Minggu, 09 Agustus 2015

GEREJA MISKIN DAN GEREJA KAYA

Di salibMu ku sujud,
miskin, buta dan lemah,
Yesus, Kau harapanku,
agar aku s’lamatlah.


Begitulah lantunan Kidung Jemaat 361, terdengar lantang tanpa irama musik di sebuah gereja kecil TADULA, Wanukaka
Menghantar Rudy Weru beribadah dan menyapa konstituen nya, merasakan suasana lain dalam beribadah. Yang biasanya penuh gemerlap cahaya, kursi empuk, musik Bigband dan sorak sorai, Pendeta terdidik dengan mic mahalnya mencerahkan seluruh umat dengan lantang. Sangat terbalik, siang ini saya beribadah dalam suasana kesederhanaan.
Ibu pendeta menyampaikan Suara Tuhan dengan judul BERBAHAGIALAH DAN CELAKALAH! Suatu uraian yang memberi dorongan kuat pada jemaat untuk bersabar dalam kemiskinan. Entah memang sedang mengajar apa yang Alkitab firmankan, atau memang itulah keadaan sebenarnya bahwa mereka gereja dan jemaat yang miskin, janji surga apa lagi yang bisa diwartakan selain kemiskinanmu akan membawamu pada kebahagiaan? Beberapa frase menekankan bahwa kamu yang "kaya" akan terdorong pada hal-hal celaka! Jadi berbahagialah kamu yang miskin papa.
Menggelitik, gereja ini tidak jauh dari kota Waikabubak, jangan berfikir bahwa tempatnya begitu terpencil. Tidak! Jemaat ini berdiri masih dalam wilayah yang sangat terjangkau. Pernah bertanya kah? Kenapa begitu berbeda keadaan dengan gereja2 megah di tengah kota? Pernah bertanya kah? Kenapa selama ini orang berkotbah tentang carilah jiwa2! Sementara di sini jiwa2 yang diklaim terselamatkan sungguh sangat terlantar!
Penuh dalam satu rangkaian ibadah saya termenung, para pejabat sering mengagung2kan bahwa gajinya sama sekali tidak diterima dan disumbangkan ke gereja, para pendeta dan majelis di kota bedandan gaun mahal, bergedung megah dan sarana alat musik lengkap. Menjadi sangat pantas seperti Marthin Luter dan Calvin berteriak sudah berabad abad tahun yang lalu bahwa gereja telah begitu kejam.
Gereja yang mana? Gereja yang dalam kotbah Ibu Pendeta di gereja kecil ini disebut "kekayaan mu membuatmu celaka!" Terjadi ketimpangan yang sangat jauh saudaraku. Padahal gereja ini, dengan dinding pohon bambu yang hanya digeprek sehingga nampak seperti papan (tanpa anyaman), berlantaikan tanah yang mungkin terlihat seperti kandang, kursi majelis dan jemaatnya dibuat dari bambu2 melintang, gereja ini berlable dan dikelola oleh manajemen gereja yang sama dengan lable gereja yang berdiri megah di tengah kota. Kenapa?
Gereja pada masyarakat mayoritas kristen selalu dibangun lebih mulia daripada rumah dan bangunan sekitarnya, lalu jika gerejanya saja sesederhana ini, bisa dibayangkan bagaimana kondisi bangunan masyarakat di sekitarnya? Saudaraku, pernahkah terbayangkan?
Saya tidak sedang menyindir jemaat kristen sekarang, saya sedang menyindir kemuliaan gedung gereja sekarang, tidak hanya di Waikabubak, namun untuk seluruh teman yang kukenal dalam media sosial ini. Di ujung sini saudaraku, masih ada gereja Tuhan yang begitu miskin di tengah kemuliaan diri yang sering ditampilkan di jemaat kota.
Hari ini, sedikit tercerahkan oleh seorang teman yang sering kuolok tidur saat sidang, seorang anghota dewan yang hanya berpetuah politik, saya diajarkan untuk datang, datang ketempat dimana setiap langkah hidupnya butuh pertolongan. Tidak banyak, hanya sekedar dianggap, disertakan dalam perbincangan yang penuh perhatian, dan jika punya rezeki lebih bantulah mengisi kekosongan-kekosongan yang ada. Jangan memmberi! Mereka sudah sangat mandiri, hanya saja terkungkung dalam keterbatasanya sehingga kita yang sudah bebas dari kungkungan itu, maka berbagilah.
Gereja, engkau menyorakan semangat mencari jiwa-jiwa tersesat. Lihatlah jiwa yang sudah engkau selamatkan, terlantar! Kebanggan apa yang kau agungkan?? Pertanggungjawaban apa yang kau lontarkan pada Tuhan yang memberimu mandat ini?? Tiliklah jemaatmu ini, sudah makan pagi kah mereka? Sudah nyenyak kah saat beristirahat malam? Hal keseharian ini saja terlewat dari pandanganmu, bagaimana bisa engkau menyuruh mereka hidup baik?
Kadang panas kuping setiap mendengar "padahal mereka sudah beragama lho, tapi tetap saja membunuh dan mencuri" agama apa?? Adakah pengajaran dan perhatian sampai pada mereka? Untuk dasar lantai saja tak diurus bagaimana dasar hati mereka mampu diajarkan hal yang baik.
Yahhh, jadi terilhami oleh apa yang hari ini Pak Dewan sampaikan, "jangan menyibukan diri menghitung padi yang sudah dipanen, sibukanlah dirimu menghitung bibit yang hendak kau tanam". Filsafat yang mengajarkan jangan lagi mengagungkan keagunganmu hari ini, namun taburlah perhatian yang lebih pada mereka yang sedang membutuhkan ini, tidak perlu mengagungkan diri, mereka yang miskin papa ini yang akan mengagungkan kebaikanmu.
(Lukas 6: 20)
- Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.-

Happy sunday everyone.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar