Mungkin tulisan ini bukan yang pertama kalinya, diulang setiap tahun dan bukan tentang seorang Kartini di hari saat kita merayakan Hari Pahlawan RA. KARTINI. Tulisan ini adalah tentang RM Panji Sosrokartono kakak dari RA. KARTINI yang membuka pintu pengenalan dunia pada bangsa ini dan menjadikan adiknya yang saat itu telah lama meninggal untuk memberi pesan bahwa nasib bangsa ini ada pada pergerakan wanita nya! Dunia belum memulainya, 50 tahun lalu RM Sosrokartono sudah menyerukan konteks emansipasi ini, dan tetap... bangsa ini tetap terlambat!
Lagi-lagi, tilisan ini berbumbu pedasnya romantisme sejarah. Mengingatkan bahwa rasa pedas itu pernah menyeruak dalam mulut kemudian terlupa. Dahulu di tahun 1877 saat perempuan Eropa menggulung tubuhnya dengan berbagai kain dan gaun yang menutup seluruh aurat nya dari ujung rambut hingga mata kaki, perempuan Nusantara justru bertelanjang buah dada hingga lutut. Pada tahun itu seorang remaja lahir dari keluarga bangsawan bupati Jepara yakni RM Panji Sosrokartono.
Melihat bahwa kaum jawa saat itu menaruh dan meyakini bahwa nilai2 yang dibawa oleh kaum Eropa dianggap lebih agung, lebih mendidik, lebih prestise, saat itulah muncul cita2 besar dari anak jenius Jepara ini untuk menempuh budaya barat sebagai soko guru pendidikan nya. Sosrokartono menjadi mahasiswa pertama Pribumi yang mendapat kesempatan untuk kuliah di daratan Eropa.
Jenius dan mampu bersosialisasi dengan sangat baik, kaum Bangsawan Eropa menjulukinya sebagai De Mooise Soe Pangeran Jawa yang Tampan. Julukan ini tidaklah berlebihan, selain pemandangan unik yang terpancar dari pakaian jawanya di tengah komunitas Eropa pangeran ini begitu berbeda. Tidak nyaman di kampus Teknik Leiden kemudian pindah jurusan ke Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur Hingga menggenggam gelar Docterandus in de Oostersche Talen dari Perguruan Tinggi Leiden. Kecerdasan Kartono menarik perhatian Prof. Dr. Johan Hendrik Kern. Meski baru pindah kampus, Kern sudah menyuruhnya bicara di Kongres Sastra Belanda di Gent, Belgia, pada September 1899. Kartono menyambut tawaran Kern dengan membawakan pidato Het Nederlandsch in Indie (Bahasa Belanda di Hindia Belanda).
Justru dalam pidato ini, Kartono menyatakan dengan tegas bahwa selama matahari dan rembulan bersinar, dia menantang dan menjadi musuh dari siapa pun yang akan membuat bangsanya menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa. Kartono juga adalah musuh bagi mereka yang menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan bangsanya yang luhur lagi suci. Pidato pertamanya itu merupakan seruan seorang patriotik yang juga mengutarakan agar keluhuran tradisi mesti dipertahankan orang-orang pribumi di mana saja berada.Berbekal cakrawala pengetahuan yang terbuka, Kartono meminta Pemerintah Belanda agar bahasa Belanda dan bahasa internasional lain diajarkan di Hindia Belanda, tujuannya agar kaum pribumi bisa mempertahankan kemuliaan tradisi dan harga diri mereka. Sebulan kemudian pidatonya dimuat di majalah bulanan Nederlandia.
Pada tahun 1917, koran Amerika The New York Herald Tribune, di Kota Wina, ibu kota Austria, membuka lowongan kerja untuk posisi wartawan perang untuk meliput Perang Dunia I. Salah satu tes adalah menyingkat-padatkan sebuah berita dalam bahasa Perancis yang panjangnya satu kolom menjadi berita yang terdiri atas kurang lebih 30 kata, dan harus ditulis dalam 4 bahasa yaitu Inggris, Spanyol, Rusia dan Perancis sendiri. Drs Raden Mas Panji Sosrokartono, putra Bumiputra yang ikut melamar, berhasil memeras berita itu menjadi 27 kata, sedangkan para pelamar lainnya rata-rata lebih dari 30 kata. Persyaratan lainnya juga bisa dipenuhi oleh RMP Sosrokartono sehingga akhirnya ia terpilih sebagai wartawan perang surat kabar bergengsi Amerika, The New York Herald Tribune.
Supaya pekerjaannya lancar, dia juga diberi pangkat Mayor oleh Panglima Perang Amerika Serikat. RMP Sosrokartono seorang poliglot, ahli banyak bahasa. Ia menguasai 24 bahasa asing dan 10 bahasa suku di tanah Nusantara. Sebelum ia menjadi wartawan the New York Herald Tribune, ia bekerja sebagai penerjemah di Wina. Di Wina ia terkenal dengan julukan si jenius dari Timur. Dia juga bekerja sebagai wartawan beberapa surat kabar dan majalah di Eropa. Di dalam buku 'Memoir' Drs Muhammad Hatta diceritakan kalau RMP Sosrokartono mendapat gaji 1250 Dollar dari surat kabar Amerika. Dengan gaji sebesar itu ia dapat hidup mewah di Eropa.
Sosro juga kerap mengirimi buku dan buletin kepada adiknya Kartini. Buku kiriman Sosro ini lah yang kelak menjadi pencerahan bagi Kartini untuk mendobrak tradisi dan melahirkan emansipasi wanita di Nusantara.
Sebelum Perang Dunia I berakhir, pada bulan November 1918, RMP Sosrokartono terpilih oleh blok Sekutu menjadi penerjemah tunggal, karena ia satu-satunya pelamar yang memenuhi syarat-syarat mereka yaitu ahli bahasa dan budaya di Eropa dan juga bukan bangsa Eropa. Dalam 'Memoir' tulisan Drs Muhammad Hatta ditulis kalau RMP Sosrokartono juga menguasai bahasa Basque, menjadi penerjemah pasukan Sekutu kala melewati daerah suku Basque. Suku Basque adalah salah satu suku yang hidup di Spanyol. Ketika Perang Dunia I menjelang akhir, diadakan perundingan perdamaian rahasia antara pihak yang bertikai.
Pihak-pihak yang berunding naik kereta api yang kemudian berhenti di hutan Compaigne di Perancis Selatan. Di dalam kereta api, pihak yang bertikai melakukan perundingan perdamaian rahasia. Di sekitar tempat perundingan telah dijaga ketat oleh tentara dan tidak sembarangan orang apalagi wartawan boleh mendekati tempat perundingan dalam radius 1 km. Semua hasil perundingan perdamaian rahasia tidak boleh disiarkan, dikenakan embargo sampai perundingan yang resmi berlangsung.
Dalam Sejarah Dunia, Perundingan Perdamaian Perang Dunia ke I yang resmi berlangsung di kota Versailles, di Perancis. Ketika banyak wartawan yang mencium adanya 'perundingan perdamaian rahasia' masih sibuk mencari informasi, koran Amerika The New York Herald Tribune ternyata telah berhasil memuat hasil perundingan rahasia tersebut. Penulisnya 'anonim', hanya menggunakan kode pengenal 'Bintang Tiga'. Kode tersebut di kalangan wartawan Perang Dunia ke I dikenal sebagai kode dari wartawan perang RMP Sosrokartono. Konon tulisan itu menggemparkan Amerika dan juga Eropa.
Tahun 1919 didirikan Liga Bangsa-Bangsa (League of Nations) atas prakarsa Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson. Dari tahun 1919 sampai 1921, RMP Sosrokartono, anak Bumiputra, mampu menjabat sebagai Kepala penerjemah untuk semua bahasa yang digunakan di Liga Bangsa-Bangsa. Bahkan dia berhasil mengalahkan poliglot-poliglot dari Eropa dan Amerika sehingga meraih jabatan tersebut. Liga Bangsa-Bangsa kemudian berubah nama menjadi Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Organization) pada tahun 1921.
Tahun 1919 RMP Sosrokartono juga diangkat menjadi Atase Kebudayaan di Kedutaan Besar Perancis di Belanda. Sampai suatu ketika terdengar berita tentang sakitnya seorang anak berumur lebih kurang 12 tahun. Anak itu adalah anak dari kenalannya yang menderita sakit keras, yang tak kunjung sembuh meki sudah diobati oleh beberapa dokter, dengan menyentuh Dahi anak itu RMP Sosrokartono telah menyembuhkan penyakitnya. Kejadian itu membuat orang-orang yang tengah hadir di sana terheran-heran, termasuk juga dokter-dokter yang telah gagal menyembuhkan penyakit anak itu. Setelah itu, ada seorang ahli Psychiatrie dan Hypnose yang menjelaskan bahwa sebenarnya Drs. R.M.P. Sosrokartono mempunyai daya pesoonalijke magneetisme yang besar sekali yang tak disadari olehnya.
Mendengar penjelasan tersebut, akhirnya beliau merenungkan dirinya dan memutuskan menghentikan pekerjaannya di Jenewa dan pergi ke Paris untuk belajar Psychometrie dan Psychotecniek di sebuah perguruan tinggi di kota itu. Akan tetapi, karena beliau adalah lulusan Bahasa dan Sastra, maka di sana beliau hanya diterima sebagai toehoorder saja, sebab di Perguruan Tinggi tersebut secara khusus hanya disediakan untuk mahasiswa-mahasiswa lulusan medisch dokter. Beliau kecewa, karena di sana beliau hanya dapat mengikuti mata kuliah yang sangat terbatas, tidak sesuai dengan harapan beliau. Di sela-sela hati yang digendam kecewa, datanglah ilham untuk kembali saja ke Tanah Air-nya. Di Tanah Air kemudian Kartono mendirikan sebuah rumah perpustakaan dan pendidikan dengan nama Darussalam yang bermakna Rumah Kedamaian.
Darussalam, selain menjadi rumah pengobatan, juga sebuah perpustakaan. Kartono dalam suratnya kepada Abendanon pada 19 Juli 1926 (Surat- surat Adik R.A. Kartini terbitan PT Djambatan 2005) menceritakan selain mendirikan perpustakaan Panti Sastra di Tegal bersama adiknya, RA Kardinah, ia juga mendirikan perpustakaan di Bandung. Buku-buku perpustakaan itu disumbang oleh dua orang insinyur perusahaan kereta api Staats Spoorwegen, tiga orang partikelir bangsa Belanda, dua orang wanita Belanda, tiga orang Jawa, dan seorang Tionghoa. Semboyannya tanpo rupo tanpo sworo, yang berarti tidak berwarna, tiada perbedaan, tiada perselisihan.
Budya Pradipta, Ketua Paguyuban Sosrokartanan Jakarta dan dosen tetap
bahasa, sastra, dan budaya Jawa Fakultas Sastra Universitas Indonesia,
mengatakan Darussalam adalah bekas gedung Taman Siswa Bandung. Kartono diminta menempati gedung itu oleh RM Soerjodipoetro, adik Ki Hajar Dewantara untuk menjadi pimpinan Nationale Middelbare School (Sekolah Menengah Nasional) milik Taman Siswa.
Di perpustakaan inilah tokoh pergerakan Indonesia sering berkumpul,
termasuk Ir Soekarno. Bung Karno juga diminta mengajar di sekolah itu
bersama Dr Samsi dan Soenarjo SH. Gedung ini juga dipakai oleh Partai
Nasional Indonesia dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisastie
pimpinan Abdoel Rachim, mertua Bung Hatta.
Bahwa kemudian perjuangan Kartono yang memang banyak bergelut dalam pendidikan bangsa dan pengobatan alternatif, tidak mampu menutupi kemampuan jeniusnya sebagai wartaqwn International. Tertangkaplah oleh beliau kondisi porak poranda Eropa dalam perang dunia I dan II yang kemudian menghembuskanya kepada para tokoh perjuangan termasuk Soekarno. Sudah saatnya Nusantara menyusun kemerdekaannya disaat kondisi Eropa sedang "chaos"! Susunlah kemerdekaan, sekarang!
Kartono termasuk orang yang dibelakang layar mensutradarai kemerdekaan Indonesia, yang pada saat itu diketahui orang begitu seringnya Sukarno datang ke Darussalam untuk berkunjung dan berguru pada nya.
Saat setelah Indonesia merdeka, Sukarno membalas budi atas jasa Kartono dan menjadikannya simbol perjuangan. Kartono menolak dan menyodorkan adik perempuannya yang saat itu sudah meninggal, untuk menobatkannya menjadi Pahlawan Bangsa. Dengan surat2 Kartini kepada dunia Eropa yang sudah dibukukan dengan apik oleh Kartono dinamai kemudian dengan judul "Habis Gelap Terbitlah Terang" Kartono ingin memberi pesan bahwa nasib bangsa ini sebagian besar ada pada emansipasi wanita nya. Eropa terlambat dalam hal memperjuangkan emansipasi wanita di tahun-tahun 1950 an, namun Kartono menggugah pemikiran Sukarno tentang potensi wanita Indonesia. Namun, cita2 Kartono tetaplah terlambat, karena setelah era tersebut, di Amerika terjadi krisis keuangan yang mengakibatkan buruh2 wanita Amerika kemudian turun lapangan untuk bekerja dan berpolitik.. lagi2 Amerika mendahului pertanyaan jaman, dan Amerika tetap mempelopori kebutuhan modern, emansipasi wanita!
Kini, mimpi Kartono bukanlah bayangan tak nyata, wanita Indonesia makin bersolek dalam kancah Nasioanal. Kartini telah diangkat setinggi2 nya oleh Kartono dalam memandang potensi Wanita Indonesia, jayakanlah! Wujudkan!
Wanita Indonesia, masa depan Indonesia!
# Menyadur dan mengcopy paste berbagai artikel untuk menyusun tulisan ini, semoga romantisme sejarah tidak lagi menjadi pedas dalam mulut yang kemudian terlupa, namun menjadi manis nya madu yang sekalipun hanyut tetap terasa... RM Sosrokartono pahlawan tak dikenal namun memberikan warisan yang berdampak hingga jaman ini. Selamat Hari Kartini wanita Indonesia!





Tidak ada komentar:
Posting Komentar