak tersibukan untuk memikirkan teman hidup.
Tuhan memberi kesempatan kepada Adam untuk menyadari kebutuhannya sendiri. Membentuk segala binatang di darat dan burung di udara, meminta Adam menamai satu-satu jantan dan betina. Sampai kemudian merasa, kenapa tidak ada yang sepadan dengannya? Binatang berpasan-pasangan, bagaimana dengan Adam?
Laki-laki seringkali menikmati petualangannya, menyeruak bumi membabat batas mencari dan menilai. Di saat itu Tuhan memberi kesempatan secara otonom untuk kita dapat menemukan kebutuhan apa yang kita cari. Kebutuhan itu berkembang bertahap, dari kegagalan, penundaan, persaingan, perbandingan, semakin hari semakin kompleks dan berwarna. Disaat warna itu begitu bermacam, kebutuhan itu makin memudar dan tak tahu lagi warna mana yang cocok? Bagian mana yang terbaik? Keserasian mana yang indah? Sampai pada tahap ketakutan lagi untuk mencoba. Keabstrakanya mengkaburkan kebutuhan yang selalu berperang ganas dengan keinginan. Keinginanmu akan melambung tinggi hingga tak tersentuh dan kebutuhanmu yang sebenarnya akan tenggelam sebegitu dalamnya yang lalu terasa berat untuk diangkat kembali.
Jodoh ditentukan Tuhan jauh sebelum kita membutuhkan, bahkan saat kita masih menari-nari dengan keinginan. Seperti saat Tuhan menilai Adam tidak baik seorang diri, disaat Adam sendiri belum sadar kalau dirinya akan membutuhkan seorang yang sepadan.
Lalu seperti adam yang pada ayat (20) menyadari, bahwa binatang-binatang yang dinamainya berpasangan, tidak dijumpainya yang sama baginya, yang sepasang dengannya. Dari sekian petualangan keinginan, kita merasa segala sesuatu indah, menangkapnya dan memujanya! Namun ada satu titik dimana tidak dijumpai yang sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan itu seperti rasa lapar, makanan sehat yang tersedia tak termakan namun hasrat begitu tingginya untuk mencicip kue, sirup, alkohol, segala sesuatu yang menghasut mata dan memompa deras air ludah membutakan mana yang baik untuk tubuh dan melampiaskannya dengan racun yang perlahan membunuh. Hasutan itu adalah keinginan yang jika tak segera sadar akan membawa Adam hanya menamai binatang namun tak melihat bahwa dia pun membutuhkan pasangan, untuk dirinya.... kebutuhannya!
Adam kemudian berhenti dan sadar, bahwa dia punya kebutuhan. Tuhan sudah tahu jauh sebelumnya dan Tuhan sudah merasa waktu bagi Adam untuk menyadarinya tealh cukup. Tuhan memberikan pasangan bagi Adam, tidak dari tanah seperti binatang dijadikan, tidak dari daun-daunan ataupun air yang mengalir dari sungai melainkan dari tulang rusuknya sendiri. Kebutuhan itu tidak jauh dan tidak dimana-mana, dia sudah ada dalam keseharian kita namun kita begitu buta. Keinginan membawa kita melanglang buana terlupa akan kebutuhan yang sebenarnya tak pernah berada jauh.
Ketika maksud Tuhan dan maksud kita menemui kesepakatannya, Tuhan menjadikannya! Saat Tuhan menjadikan Hawa untuk Adam, Adam berkata "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki" Mengakui dengan bangga kebutuhan yang padahal sebelumnya disia-siakan, itulah kita!
Kejadian pasal 2 ayat (24) kemudian menegaskan "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging"
Apakah kemudian Tuhan marah dengan kenakalan kita? Membenci petualangan kita yang hanya mengejar keinginan?? Amsal Pasal 18 ayat 22 menjawab :
"Siapa mendapat isteri, mendapat sesuatu yang baik, dan ia dikenan TUHAN."
TUHAN BERKENAN!
TUHAN memilihkan kebutuhan hingga kita sadar akan kebutuhan itu, menunggu kita mencari dan menikmati keinginan hingga sadar apa sebenarnya kebutuhan. Saat kebutuhan kita sepakat dengan pilihan Tuhan, TUHAN BERKENAN! AMIN... 
smile emoticon

Tidak ada komentar:

Posting Komentar