Minggu, 09 Agustus 2015

Pesta Angkat Jiwa

Terbayang mungkin dari judulnya, bahwa pesta ini untuk sebuah kematian atau penguburan. Tidak, ini pesta untuk mengangkat kembali semangat dari keluarga setelah sesuatu hal yang tidak mengenakan.
Lucu, suatu kali saat bikin acara bakar-bakar ayam dengan sejumlah temen dekat di Sumba, terjadi kecelakaan kecil dimana dua teman perempuan jatuh dari kursi kayu nya. Lantas smua kemudian meneriaki saya sebagai tuan rumah "Arie! ayo ambil kain.. lempar kain! angkat jiwa!"
Dengan wajah bingung, bukan bingung menolong teman yang jatuh saya bingung dengan ungkapan tersebut, apa maknanya?

Ternyata jika kita mengundang tamu atau saudara di rumah kita, dan terjadi sesuatu yang tidak mengenakan, kita wajib menyiapkan kain adat dan harus menyampirkan kain tersebut di bahu teman yang tertimpa masalah tersebut.
Dalam hati "yah, situ yang kebanyakan tingkah terus jatuh dari kursi, kok saya yang harus repot kasih kain adat! hahahaha" sambil kesel. Ida Melanie Nahassama Martha Yuanita Loru ‪#‎inget‬ e, kain adat Sumba mahal trus saya harus kasih ke kalian yang Baele trus jatuh, jangan2 kalian sengaja jatuh biar dapat kain dari saya?? hahahaha.
Ternyata begitulah Sumba, mengajari jangan sampai ada yang terluka dan sedih saat mereka menjadi tanggung jawab kita, di rumah kita.
Semalam, keluarga yang sudah sangat dekat sedang terimpa masalah kerampokan sepasang Gading dan perhiasan, nilainya lumayan besar. Dengan kesedihan tersebut, kita harus hadir dan ikut "merayakan" Pesta Angkat Jiwa, bentuk simbolisasi empati versi orang Sumba. Dengan membawa kain adat, cium hidung dan menyampirkan kain adat tersebut di bahu pihak keluarga yang sedang bersedih.
Dalam bayangan saya, suasana akan hening dan sedih, tapi ternyata tidak! tetap namanya pesta, yang ada adalah bapak-bapak dengan cerianya main kartu dan semua menyantab jamuan makan malam yang lezat! daging babi dan dengan berbagai menu.
Saya berfikir keras, ini kesedihan atau keceriaan??? begitulah Sumba, sangat unik dan "mahal"! hahahaa.
Di Jawa, tatkala bersedih, datang memeluk dan mendoakan sudah mensimbolkan empati yang dalam. Di Sumba bersedih dan berempati pun ga bisa gratis! harus datang dengan kain adat yang nilainya lumayan terhitung mahal. yahh, karena saya bukan orang Sumba, saya hanya datang dan ikut makan! hahahahaa.
Mahal, namun ini tradisi rumpun berhimpun yang harus dijaga. Terdapat harta karun sosial yang jika dibina dengan baik akan menghasilkan stabilitas yang penting di Pulau ini.
Namun, tetap lah bukan Sumba jika anda tidak terheran. Di satu tempat orang begitu menghargai empati, di tempat yang tidak jauh dari situ, tetap orang Sumba, Baku Bunuh masih terjadi dengan alasan saling membalas dendam. Bukan orang lain, yang berperang adalah sesama keluarga sendiri. Paradoks! membingungkan! mengherankan...
Itulah SUMBA! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar