Minggu, 09 Agustus 2015

SIRIH PINANG PEMERSATU BANGSA

Di belahan bumi lain seluruh bangsa sedang mencari jati dirinya. Dengan berkerah putih berusaha mengungkap sejarah bangsanya dan bermaksud untuk menguak asal usul dan bagaimana budaya asli nya. Seluruh dana dicurahkan melalui Thesis dan Disertasi, mengerahkan Arkeolog dan Antropolog mencoba menemukan apa yang menjadi ciri khas dari suku bangsanya. Di sini? Kita mencoba sok jagoan meneliti, padahal dalam keseharian kita masih diperlihatkan budaya asli namun terlupa yakni SIRIH dan PINANG!
Teringat, saat kecil di Jawa masih diperlihatkan generasi tua yang menikmati Sirih Pinang, mengunyah dengan nikmat dan menceritakan kunyahan ini demi mengharumkan bau mulut dan menjaga kekuatan gigi. Tak jauh dari tujuan tersebut, Sirih Pinang telah menjadi perekat pergaulan dan merupakan penghargaan paling tinggi untuk menjamu yang datang.
Di seluruh Nusantara, kita disajikan dengan beberapa Tari Adat yang mengusung pelestarian Sirih Pinang. Sumatra Selatan dengan budaya Sriwijaya yang kental menyajikan tarian Tangai yang sama dengan Tari Gending Sriwijaya menceritakan jamuan tamu dengan Sirih Pinang dan memberi penghargaan sebagai tamu yang diterima. DI Sumatra Utara, tarian Tepak Sirih dipersembahkan di Medan, melenggak lenggok dengan satu kotak jamuan sirih dan menawarkan pada setiap tamu. Melompat ke Toraja kita disajikan tarian Pa'pangngan dimana serentetan gadis berbaju gelap yang menegaskan bahwa para tamu telah diterima dan sekarang dianggap sebagai bagian dari masyarakat Toraja.
Saat Sultan Hamengkubuwono sedang Tinggalan Dalem (memperingati tahun bertahta) terdapat pusaka yang tidak boleh terlupakan dan diletakan di sebelah kanan Singgasana Sultan, yakni Sirih Pinang dan Bunga Kanthil. Saat Sultan memulai upacara, Sinuwun harus mengunyah Sirih Pinang. Terdapat filosofi tinggi dalam tradisi ini dimana Sultan harus mengunyah bahan-bahan yang pahit, asam, sepet, ini menjadi satu, dirasakan dengan sungguh masing-masing rasanya hingga terasa manis, ketika sudah manis baru disemburkan dalam wadah cawan tembaga. Seorang penguasa haruslah berhati hati dalam membuat keputusan. Semua perkara yang pelik harus diramu, dirasakan baik pahit atau manis, harus diderita dalam pikiran seorang raja. Ketika sudah dirasa pas dan manis untuk rakyat barulah keputusan itu diundangkan, dan sekali disemburkan tidak boleh dijilat kembali, sekali diundangkan sudah merupakan Sabdo Pandhito Ratu Tan Keno Molah Malih, tidak bisa diubah kembali. Sirih Pinang mengajari cara seorang Sultan dalam membuat keputusan.
Di Kalimantan suku-suku Dayak Kenyah, Dayak Bahau, Dayak Kayan juga memiliki tradisi Sirih Pinang. Mereka memiliki keyakinan tradisi ini datang dari Majapahit, sebagai bentuk pertalian kekuasaan dan orang Dayak sampai detik ini menyuguhkan Sirih Pinang dalam setiap perjumpaan. Tatkala bunyi gong dipukul, pasti disana ada tanda tamu yang datang dan Sirih Pinang harus disuguhkan.
Bali mengenal Canang dan Kwangen .Canang berasal dari bahasa jawa kuno yang pada mulanya berarti sirih, yang disuguhkan pada tamu yang sangat dihormati. Jaman dulu, sirih benar – benar bernilai tinggi. Setelah agama Hindu berkembang di Bali, sirih itupun menjadi unsur penting dalam upacara agama dan kegiatan lain. Di Bali, salah satu bentuk banten disebut “Canang” karena inti dari setiap canang adalah sirih itu sendiri. Canang belum bisa dikatakan bernilai agama jika belum dilengkapi porosan yang bahan pokoknya sirih.
Di NTT khususnya di Sumba, jangan harap ketika bertamu disuguhkan kopi atau teh terlebih dahulu. Setiap datang pasti sepiring kelengkapan Sirih Pnang dan Kapur disuguhkan. Jika anda mengunyahnya penghargaan tertinggi akan dirasa oleh tuan rumah. Pamali jika anda sama sekali tidak menyentuhnya jikapun anda tidak memakannya, ambil sebiji dan taruhlah dalam saku, hal ini sebagai bentuk penghormatan. Di jalanan, anda akan terbiasa melihat bercak-bercak merah dimana-mana, jangan heran! Bahkan kebiasaan meludah sudah harus anda toleransi denga baik disini, meludah dimana-mana begitu nikmatnya! Bibir merah dan seonggok tembakau yang digulung bundar disematkan di sela-sela gigi dan bibir depan akan memeriqhkan pemandangan setiap anda ke Pulau Sumba. Tidak hanya generasi tua, anak-anak dan muda -mudi masih sangat trend disini dalam mengunyah Sirih Pinang.
Di Papua akan sering terlihat peringatan di Bandara, Hotel, dan dimanapun "dilarang meludah pinang". Tidak heran orang akan diterima dengan baik di Papua jika anda pengkonsumsi Sirih Pinang. Bahkan di Danau Sentani setiap rumah pasti memiliki pohon pinang, untuk konsumsi keluarganya.
SIRIH PINANG, budaya asli bangsa ini. dari ujung sampai ujung tradisi ini melekat dan terlestarikan dalam tarian dan pergaulan. Terlupa, tertolak, dan jorok mungkin tertancap dalam persepsi Sirih Pinang di masa sekarang. Namun dalam perjalanan sejarah Sirih Pinang telah menjadi nilai yang tinggi. Ciri khas yang tak terelakan, bahwa Sirih Pinang adalah Nusantara, adalah Indonesia.
Salam tradisi Sirih Pinang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar