"ORANG CHINA" dalam cara pandangku menilai bahwa mereka adalah Indonesia.
Seperti halnya warga turunan Arab, India, Persia dan Eropa yang pada tahun 1600an mereka hijrah dan berdagang di Nusantara. Pada jaman itu orang2 China Han yang berasal dari dinasti Ming (sering ditandai dengan budaya rambut dikuncir keatas, bagi bangsa Han rambut adalah anugerah leluhur sehingga dibiarkan panjang dan diikat keatas kepala) melanglang ke seluruh penjuru dunia untuk berdagang temasuk masa2 dimana Jendral Cheng Ho diutus oleh Kaisar China untuk menjelajah dunia di luar daratan China. China disini berbeda dari China Manchu yang sering kita tonton dalam film2 vampir (sering ditandai gaya rambut bangsa Manchu yang mencukur rambut bagian depan dan mengepang rambut bagian belakang sebagai bentuk penghinaan kepada bangsa Han). Pada Era itu terjadi kejatuhan dinasti Han secara besar2an, baik di dinasti Joseon korea dan di dataran China sendiri. Masyarakat China Han yang setia pada dinasti Ming mulai melarikan diri ke Pulau Taiwan dan China daratan direbut oleh dinasti Manchu yang kemudian dikenal sebagai dinasti Qing. Taiwan adalah satu2nya pulau perlawanan Ming terhadap Qing. Sementara kerajaan Joseon kemudian memisahkan diri dari "langit china" yang bukan lagi Han, memerdekakan diri dan tetap melanjutkan ajaran Konghuchu, membuat penanggalan sendiri, menciptakan tulisang hanggul dan melawan pemerintahan dinasti Manchu, Joseon bkn lg negara boneka china melainkan secara mandiri menyelenggarakan negara sejak saat itu.
Singkat sejarah ini berdampak pada kehidupan orang2 China yang sudah terlanjur merantau ke Nusantara. Orang2 China di Nusantara merupakan turunan Hokian (Han Ming) dan bukan Mandarin (Qing). Sementara di daratan China, Belanda dengan semangat membantu Dinasti Qing Manchu merebut pulau Taiwan dari sisa-sisa kekuasaan Ming. Akhirnya perlawanan Ming kepada Belanda tidak hanya terjadi di Pulau Taiwan namun juga merambah ke Nusantara. tahun 1600an dikenal dengan Geger Pecinan dimana seluruh keturunan China dari seluruh pulau Jawa bersatu padu melawan Belanda. Geger Pecinan ini menjadi makin hebat karena Mangkubumi (Hamengkubuwono I) dan Raden Mas Said (Mangkunegaran I) bergabung dengan orang2 China menyerbu Belanda. Hanya Pakubuwono Raja Surakarta yang waktu itu memiliki pilihan sulit, membantu Belanda sebagai mitra kerja nya atau berada di belakang para pangeran nya yang ikut berperang. Pilihan sulit ini membawa Pakubuwono menjadi tidak tegas saat itu sehingga mendapat perlawanan dari Mangkubumi dan Raden Mas Said.
Dari keseluruhan rangkaian cerita peperangan China pada Belanda menjadi momentum besar pada Sejarah Indonesia. China sangat melemahkan Kekuasaan Belanda di Nusantara sehingga dalam keseluruhan masa-masa penjajahan China kemudian diasumsikan dengan sangat negatif untuk meminimalisasi pemberontakan. Belanda menghimpun seluruh cara untuk memojokan China dan mengadu domb dengan seluruh elemen sukubangsa. Dari peperangan China dan Pangeran2 Jawa, memjadi momentum awal pecahnya Kerajaan Jawa menjadi empat kerajaan besar, yakni Surakarta di Solo, Ngayogyakarta di Jogja, Mangkunegaran di Solo dan Pakualam di Jogja. Belanda telah belajar banyak untuk menghindari perlawanan China dengan menjadikan suku bangsa ini menjadi bangsa yang terpojokan. Propaganda ini dilaksanakan Belanda dengan cara menjadikan orang2 china menjadi penjaga pasar dan pemungut cukai, sehingga menimbulkan kesan yang sangat negatif pada suku bangsa ini di kalangan lokal. Golongan timur asing di kontrol dengan hukum kolonial dan sangat sering dibenturkan dengan golongan Arab dan Hindia dalam berdagang. Istilah china menjadi sangat negatif di kalangan pribumi, ditambah lagi budaya china yang menyembah leluhur diasumsikan sebagai "tidak beragama". Banyaknya tekanan pada suku bangsa ini menciptakan suasana eksklusif dimana orang-orang china menjadi sangat tertutup dan hanya bersosialisasi diantara sesama mereka. Namun kegigihan suku bangsa ini telah menjadikan mereka bertahan hingga kini di Nusantara, terlebih saat itu daratan China telah diambil alih oleh China Manchu yang bukan "mereka". Kondisi ini berlangsung beratus2 tahun lamanya sampai pada zaman kemerdekaan negara china yang menyerukan satu darah keseluruh penjuru dunia untuk kembali ke dataran China.
Apapun itu, maukah kita tetap bertahan dengan menjadi seseorang dengan sejarah yang salah??? menutup matakah kita dengan salah satu bangsa saudara kita yang beratus2 tahun kita pojokan?? mereka China adalah kawan seperjuangan kita, dan sejak mereka berada di tanah ini mereka adalah satu dengan kita. China adalah sama dengan suku2bangsa di Nusantara yang dulu memang belum bersatu dan kadang saling berperang. Sejak Bangsa Indonesia ini mendeklarasikan Persatuan dan Kesatuan, China adalah salah satu Suku Bangsa yang ikut serta dalam perjuangan itu.
Sudah saatnya kita menatap kedepan dengan dewasa. Sejarah tidak pernah bohong, tapi memang sejarah sangat mudah dicederai. Sudah saatnya kita meluruskan sejarah dan membangun dengan semangat kebersamaan, bersama dengan suku apa pun itu dengan tujuan yang sama yakni KEMERDEKAAN BAGI SELURUH TUMPAH DARAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar