Minggu, 09 Agustus 2015

JAKSA EKSEKUTOR

Seni Komunikasi Eksekusi Kembali Mengagumkan!
Tak kurang, teori komunikasi ditempuh 4 tahun di bangku kuliah. Tak kurang, pengalaman seumur hidup menjadi modal untuk menjadikan komunikasi itu seni yang mengagumkan. Dan tak kurang, waktu hitungan jam menjadi waktu yang demikian singkat untuk mengkomunikasikan bahwa "anda bersalah dan anda harus kami tahan!!!" Gabungan antara komunikasi, seni tutur kata, permainan batin, dan menegakan hukum menjadikan waktu yang hanya itungan jam tersebut bak pertarungan penuh resiko dan harus berujung keberhasilan.
Dulu, di tengah-tengah tahun 2012, ketika saya masih bekerja sebagai CDO di PT Astra Agro Lestari, di saat semua staf berlibur lebaran, berdering handphone "Pak, Kebun demo kantor didudukin warga Dayak, semua operasional ditutup paksa pak! bapak harus segera balik kebun!" Hampir sama, begitu singkat waktu dan harus membuat sebuah keputusan. Tindakan awal dan harus adalah "segera situasikan Satpam dan aparat Brimob, jangan memberikan kesepakatan apa pun, sampaikan pada warga untuk balik ke kampung, besuk CDO akan datang sendiri ke kampung". Berbekal keyakinan bahwa pasti teratasi, penguasaan peta wilayah dan oknum2 pendemo, mandat pimpinan yang penuh, seorang CDO harus mampu menangani konflik perusahaan dan itu hanya bisa dikondisikan dengan seni komunikasi.
Esoknya, Jawa-Kalimantan ditempuh dengan sekejap, dan datang sendiri sebagai perwakilan perusahaan menghadapi ratusan warga "ber-Parang" di Serapuh (Balai Adat Dayak). Seperti biasa, manusia penuh dengan rasa gentar dan takut, terlebih lagi jika ada beban moral disana. Semua kata-kata makian terlontar, tidak satu tapi beratus2! Membebani isi otak dan relung hati seakan2 kita adalah manusia terburuk yang pernah tercipta. Satu kalimat yang sering kita lontarkan dan berharap besar sekali untuk dapat meluluhkan hati sekian banyak orang " bapak ibu, kami hanya menjalankan tugas, mohon pengertiannya" serasa kami harus memasang kalimat itu di dahi kami, demi menjaga kondisi batin kami sendiri. Mendengarkan makian-makian itu begitu menyakitkan namun kondisi tenang harus tetap terjaga, terjaga oleh ketenangan batin kami, kami yang sedang dihujat tanpa dosa dan hanya semata2 menjalankan tugas.
Seni komunikasi menjadi sangat penting, yaitu bagaimana menjadikan "diam" itu menjadi "wadah" untuk tahu "batin" dari lawan bicara dalam waktu yang sekejap. Terkadang di saat seperti itu kita terfokus pada ego dan rasa sakit hati sendiri dan berujung pada saling menimpal kata2. Kondisi kata2 yang keluar dari mulut kita pun kemudian menjadi gagap karena terlalu berorientasi pada diri sendiri dan bukan pada batin dan maksud lawan, dan akhirnya perkataan kita menjadi tidak sistematis, justru membingungkan lawan dan membangkitkan emosi. kemudian kita terbawa pada arus pembicaraan lawan. Fatal! adalah kemudian kita hanya sibuk menanggapi makian lawan. Menjadi lebih banyak penekanan2 pembelaan diri sendiri dan menyatakan lawan yang salah dan kita benar. Saking sibuk menimpali, kita menjadi lupa tujuan kita disana sebenarnya, yaitu menjadikan mereka menurut dengan kehendak kita. Penguasaan diri menjadi begitu susah di saat semua orang memaki dan akhirnya berujung pada kekerasan fisik
Negosiasi, adalah komunikasi untuk mencapai tujuan kita, sekalipun metodenya harus menunduk dan me "raja" kan lawan. Yang harus dilakukan dalam Negosiasi adalah keluar dulu dari polemik! itu yang dikejar! jangan biarkan alur lawan yang menjadi lintasan dan kita harus menjadikan alur kita lah yang dipakai.
Sekali lagi, hari ini saya belajar dengan begitu sangat beruntung. Saya ada di tengah-tengah proses Eksekusi terpidana yang sudah vonis berkekuatan hukum tetap dari MA. Beberapa kali eksekusi perpanjangan penahanan, terpidana ini selalu memberontak dan tidak kooperatif. Menyerang pribadi Jaksa dan melontarkan makian2 yang tidak enak didengar. Hari ini lebih dari itu, seluruh keluarganya berkumpul dan menghalangi Eksekusi, tidak lagi dengan makian, namun dengan Parang yang siap terhunus.
Jaksa, selain adalah satu2 nya Penuntut Umum di Republik Indonesia ini, juga adalah satu2 nya Eksekutor yang dimiliki oleh negeri ini. Melaksanakan Eksekusi tidaklah mudah, setelah sekian lama proses persidangan, secara psikis terpidana dan keluarga pasti menaruh kebencian yang luar biasa terhadap Jaksa. Tidak terlalu paham dengan proses hukum, yang ditahu hanyalah Jaksa yang duduk disana adalah pihak yang mencari-cari kesalahan dari keluarga kami, dia adalah yang terjahat! dan kami membencinya setengah mati! Dengan kondisi demikian yang belum sembuh dari pihak keluarga, Jaksa harus datang ke rumah keluarga tersebut dan menyatakan bahwa salah seorang anggota keluarga anda telah bersalah dan harus ditahan. Bayangkan, harus menjadi robot tanpa perasaan batin, mendatangi rumah dan menahan seseorang, menutup kuping dari semua makian dan ancaman, "bapak jaksa, anda tidak punya hati nurani! Laknat! Kutuk kami terhadap anda, Tuhan akan menghukum bapak! tidak hanya bapak seluruh keluarga bapak kami kutuk! dan dalam kegalauan batin itu Jaksa harus tetap menjalankan tugasnya. Jaksa dengan seragamnya yang kokoh, deretan aparat keamanan yang mengiringnya, dinilai mati rasa dengan seluruh makian dan derita keluarga, seperti lalu lalang saja dan tidak bergeming dengan tangisan keluarga. Jaksa tetap berperasaan dan yang pasti sangat "nelongso" dan seperti ingin ikut menangis bersama keluarga, namun kembali lagi itu adalah tugas. Hak terpidana sudah dipenuhi dengan tiga tingkatan pengadilan, dan saat Eksekusi adalah upaya paksa tanpa negosiasi, Penjara adalah satu-satunya pilihan.
Terpidana memberontak dan keluarga menghalangi Jaksa, sambil mengacungkan parang "berani mendekat saya bunuh!" si Istri pun berteriak "tembak saya! ambil suami saya, tembak mati saya dulu! saya tidak rela, suami saya sudah dari SD sampai Sarjana berjuang akhirnya jadi PNS, pak Jaksa mau seenaknya saja membunuh karir suami saya demi karir bapak pribadi, saya tidak rela! Kutuk! Tuhan akan menjatuhkan hukuman berat pada pak! hari ini bapak kuat, luasa pak! ingat kata2 saya, Lusa! bapak akan terima akibatnya, lihat saja!" Begitulah drama Eksekusi siang tadi, mengharukan, menegangkan, dan pilihan komunikasi seperti hal yang paling salah di saat seperti itu. Mau bernegosiasi dengan parang menghunus??? akal mengatakan tidak. Surat Putusan MA yang dengan sangat berwibawa bunyinya itu tidak mempan membuat takut, Seragam Jaksa yang demikian gagahnya tidak sedikitpun menggentarkan pertahanan keluarga, bahkan laras panjang satu batalyon kepolisian tidak meluluhkan emosi dan tangisan keluarga, yang pasti kevakuman terjadi dan sekali lagi, Komunikasi dan teorinya seakan2 lenyap ditelan bumi, semua diam hening dan gerakan sedikitpun serasa haram untuk terjadi.
Komunikasi mati, apa yang disebut negosiasi dan rayuan serasa hilang lenyap, dua pihak membeku dan tanpa gerakan apa pun. Sampai beberapa saat kemudian Kajari datang sendiri. Suatu kondisi yang jarang terjadi, Beliau datang seperti layaknya bertamu, menyapa dan bertanya kabar. Datang dengan senyuman "ini anaknya? ohh, mana keluargana? saya mau bertemu pak "A", yang mau bicara sama saya nanti dulu ya, saya pengen ngobrol nih sama pak "A", ooh ini istrinya? apa kabar?". Langsung, suasana cair dan sedikit gupuh, semua orang datang bersalaman dan mungkin tersentak, siapa beliau ini kok semua orang berdiri dan bersalaman. Dalam situasi yang sedemikian, mendadak tidak ada lagi kawan dan lawan, semua menghormat dan tiba2 santun dan beradab. Dan lucunya, terpidana yang menghunus parang tadi, mendadak keluar kamar dan duduk manis bersama Kajari, beberapa detik mencoba meyakinkan Kajari bahwa dia tertindas dan diperlakukan tidak adil. Kajari merangkul pundak "Bapak kemana aja? susah sekali ditemui sampe harus banyak aparat kayak gini, knapa to harus begitu? Gini, Bapak kan sudah menggunakan hak bapak sudah tiga tingkat pengadilan.. bapak harusnya sudah yang paling paham dengan kondisi bapak. Masak bapak menyampaikan infonya setengah2 sama keluarga? kasian kan keluarga harus berkumpul disini menghalangi tugas jaksa, mereka tidak tahu apa2. Kalau sampai ada tindakan yang berlebihan mereka semua akan ditahan lho pak, dan dihukum lebih berat dari bapak, kasihan anak istri mereka dan mereka pun tidak tahu duduk masalahnya. Bapak ga kasian sama mereka? tidak tahu apa2 tapi nanti harus menerima hukuman hanya demi membela bapak. Bapak harus kasihan sama mereka, gini... sekarang bapak ikut saya ke kantor, kita berdua satu mobil, saya yang nyetir.. sekarang.. ayok!"
Tidak ada perlawanan apa pun dan mendadak semua orang seperti terhipnotis mengarah semua ke arah mobil Kajari, menghantar Kajari dan terpidana ke mobil, dan yak! begitu saja berlalu dan terpidana seperti ikhlas berpindah dari rumahnya ke Kantor Kejaksaan. Beberpa proses administrasi dilalui, keluarga datang mengobrol dengan Kajari dalam ruangan, dan selepas itu Terpidana diantar dengan damai menuju Lembaga Permasyarakatan.
Sekejap, Komunikasi yang beku itu bangkit kembali dari kuburnya, hanya dalam hitungan menit, tidak sampai jam! Komunikasi menjadi sebuah seni yang sampai detik ini saya kagumi. Mencoba mengkosongkan "EGO" sendiri dan memenuhi orientasi pada lawan, menjadi senjata paling ampuh untuk memenangkan maksud. Hari ini kembali saya belajar, bahwa keseluruhanya hanya bertumpu pada "melayani". Tugas ini dilabeli dengan "upaya paksa Negara" seakan2 semua orang berfikir bahwa Jaksa harus tegas dan kejam dalam Eksekusi, namun metode "melayani" tetap akan ampuh, tanpa kontak fisik dan hanya mengandalkan KOMUNIKASI. Dalam seni komunikasi, terkandung di dalamnya unsur kecerdasan, penguasaan batin, pengetahuan lapangan, sifat melayani lawan, fokus tujuan yang terukur, dan jiwa petarung yang sejati. Taklukan lawan tidak lagi dengan pedang, tapi dengan peluru otak dan senapan kata2!
Timakasih untuk materi kuliah hari ini Pak Pak Uban Oeban dan PakAchonk Nol Tiga. Semoga bapak2 senantiasa sukses, amin,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar