Saya Nasionalis, iya dan sangat pasti. Agamis? Setidaknya buat saya tuntunan agama yang saya yakini saya paham dan jalankan sebaik2nya. Yang sangat tidak buat saya adalah lupa identitas diri. Saya sangat mengagungkan Nasionalis, Agamis, dan Identitas Kebudayaan yang menjadi jati diri identitas saya.
Saya dibesarkan dalam keluarga gereja Salvation Army (Bala Keselamatan) menjadi Prajurit Muda pada umur 10 tahun dengan janji ikrar tidak merokok dan minum minuman keras, sampai detik ini saya pegang teguh dan tanpa tergoyahkan. Seperti slogan yang sering didengungkan "Hati Tertuju Pada Tuhan dan Tangan Tertuju Pada Sesama" begitu kami dididik untuk hanya mengarahkan batiniah kepada Tuhan dan dengan menjadi "jiwa yang sudah purna" tersebut, tidak akan membatasi diri kita untuk baik kepada siapa pun. 
Dari sini saya belajar untuk tidak memamerkan agama saya tapi memamerkan perbuatan baik kepada siapa pun. Ketika orang dari latar belakang apa pun melihat bahwa kamu baik, mereka akan melihat bahwa Tuhan mulah yang baik. Semakin kamu membatasi sikap baikmu dengan memilah-milah, Tuhan mu bukan Tuhan semesta Alam, tapi tuhan yang terperangkap dalam keterbatasan daya pikirmu, terjemahanmu sendiri, dan keterbatasanmu dalam memahami Tuhan. Saya Kristen tapi itu hanya untuk batiniah saya pada Tuhan, di luar itu saya manusia bersama2 dengan kamu, kamu tanpa terbatas apapun.
Saya berbudaya dan itu identitas saya. Kadang teman selalu berkomentar, kok seleramu aneh ya? Kuno banget dan ga update. Masa kecil saya paling suka nonton Wayang Kulit dan beruntung punya Eyang Kakung yang dengan sabar menjelaskan jalan ceritanya ke saya. Tanpa bisa membaca, beliau hapal dan menghayati semua Laku Baratayudha dan sejarah raja2 Jawa dari kerajaan Kahuripan sampai Mataram Islam dan beliau adalah Kejawen, masa2 ini sangat mempengaruhi cara berfikir saya terhadap aliran kepercayaan, adat istiadat kebudayaan kuno, dan toleransi. 
Kita paham dengan pasti, kehidupan berbudaya kita tak bisa terlepas dari warna kekuasaan yang berganti2 di tanah nusantara ini, dengan transformasi budaya yang begitu cepat. Kita tidak bisa mengelak bangsa kita pernah dihadapkan pada jaman tribal atau kesukuan yang sangat komunal (inti dari demokrasi dan sedikit menerjemahkan apa itu komunis) kemudian bertransformasi menjadi warna feodal, dan dengan drastis berubah balik ke demos kratos. 
Bangsa kita pernah dikelola secara feodal, yang membangkitkan kebencian beberapa orang yang berfikiran bebas. Tapi ingat, itu narasi yang tidak bisa kita elakan, itu sejarah bangsa. Saat saya meneliti tentang Sultan Grond van Yogyakarta, terlihat jelas memang pola pemerintahan saat itu feodal, mau berkata apa lagi? Seluruh belahan dunia saat itu adalah feodal bahkan di negara2 eropa. Apa bisa kita mengadili masa lalu dengan pemikiran masa sekarang? Tidak bisa. Apa hubungan feodal ini dengan budaya? Budaya yang kita warisi sekarang tidak lepas dari warna kebudayaan feodal. 
Jawa khususnya, semua tatanan baik kelas keluarga, adat dalam pertanian, pernikahan, unggah ungguh sarat dengan warna feodal. Di Kalimantan memang tidak terlalu kentara feodalisme namun budaya komunal tidak bisa membohongi adanya strata sosial, di Batak dan Toraja kelas sosial berdasarkan kepemilikan lahan juga sangat kentara. Di Sumba tanah merapu juga pernah ada masa dimana aturan bangsawan dan hamba terlihat dengan sangat jelas dalam ritual dan perlakuan istimewa. 
Gelombang komunis dan demokrasi yang pernah menerjang bangsa ini membangun kebencian yang mendalam kepada feodalisme, dan adat budaya kita menjadi korban nya. Seakan-akan dengan latah berbondong2 kita alergi dengan adat dan kepercayaan. Saya Kristen tapi saya familiar sekali dengan kepercayaan. 
Saya tidak malu bahwa bangsa ini pernah feodal, toh kebudayaan2 kita yang adiluhung itu pernah tercipta di zaman dimana kita masih feodal. Saya tidak alergi dengan aliran kepercayaan toh itu adalah bentuk komunikasi leluhur kita dengan Tuhan yang mungkin tercipta dan dijalankan pada masa dahulu dimana pengenalan terhadap Tuhan belum terang benderang, dan lebih lagi cara leluhur dahulu berkomunikasi dengan Tuhan lebih berbobot daripada kita yang masa kini berkata mengenal Tuhan dengan sangat baik tapi faktanya hanya sebuah status keyakinan tapi tanpa aktifitas komunikasi yang mendalam dengan Tuhan. 
Justru di Yogyakarta, di pedalaman Kalimantan, di Tanah Marapu saya melihat begitu murninya manusia berkomunikasi dengan Tuhan dengan segala upaya upacara adat yang mereka ciptakan dalam bentuk kebudayaan untuk menyemarakan kerinduan dan harapan mereka terhadap Tuhan. 
Saya teringat, jika mau panen di desa2 masih berfikir untuk meletakan sesaji yang org bilang itu musrik, saya berfikir itu adalah "cara" yang dilakukan untuk mensimbolkan harapan pada Tuhan. Di kalimantan dan Sumba, membaca niat tamu yang datang dengan melihat jeroan ayam atau babi, lagi2 itu dianggap ramalan dan musrik, saya bilang itu adalan cara tua-tua kita dengan kedalaman batin menerima tamu dengan baik. Di Bali, berbondong2 menyajikan buah2an yang terbaik untuk pura dan sawah, orang bilang itu berhala, saya yakini itu adalah kesungguhan swmbah pada Tuhan. Kesemuanya adalah cara mereka mencapai Tuhan nya, melantunkan harapan kepada Tuhan, Tuhan yang dibaca dalam kacamata mereka dengan seluruh elemen alam sekitar dimana dahulu Tuhan tidak dijelaskan dalam kitab tertulis dan hanya diwariskan melalui tutur sesepuh dan diajarkan melalui fasilitas2 alam yang ada pada zaman nya. 
Budaya yang luhur yang walaupun pada prakteknya tercampur didalam nya rasa gengsi, kesombongan, keakuan, persaingan, disitulah letak dimana budaya itu adalah warna sesungguhnya manusia2 darimana kita berasal. Di Tanah Marapu, sebenarnya ritual budaya bisa dilaksanakan dengan sederhana, dengan mwlihat bahwa pola hidup pun sederhana. Namun karena diselubungi gengsi dan berusaha mengikuti cara orang2 dahulu dimana hewan ternak masih sangat banyak dan biaya pemeliharaan belum dinilai dengan uang, pengorbanan hewan2 mahal itu di jaman sekarang sudah sangat berbeda dari era di jaman dahulu. Orang jaman sekarang melihat itu "kebodohan dan pemborosan" tapi di masa itu upacar2 ini adalah simbol untuk mengajarkan banyak hal luhur pada anak cucu. 
Ritual adat adalah cara orang tua-tua bertutur pada generasi muda melalui lagu, tari, mantra untuk menasihati temtang hal2 boleh dan tidak boleh. Namun kesombongan dan gengsi merusaknya menjadi "kegiatan yang bodoh dan aneh". Saya, tidak terima dengan hal-hal demikian, saya orang yang begitu berdetak kagum dengan adat istiadat, merinding badan dan pikiran seolah2 stop sejenak ketika ada adat istiadat dijalankan. Saya sangat mencintai budaya dan itu identitas saya.
Nasionalis, kesemua narasi di atas adalah bagaimana pandangan saya terhadap nasionalitas. Saya Indonesia, saya beragama kristen dan itu hanya untuk Tuhan saya, ketika saya sudah bertemu sesama saya sealiran kepercayaan dengan semua orang yang mengakui adanya Tuhan dengan segala bentuk cara pandang. 

Saya tidak alergi dengan cara orang lain memandang Tuhan dengan segala ritualnya dan saya mampu berada disana, di tempat dimana orang sedang berkomunikasi dengan Tuhan dan saya bisa trut serta mensukseskan ibadah oramg yang sekalipun berbeda kacamata dalam memandang Tuhan. 

Saya adalah Jawa, saya lahir dan dididik dengan cara Jawa, namun saya merasa sebudaya denga seluruh kebudayaan. Saya mampu menikmati dan belajar untuk paham bagaimana orang lain menjalankan adat nya. Saya merasa kagum dan bisa untuk turut serta mensukseskan cara2 orang yang ridak se adat dengan saya menjalankan adat istiadatnya. Dari keyakinan dan adat istiadat ini saya merasa inilah identitas saya, yang kemudian merangkumnya sebagai identitas bangsa, bangsa Indonesia. Ketika anda berbicara tentang nasional, anda akan melihat banyak sekali elemen2 di dalamnya. 

Orang jepang dengan mudah mengaku kebangsaanya, karena mereka homogen, begitu juga kenapa orang irlandia dan scotlandia masih sangat susah bersatu dengan Inggeis karena mereka merasa tidak sebangsa. Kita hampir mirip dengam orang Amerika yang berasal dari bangsa yang bermacam2 tapi kemudian merasa satu perjuangan dan menyatakan diri sebagai satu bangsa Amerika, sekalipun mereka tetap berbeda negara dalam satu negara induk. Kita lebih beruntung, kita berasal dari tanah sendiri dan bukan seperti Amerila yang hijrah dari Eropa, kita beda2 bangsa tapi kita menyatu, berbeda2 agama tapi seatap rumah. 60 an tahun kita mampu menjaganya dan yang unik adalah kita mampu menjaga identitas kesukuan tapi mampu pula untuk tetap Indonesia. Agamis, Berbudaya dan Nasionalis, selamat hari minggu 
alam minggu tanpa pacar tongue