Sayangku Dareina Kriwil pernah ditanya oleh mantan dosennya, setelah memperlihatkan fotoku "lho, ini kan masih muda! Katanya seleranya sudah yang tua-tua??" Maaf mengkutip tanpa izin ya sayang "lho jangan salah pak Dosesn, Pangeranku ini muda cuma casingnya, isi dalemnya tua!" Haha.
Begitulah berlalu dan kemudian merenung "iya yaa, kok pemikiran dan seleraku kuno bgt, aku tua!"
Agak aneh memang, dari kecil saya sudah sangat suka Wayang dan Gamelan, di saat teman yang lain bermain kelereng dan miniatur truck, saya lebih suka memainkan Wayang Golek dan menonton ibuk saya bernyanyi Keroncong dengan alat musik Kulintang. Saat yang lain suka menonton film Dragon Ball, saya lebih suka mendengarkan Mbah Sukani dan Mbah Sukarji menceritakan Babat Tanah Jawi dan agama Kejawen. Saat kuliahpun, teman yang lain lebih suka menonton XXI, saya meluncur ke Keraton Ngayogyakarta, 5 jam saya habiskan untuk menonton Tarian dan Gamelan klasik di Bangsal Srimanganti.
Apa yang salah dengan saya?
Waktu kecil, hari-hari saya habiskan bersama seorang nenek Mak Sakinah (saat itu berumur 55 tahun), seperti orang tua beliaulah yang mengasuh saya dari bangun tidur hingga beranjak tidur di malam hari. Saya mengamati setiap hari bagaimana Mak Sakinah menggelung konde dan memakai jarit (kain batik), berkebaya setiap harinya dan sampai kelas 5 SD, saya pertama kali merasa sedihnya ditinggal oleh orang terkasih. Membentuk dasar cara berfikir, usia kecilku diisi oleh kebiasaan orang tua, lembut dan patuh.
Pada usia kelas SMP, Mbah Sukarji dan Mbah Sukani yang menyumbang banyak dalam proses berfikir. Mengajak nonton Wayang Kulit hingga pagi hari dan memperkenalkan tokoh-tokoh pewayangan. Mungkin pola pikir struktural saya warisi di masa SMP. Saya memilah mana yang klenik dan mana pengetahuan politik masa lalu bisa saya kenal saat remaja.
Usia SMA, saya menimba ilmu dari Kapten Yohanis G. Panny seorang misionaris Salvation Army yang mengkarbit saya mengenai religiusitas. Saya diajarkan tentang Iman di dalam hati, dan tangan tertuju pada kemanusiaan. Saya di sumpah untuk tidak merokok dan meminum minuman keras di bawah Bendera Bala Keselamatan, dan Puji Tuhan saya terhindar dari kenakalan remaja, saya melesat pada cita-cita yang tinggi untuk menjadi "orang". Kembali saya bersedih karena beliau dipindah tugaskan dan saya harus menempuh kuliah di Yogyakarta.
Saat kuliah saya "agak" hilang arah. Tidak lagi penurut dan tertib, saya kurang menghargai pekerjaan, pelajaran dan hidup organisasi pun tidak lagi maksimal. Kebanyakan "gleya gleye" dan kuliahpun ditempuh sangat lama. Kesibukan ffstifal bersama PSM UGM, nilai IP pun sempat 1,8! Oooh poor me! Lalu saya bertemu dengan bapak kos baru, KRT. Soesilo ( saya agak lupa namanya) pensiunan militer yang kemudian menjabat sebagai Kepala Rumah Tangga Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Mengingatkan saya untuk geti dalam menyusun masa depan. Sangat sering kami mengobrol dan beliau yang sudah sangat uzur, dengan semangatnya menjelaskan bahwa, saat tua nanti penyesalah paling besar kalau tidak punya kesan besar di saat masih muda. Saat tua hanyalah saat mengenang dan bercerita bahwa ketika muda kita bukanlah seonggok sampah yang merusak pemandangan mata. Harus menjadi sesuatu, biar dipandang indah oleh mata orang, sembari di dalam diri dibangun kehidupan yang baik. Menampar! Dan membangunkan untuk segera menyelesaikan kuliah.
Saat bimbingan skripsi, lagi2 mendapat dosen pembimbing yang adalah "orang tua". Pak Sudjito, SH. MH sekalipun dengan gelar yang tidak begitu panjang namun beliau dalah senior Bidang Agraria dan Perdata Hukum UGM. Nderek bimbingan beliau saat UU keistimewaan Yogyakarta sedang disusun dan beliau masuk dalam tim perancang. Lagi-lagi beliau adalah pangkat Bupati dalam struktural Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta, sehingga kawruh yang diwariskan kepada saya adalah perjuangan meletakan Yogyakarta sebagai Institusi yang "merdiko" dalam pengurusan perdata dan agraria. Awalnya saya menyrengitkan dahi dan tidak setuju, ini adalah upaya disintregasi bangsa! Namun dari cara pandang dan keilmuan beliau lah pola pikir out of the box saya dapat. Menyusun dasar hukum dari mulai Perjanjian Gianti tahun 1755, Lange Kontrak dalam Penobatan Sri Sultan HB IX, hingga UU Agraria 1960. Menegaskan cara menyandingkan antara ilmu hukum, logika hukum, dan penyelesaian konflik dengan rambu-rambu hukum. Terciptalah Skripsi yang berdampak banyak bagi para pengguna tanah Sultan Ground yang sekarang dapat memiliki Hak Pakai dan dapat dijaminkan ke Bank serta memiliki nilai ekonomis, di tanah yang dahulunya hanya boleh "meminjam" atas restu Kasultanan Ngayogyajarta.
Saat bekerja di PT. Astra Agro Lestari di pedalaman Kalimantan Timur, saya menjiwai bagaimanaa para orang tua suku Dayak yang sebagian masih bertelinga panjang, berusaha mempertahankan tradisi di tengah gempuran invasi perusahaan sawit yang makin memodernkan wilayahnya. Pernah mengalami konflik adat, satu sisi saya adalah Humas Perusahaan di satu sisi tiap hari saya menimba ilmu dari kepala2 adat. Sangat sedih dirasa saat mereka menangis dan melihat tanah adatnya makin terjajah. Saya telah belajar banyak, mendengarkan filosofi dayak yang ikut teriris hati saat pohon2 yang didoa2 setiap hari harus dirobohkan demi perluasan lahan sawit. Ama Lung Bik, Kepala adat Awing Imang, dan semua orang tua disana saya mengucap terima kasih sudah dibimbing bagaimana cara menyelesaikan demo adat dan bisa berhasil dengan baik. Menyelenggarakan pesta adat yang menjadi upaya pendamaian adat dan perusahaan di tahun 2013. Suatu kenangan yang luar biasa.
Sekarang, saat bekerja di Kejaksaan saya bertemu dengan pak Kajari yang menaruh kesan luar biasa dalam hati. Dengan usia menjelang pensiun, beliau masih sanggup berlomba otak bersama kami yang masih muda, berfikir dan berstrategi menyelesaikan kasus korupsi. Terpancar wejangan di setiap kata, saya mendapatkan kembali "orang tua" yang menanam sesuatu yang penting dalam prinsip hidup. Pintar! Cerdik! Jangan takut! Panggil aja! Semangat! Kata2 yang sangat khas dari beliau, one day saat saya sudah Jaksa, kata2 ini akan sangat terlalu penting buat saya.
Yang terheboh, di ujung masa lajang saya hadir kembali Bapa Tua Daniel Abraham Goma yang adalah Bapa Mantu terkasih, hehehe. Dengan usia nya yang sangat lanjut (78 tahun) dan ego masa lalunya sebagai pejabat dan orang penting, mendatangi saya di pulau kecil Sumba dan berkata " kita sama-sama laki-laki, dan kita akan berbicara sebagai sesama laki-laki" uhukk! Berundinglah kami berdua saling tawar menawar ego laki-laki "anak! Jangan kuatir dengan banyak hal di depan, jalani dengan damai sejahtera!" Dengan tantangan itu saya kemudian menghadap beliau dan meminta putrinya untuk saya nikahi. Pengalaman hidup dari darah Alor, kemudian di masa itu mendapat beasiswa ITB, kembali ke daerah untuk membangun, menempuh pendidikan kembali di Kanada, dan sekarang sebagai generasi tua mendudukan saya dengan telapak tangan yang hangat, menggenggam "harus begitu, harus menjadi berkat, Papa sudah melanglang buana, sekarang saatnya anak untuk menunjukan karya, jangan kuatir segala sesuatu harus damai sejahtera!" Didampingi oleh seorang istri yang masih aktif membedah kandungan, energik dan sigap menyetir mobil kesana kemari. Saya dianugerahi kembali guru-guru usia tua, dengan casing muda ini, saya diisi dengan ilmu dan pengalaman orang tua!
Saya adalah orang paling beruntung di dunia ini! Saya mewarisi pengalaman hidup, harta paling kaya dan digenggam erat. Saya sekarang muda dengan isi tua, mempersiapkan diri untuk tidak menjadi sampah di usia tua. Saya akan terus bercerita, menceritakan hal-hal indah sampai saat saya tua. Saya sudah memiliki segala sesuatu dan saya bercerita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar