Minggu, 09 Agustus 2015

BUAH DADA DAN HASRAT LELAKI DARI MASA KE MASA

Maaf judulnya fulgar, tapi ini hukan porno melainkan buah pikiran :p
Pernah saya berdiskusi hebat dengan seorang antropolog Universitas Haluoleo Ibu Laxmi mengenai judul ini, benarkah sejarah dan budaya pernah mencatat bahwa dahulu perempuan nusantara tidak menutup buah dadanya? Dan kenapa sekarang buah dada begitu tabu diperlihatkan dan bahkan menjadi kambing hitam atas hasrat lelaki yang menyala2? Bukankah dahulu wanita tidak menutupi buah dada dan dunia berjalan dengam normal dan baik? Beliau malah tercengang dan bertanya2 kenapa... hehe.
Sudah siapkah dirimu? Mari kita mulai membahasnya. Pada era tahun 1900 an di eropa wanita berpakaian dengan sangat tertutup, mata kaki kelihatan saja sudah sangat tabu bagi mereka sehingga rok mereka melebar bagai bunga dan kepala selalu dihiasi kerudung dan topi. Tercatat Matahari, perempan Belanda yang belajar menari Jawa mendadak menjadi artis papan atas di Eropa karena menari telanjang. Cerita ini di eropa, bagaimana dengan nusantara?
Tahun 1950an, para pesiar eropa banyak berdatangan ke Bali, dan mereka menjumpai Bali sangat eksotik dan terlebih lagi, perempuan Bali tidak menutup buah dada nya. Bisa di buktikan di tayangan2 youtube Bali tempo dulu. Tidak nerhenti disitu, ternyata di Jawa jaman pra kolonial perempuan juga tidak menutupi buah dada nya begitu juga dengan wanita2 di bugis makasar. Di Papua sampai detik ini masih sangat eksis perempuan tanpa penutup buah dada. *disertai foto2 sebagai bukti.
Pertanyaan sekarang bukan soal menutup atau tidak menutup buah dada, tapi lebih kepada kenapa dahulu dengan wanita tidak menutup buah dada dunia berjalan dengan normal, laki2 melihatnya dengan biasa2 saja, aturan2 dan norma berjalan dengan baik, kriminalitas terhadap perempuan tidak tercatat merajalela, bahkan di Bali wanita tetap sangat di junjung tinggi kehormatanya. Sekarang? Boror2 tidak menutup buah dada, baru pake youcansee aja, niat sudah heboh dan dijadikan alasan bahwa perempuan lah yang salah hingga mengundang hasrat lelaki.
Apa yang berubah? Apakah cara pandang seksualitas bisa berubah? Atau dengan mudah bisa diartikan bahwa hasrat seksual itu tergantung pada rasa penasaran? Ketika buah dada tidak ditutup laki2 pun tidak berhasrat melihatnya, tapi justru dengan ditutup laki2 langsung penasaran dan ,enciptakam hasrat disana?
Selama ini wanita selalu menjadi kambing hitam terhadap kekerasan dan kriminalitas yang terjadi pada mereka. "Sukurin diperkosa, salah sendiri aurat dipamerin". Trus bagaimana laki2 dahulu yang melihat buah dada setiap hari?? Kok tidak ada pemerkosaan dengan alasan buah dada di jaman dulu?
Masuk ke tataran psikologi dan seksologi. Apakah cara pandang seksualitas manusia bisa berubah? Buah dada merupakan objek seksual atau bukan? Kok bisa laki2 dahulu dan sekarang bisa berubah fokus pembangkit hasratnya?
Tulisan gila di malam hari ini tercipta sebagai perenungan, sekalipun fulgar ini jadi pertanyaan yang lumayan idealis. Segala sesuatu dipengaruhi oleh cara pandang, termasuk objek seksualitas. Sepanjang kita berfikir itu porno akan menjadi porno termasuk tulisan ini, namun sepanjang kita tidak menganggapnya porno dan biasa aja, itu akan menjadi biasa aja termasuk foto2 yang saya lampirkan. Jangan lagi salahkan objek nya, perbaiki isi otak kita. Atur dengan baik sqich on dan swich off cara kerja otak kita. Kapan dipakai untuk seksualitas kapan dipakai untik hal2 pandangan yang lain.
Selamat malam, semoga mencerahkan smile emoticon

1 komentar:

  1. bagus juga nih tulisannya

    http://www.marketingkita.com/2017/08/distributor-mencari-produsen-menurut-ilmu-marketing.html

    BalasHapus